Ada yang Menebak “Teman Dekat”

Ada yang Menebak “Teman Dekat”

close friend

Allah Swt. meng-ACC salah satu keinginanku untuk memiliki anak didik tingkat SMP/Mts. Tanpa kuduga, Pak Yudi dan Pak Iwan memberi amanah padaku untuk meng-handle anak-anal dari Mts Al Rasyid. Karena itu, aku sama sekali tak keberatan. He he he

Kusambut mereka dengan suka cita. Kegiatan Belajar – Mengajar kumulai dengan biasa. Namun ternyata mereka ini amat pendiam dan pemalu. Jadi terkesan lebih ‘dingin’. Entah karena sifat pribadi atau karakter kelompok mereka sendiri. Karenanya, kurasa perlu pendekatan lebih pada mereka.

Kupancing mereka dengan cara bercanda, mengajak ngobrol seputar sekolah, hal-hal pribadi (misalnya alamat, hobi, cita-cita, dst), memberi pilihan-pilihan (dalam mendesain halaman kerja, water mark, meng-insert sesuatu, dst). Tak hanya berhenti di situ, aku pun menanyakan nomor ponsel. Memang penting, kalau-kalau suatu saat nanti ada apa-apa.

Usahaku perlahan membuahkan hasil. Pada pertemuan ke 3-4, mereka mulai berani bertanya, tidak canggung ketika kuperiksa hasil kerjanya, bercanda, tertawa, mengemukakan pandangan pribadi, dst. Alhamdulillah, kemampuan mereka pun berangsur-angsur berkembang.

Sampai suatu malam, satu dari mereka (H) mengirim pesan singkat. Awalnya hanya ucapan salam. Lalu membicarakan hal-ihwal kursus dan materinya, lalu perlahan ke ranah pribadi sampai yang tidak penting sekalipun.

Namanya juga anak SMP, gaya nulisnya disingkat-singkat, penuh emot dan tak konsisten. Kadang berbahasa sunda, kadang juga Indonesia. Kadang memanggil “Bu”, kadang jua “Teteh”. Namun bahasanya tetap halus.

Mau terus aku balas, gimana? Mau stop saja, juga gimana? Di satu sisi, arah sms-an sudah tak lagi primer. Namun di sisi lain, inilah saatnya aku berdekatan dengan adik didikku. Sudah bagus dia berani menyapaku secara tidak langsung. Aku pun memutuskan untuk membalas pesan-pesannya. Proses sms-an kami berpola tanya-jawab-tanya-jawab.

Pola tersebut berubah ketika tiba-tiba dia mengirim pesan dengan karakter yang panjang. Barulah saat itu aku bertanya. Penasaran juga, soalnya. Hehehe. Ini asli, tanpa rekayasa. Isinya tidak aku ganti, melainkan awal-akhirnya saja yang tak ku-publish. Tulisannya kuubah jadi utuh, tak disingkat-singkat. Dia menulis:

……………. ibu, saya mah bisa menafsirkan pacar ibu:

  1. Orangnya yang pasti ganteng
  2. Pasti baik deh…. agak pendiam di hadapan orang
  3. Orangnya tertutup
  4. Kalo di hadapan ibu orangnya romantis, lucu, humoris, ramah
  5. Kalo di hadapan orang lain paling juga tersenyum
  6. Kulitnya putih, tinggi
  7. Orangnya udah terbilang sukses……………………

“Kok bisa nebak gitu?” barulah aku bertanya.

Hehe… nggak kok bu itu mah iseng doang… nggak tau, hehe. Tapi dilihat dari ciri-ciri cowo/cewenya… mudah-mudahan lebih dari itu ya, Teh. Aamiin….

Setelah lama sms-an, aku kecolongan satu hal; ini anak ‘kan pendiam, jauh lah dari komunikasi sms-an sekarang. Ternyata dia kepo, genit dan manja juga. Hehehe. Anak remaja lagi ranum-ranumnya mungkin, ya. Rata-rata memang seperti itu. Hehehe. Sampai keesokan harinya, temannya, ikut-ikutan mengirim sms. Dengan gaya dan rasa ingin tahu yang senada. Duh, ada-ada aja. 😀

Begitulah another side dari adik didikku, yang baru kuketahui ketika kami berinteraksi tidak langsung. Akhirnya, ku-aamiin-kan saja penafsirannya tentang “teman dekat”-ku itu. ^_^ [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *