Ada Lowongan Kerja Saat Bekerja

Ada Lowongan Kerja Saat Bekerja

kerja untuk mendapatkan uang

Bekerja? Apa tujuan kita bekerja? Apa hasilnya?

Bekerja, merupakan hal-hal yang kita lakukan demi menjaga keberlangsungan hidup ya, Bro-Sist. Tak ayal, sebagian besar dari kita bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk makan, minum, berpakaian, atau bahkan membeli alat elektronik, gadget, ke objek wisata, sekolah/kuliah, nonton film, nonton konser, melakoni hobi, dst. Ada yang mati-matian – sampai keluar istilah ‘banting tulang’ – ada yang santai-santai.

Ajaibnya, kadang kita kerap merasa belum cukup. Kebutuhan ini lunas, kebutuhan lain mengintai. Terlebih sekarang-sekarang ini, kebutuhan primer tak hanya sandang dan pangan, melainkan pulsa juga. Wehehe. 😀

Aku pribadi kadang merasa gimana ya, saat ditanya apa pekerjaanmu? Jawabannya bisa membantu ibu di kios, mengajar les, penulis status fesbuk, update postingan di rosediana.net, dst. Eh, apa iya semua itu termasuk pekerjaan? 😀

Sebab, apa yang kulakukan sehari-hari, sebenarnya, belum bisa dikatakan ‘untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari’. Toh, segala keperluan hidup sudah ada yang menangkisnya. Siapa lagi kalau bukan ibu dan bisnis sederhananya? Terus lagi, aku tidak merasa ‘sedang bekerja’. Mungkin, karena job yang kulakoni tak seperti pekerjaan pada umumnya – yang terlalu menguras waktu dan keterbatasan gerak. Atau mungkin juga, aku masih meni’mati semuanya. Setidaknya, sampai saat ini.

Lalu pada suatu senja saat aku baru pulang dari LKP dan anggota keluarga tengah berkumpul…

“SMA-nya jurusan apa?” sms dari seorang teman.

“IPA. Kenapa?”

“Mau gak, kerja jadi analis di perusahaan aku?”

Aku tidak langsung menjawabnya. Sebenarnya pertanyaan itu tidak terlalu rumit. Aku tinggal menjawab iya atau tidak. Bedanya, tawaran itu datang saat aku sudah punya kesibukan. Jadi pertanyaan sebenarnya adalah… mau gak aku ninggalin kesibukan lama dan beralih ke kesibukan baru? Kalau tawaran itu muncul saat benar-benar menganggur sih, pasti deh aku menyambutnya dengan suka cita.

Kalau sekarang? Jika jawabannya ‘iya’, maka aku akan bekerja bersamanya. Dari Senin sampai Sabtu, jam delapan sampai jam empatan dengan posisi dan gaji yang langsung lumayan. Jika ‘tidak’, aku akan tetap seperti sekarang. Dan tentu, gajinya masih jauh lebih ramping. Tapi hey, setidaknya bagiku saat ini, pekerjaan itu tidak melulu soal bayaran, ‘kan?

“Nanti aku ajarin caranya,” Dia sms lagi dan aku masih bergeming.

“Ada tawaran kerja dari teman,…” kubacakan sms dan menerangkannya pada ibu dan saudara-saudaraku. Soal pekerjaan dan gajinya yang lebih besar.

Meski jawaban versi diriku sendiri sudah kugenggam, namun aku penasaran – ingin tahu pendapat mereka. Dan orang yang paling kutunggu jawabannya, Ibu, terdiam. Ia seolah-olah ingin memberi kesempatan pada yang lain dulu.

“Kalau di perusahaan itu kemungkinan akan begitu-begitu saja,” kata kakakku, mungkin maknanya bekerja di perusahaan itu akan cenderung membosankan. Kalau benar begitu, aku kurang tertarik.

“Belum lagi nanti Iyang bakal bekerja dari pagi sampai sore tiap hari,” Ibu bersuara.

Sebenarnya aku paling keberatan dengan beliau. Sudah menguliahkan dengan segenap jiwa-raga, kini lulusan yang dibanggakannya (aku) belum bisa membantu banyak. Terlebih dua adikku kini juga kuliah. Jadi aku rasa, tawaran pekerjaan dengan gaji lebih besar adalah kesempatan bagiku untuk membantu beliau lebih dan lebih lagi. Kalau beliau memberi restu, berat gak berat, aku akan mengamini tawaran itu.

“Di perusahaan daerah xxx itu?” tanya adik pertamaku, lalu tersenyum-senyum seperti tergiur dan aku menjawab dengan sekali anggukan. Adikku yang kedua juga hanya mesem-mesem.

kerja untuk apa, lowongan kerja kuningan jawa barat, lowongan kerja cirebon

Tak dipungkiri, secara emosional, aku memang diliputi rasa penasaran. Kerja di sana seperti apa sih? Seru kali ya, kalau tempat kerjaku agak jauh dari rumah? Pagi berangkat, sore pulang? Naik kendaraan umum, menikmati perjalanan yang sedikit lebih panjang, berpacu dengan waktu, bergumul dengan orang-orang, kerja, istirahat, dapet uang agak tebal, ah… Tapi, gimana dengan anak-anak les? dengan ide tulisan? dengan emosi yang terpendam? dengan layar yang melompong? blog ini? Terus, apa aku cocok sama pekerjaan yang akrab dengan science? analisis? laboratorium? (dahi bergelombang) Fiyuh!

“Siapa tau ini ujian buat kamu, Iyang,” kata kakakku lagi, “Lakoni saja yang udah jalan sekarang.”

“Iya,” Ibu setuju. Aku menyimpulkan, ibu ingin semuanya seperti sekarang. Leganya, jawaban mereka senada dengan kata hatiku. :’)

Berbekal diskusi yang tak cukup seru itu, karena tiada perdebatan berarti 😀, aku balas sms temanku.

“Gimana kalo aku tawarkan sama teman?”

Balasannya agak lama, “Siapa? Background-nya apa?”

“Dia xxx, jurusan Biologi S1.”

“Boleh, tapi cepat, ya. Besok kalo bisa berkasnya sudah ada, biar nanti saya urus dengan cepat juga. Urgent nih!”

Aku mengirim sms ke dua simcard temanku itu. Kebetulan dulu dia pernah berpesan, kalau ada lowongan pekerjaan, khususnya yang sesuai dengan jurusan, call me. Dan dua pesan itu mendarat sempurna. Namun dari menit ke menit, sampai beberapa jam, belum ada balasan. Apa dia sudah tidak butuh pekerjaan? Maksudnya, mungkin dia sudah punya pekerjaan dan sekarang lagi sibuk.

“Boleh Si xxx? Dia jurusan Ekonomi sih, tapi SMA-nya IPA,” kutawarkan orang lain. Kuyakin temanku itu akan menerimanya, sebab orang yang aku rekomendasikan masih satu SMA dan dia mengenalnya dengan baik.

“Jangan, bukan spesialisasinya.”

Lha, kenapa? Dia ‘kan sebelumnya menawari pekerjaan itu padaku? SMA-nya sih iya, jurusan IPA, tapi sekarang ‘kan ambil Bahasa Inggris?

Duh, siapa lagi temanku yang sedang butuh pekerjaan dan berasal dari Biologi? Mau menawarkannya ke seorang sahabat, kondisi kesehatannya sedang kurang baik. Lagipula aku pribadi tak tega. Ke yang lain, sudah jarang kontekan. Ke sesama anak Bahasa Inggris? Anak Ekonomi aja ditolak? Ke orang lain, siapa?

“Beri waktu sampai besok siang, kalau xxx dari Biologi itu belum membalas juga, angkat tangan deh.”

“Iya.”

Dan, detik demi detik bergulir. Matahari tenggelam lalu timbul kembali. Kotak pesanku tak dihiasi balasan yang tengah kutunggu. Akhirnya, sesuai kesepakatan, kuserahkan lowongan kerja yang strategis itu pada asalnya. Terserah dia mau menawarkannya lagi pada siapa.

“Ya sudah, aku angkat aja seorang anak buah. Kebetulan pekerjaannya selama ini bagus,” kata temanku itu. Ya sudah, alhamdulillaah.

Aku sendiri bertanya-tanya, ke mana xxx? kenapa dia menjudesi pesanku? apa tak suka, sedang marah, atau aku pernah melakukan kesalahan fatal apa gitu, ya? Hohoho :O

Jawaban dari rasa penasaranku baru muncul setelah beberapa hari kemudian. Tepat saat aku membuka akun fesbuk, terdapat beberapa pesan. Salah satunya dari xxx. Dia bilang, dua simcard-nya dipaketkan untuk internetan – tak ada jatah untuk sms dan telpon. Hummm, oke deh. Yang terpenting, aku dan dia tidak memiliki kesalahpahaman lagi. Semuanya sudah jelas dan pekerjaan itu sudah dipegang oleh orang yang lebih tepat, menurut-Nya. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *