Ada Apa dengan Maut dan Kecerdasan Seseorang?

Ada Apa dengan Maut dan Kecerdasan Seseorang?

ada apa

Jawaban-jawaban Nabi Muhammad Saw emang ‘out of box’ dan bener banget ya, Bro-Sist. Begitu beliau ditanya tentang ‘siapa sih orang yang paling cerdas?’ pun, jawabannya bukanlah seseorang yang nilainya sempurna, yang jago ilmu-ilmu eksak, yang hapal kamus segala bahasa, yang nemuin sosmed, dst. Melainkan… ‘mereka yang senantiasa mengingat kematian (mempersiapkan diri sebelum mati).’

Banyak sekali dukungan terhadap jawaban beliau ini. Bagaimanapun, hidup di dunia memang tak akan pernah menyatu dengan keabadian. Segala sesuatunya fana, mudah rusak bahkan lekas punah. Keabadian hanya ada di ‘dunia lain’, di kehidupan setelah kematian… Wuih, jawaban Rasul Saw kita memang luput dari kekeliruan ya, Bro-Sist.

Nah… beberapa hari di bulan Agustus kemarin, dua orang perempuan datang ke kios ibu. Raut mereka datar.

“Beli kain kafan, Bu.”

“Berapa meter?” Aku yang bertanya.

“Seukuran satu orang aja, biasanya berapa, ya?”

“Sepuluh meter aja,” jawabanku ‘direstui’ Ibu.

Jadi deh aku mempersiapkan kain putih beraroma khas itu. Sementara ibu mengobrol dengan kedua pembeli. Kudengar, mereka membicarakan seseorang yang menjadi latar belakang pembelian kain kafan tersebut. Dia adalah gadis yang hendak masuk SMA (sebut saja F). Belia sekali. Kain itu sendiri dibeli untuk mengganti kain kafan yang telah dipakai sang gadis.

Sambil kuukur kain tersebut lalu melipatnya, informasi demi informasi mengenai kematian gadis tersebut terkuak. Ternyata F meninggal karena kecelakaan maut. Ceritanya, dia pulang bermain dari salah-satu objek wisata bersama rekan-rekannya. Dia memutuskan untuk mengendarai motornya sendiri dan membonceng temannya, padahal dirinya sendiri belum terlalu mahir.

Di suatu tikungan, dia dan kedua motor yang dikendarai teman-temannya menghadapi truk pengangkut kayu. Kaget sekali teman F yang duduk di jok belakang, sebab temannya itu terkesan memacu motor dengan cukup cepat. Ia pun sempat menyenggol F untuk mengingatkannya. Sayang, F melanjutkan niat untuk menyalip kendaraan di depannya.

Singkatnya, motor yang mereka tumpangi itu lepas kendali dan ambruk. Teman yang F bonceng terpental ke pinggir jalan, semantara F sendiri… (mohon maaf untuk tidak menggambarkannya secara detail) dia telah terkapar di kolong truk. Sang teman yang hanya memar dan lecet ringan segera menghampiri F. Tubuhnya telah terdiam, detak jantungnya berhenti. Innalillaahi wainna ilaihi rooji’uun. F meninggal di tempat.

Usai kedua ibu-ibu itu pergi, aku berdiskusi dengan ibu. Mengenai kematian dan kemisteriusannya. Betapa maut bisa tiba-tiba datang… tak peduli di mana, siapa orangnya, berapa umurnya, sedang apa dia, kapan waktunya dan caranya meninggalnya bagaimana.

Banyak hal yang bisa aku peras dari penuturan ibu. Termasuk, kita jangan percaya diri terlebih dahulu dengan usia muda dan jasmani yang sehat-sentosa. Bahkan, bayi yang baru mendiami rahim pun bisa segera menjemput ajalnya. Apalagi kita, yang entah, udah berapa milyar detik bernapas dan berbuat dalam hidup.

Mesti cerdas. Lebih mempersiapkan diri untuk kehidupan yang abadi. Mudah-mudahan hidup kita, jika mesti berakhir, bisa mencapai akhir yang baik dan indah. Semoga. [#RD]

*15 September 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *