Agenda Kegiatan Pameran Kursus dan Hari Kompetensi Nasional

Agenda Kegiatan Pameran Kursus dan Hari Kompetensi Nasional

Hari pertama pamera kursus dan hari kompetensi nasional

morselsofbread.net

Sabtu, 29 November 2014

Kukucek-kucek mata. Terdengar suara. Rupanya dari televisi yang masih menyala. Daku dan dua teman sekamarku, Teh Entin dan Teh Yulia, memang sengaja enggak mematikannya. Tapi sebenarnya hal ini enggak patut ditiru. Radarnya itu mengganggu, bikin malam yang melelahkan tidak bisa dinikmati dengan leluasa.

Masih dalam keadaan malas-malasan, kami mandi. Kalau dua seniorku itu sholat, daku nonton televisi, memainkan ponsel dan sambil ngemil cracker juga wafer. Tak lama kemudian, pintu diketuk. Kubuka dan di hadapanku nampak Bu Iyet dan Bu Nani. Keduanya sudah rapi, lengkap dengan seragam batiknya. Daku jadi malu sendiri.

“Kita mau ke bawah dulu, ya. Ngambil buat nanti makan,” ucap beliau yang kuangguki saja.

“Ke bawah, yuk? Sarapan,” ajak Teh Entin setelah keduanya berlalu.

“Jangan pake batik, ya?” usulku, “Kita ‘kan mau persiapan buat deville, nanti juga diganti lagi jadi kebaya. Sekalian aja.”

Keduanya setuju. Kami lalu keluar kamar. Karena pegang kartu, maka daku yang mesti menggunakannya untuk turun dari lantai enam ke dasar. Sebenarnya banyak yang mengeluh, kenapa lift juga mesti memakai kartu elektrik itu. Tapi ternyata, khusus untuk turun lantai, aturan itu enggak berlaku. Kita bisa menggunakan lift dengan manual.

Setibanya di lantai dasar, kami disambut petugas hotel P. Daku baru sadar, sesuai dengan ‘maklumat’ yang ditempel di lift, sarapan memang tersedia pada pukul 07.00-10.00. Karena kami tiba pukul enam lebihan, maka tak ada yang bisa diperbuat selain minum. Kalau Teh Yulia menyeduh teh manis, daku dan Teh Entin memilih ngopi.

Sambil menunggu sarapan tiba, daku dan Teh Entin mengobrol sambil berpoto. Teh Yulia sendiri memilih bermain dengan layanan internet yang disediakan pihak hotel. Tamu demi tamu tiba dan ikut minum sambil menonton televisi. Geli juga, layar kotak itu menyajikan tontonan ‘Masha and The Bear’.

Singkat cerita, kami menikmati sarapan dengan lauk yang hmmm… lumayan menguarkan opini para tamu; ikan teri dan sayur asin (daun sosin yang diasinkan). Beruntung ada kecap manis, daku jadi tertolong. Alhamdulillaah, sarapan adalah langkah baik untuk mengawali aktivitas.

Deville

Pembukaan pameran berlangsung lancar. Tiba ke acara selanjutnya; lomba deville. Kontingen Kuningan mendapat nomor urut ke-24, cukup akhir namun yowislah, mau bagaimana lagi. Kami jadi punya kesempatan lebih banyak untuk mempersiapkan diri dan menonton iring-iringan dari kabupaten lain. Nah, khusus postingan kali ini daku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya (lagi) pada Bu Iyet yang sudah memoleskan riasannya dan Bu Awit yang sudah memakaikan kerudungnya.

Iring-iringan dari kabupaten kami yaitu Bu Iyet dan buyungnya, Bu Nani, Indah, daku, Teh Entin, Teh Yulia, A Fajar, Pak Adi, Pak Yudi dan Pak Andi. Kalau saja Om Yudis dan Bu Awit ikutan, pasti suasananya makin meriah. Sayang sekali, Om Yudis kena musibah. Isteri beliau dirawat di RS, sedangkan Bu Awit mesti duduk di kursi undangan khusus dari provinsi.

Pameran Kursus 2014, Hari Kompetensi Nasional, Stand Pameran, Kabupaten Kuningan, PNFI Kuningan

Sebagian Panitia Pameran Kursus 2014 bersama Pak Kasie dan Pak Kabid

Kontingen demi kontingen maju. Ada yang penampilannya seadanya kayak kami, banyak pula yang seperti sudah niat mempersiapkannya. Terlihat dari kostum, banyaknya gerakan, nyanyian dan pokoknya segalanya sistematis gitulah. Alhasil kami yang sedang di bawah panggung hanya saling menguatkan,

“Ya udah, kita sih meramaikan saja, enggak perlu berharap menang.”

Alhamdulillah, respons penonton cukup terasa kuat ketika kami tampil. Bahkan tamu yang duduk di bangku-bangku depan sampai terpingkal, dengan kata lain terhibur. Bisa disimpulkan, mereka itu masuk jajaran orang penting di provinsi Jawa Barat ini. Hehehe.

Daku dkk mesti menghaturkan terima kasih pada ‘maskot’ kami, yakni Bu Iyet dan buyungnya. Beliau tampil nyentrik, dengan busana ‘emak-emak’, bagian belakang besar (karena kami siasati dengan selimut dan jaket) dan memakai kacamata besar. Goyangan dan suaranya juga total.

Stand Pameran

Acara lomba deville selesai. Kami menuju stand Kabupetan Kuningan. Jujur saja, daku melihatnya sangat sederhana. Namun karena tidak membantu dan hanya ‘tahu jadi’, jadi ya udah lah, tetap stand itu jadi tanggung jawab dan kebanggaan kami.

Mataku enggak bisa fokus, maunya menyebar ke stand-stand lain. Pandanganku langsung tertuju ke stand tetangga, Pangandaran. Ada poto seseorang yang cukup menyita perhatian. Ya, Bu Susi, Bu Menterinya jokowi. Kurasa standnya juga sederhana, tapi bagus dan elegan, dengan produk andalannya berupa jambal roti.

“Teteh!” Dini menyahut sambil menarik lenganku, “Ditato hena, yuk?!” telunjuknya mengarah ke stand Cirebon.

Di sana ada seorang laki-laki yang sedang dikerumuni pengunjung. Rupanya dialah seniman tato hena itu. Para pengunjung tengah antri menanti giliran.

“Ayo, Teh,” anak Cirebon mengompori dan daku pasrah saja ketika menuliskan nama, menjadi salah-satu dari antrian.

“Sekarang baru nomor berapa, Teh?” tanyaku, lalu telunjuknya mengarah ke angka yang jauh dengan urutanku berada.

“Ah, gampang sama tetangga mah,” bisik wong Cirebon yang lain, membuat kami menyeringai. Kami lalu kembali menonton live proses ukir motif di tangan itu. Tak lupa, daku juga mengeluarkan kamera digital dan poto sana-sini.

“Neng Dian potoin, ya,” Teh Yulia yang sibuk jadi ‘penerima dan perayu’ pengunjung berkata. Aku hanya mengangguk dan sedikit merasa aneh, soalnya sampai lupa sama stand sendiri. Wkwk. Akhirnya, daku pun sadar mesti mendokumentasikan kegiatan di stand Kuningan.

“Teh, ayo!” Dini lagi-lagi menarik tanganku, rupanya kami berhasil ‘menyalip’ antrian. Tangannya sudah diukir dengan motif ‘love’. Tadinya kami mau kompakan, namun daku agak keberatan. Pas bagianku, sempat mau tersembul motif ‘music’, namun urung. Kurasa motif tersebut sudah tersemat di banyak tangan.

“Mega mendung!” cetusku spontan, begitu melihat batik Cirebon yang ada di stand tersebut. Sang seniman pun mengangguk, menyanggupi.

Daku tak melepas mata dari tangan sendiri. Dia memang lihai. Sampai beberapa saat kemudian, selesai. Antrian kembali mendesak. Daku kemudian memberi jalan pada seorang gadis yang terlihat sudah lama menunggu. Lagipula daku ngaku salah, sudah menyalip entah berapa orang. Haih!

“Neng Dian kartu kita di mana?” tanya Teh Entin.

“Di tas, Teh. Tasnya di Dini,” timpalku, masih tak beranjak dari tempat.

“Teteh kok lama sekali? Tadi perasaan aku cuma bentar?” interogasi Dini begitu kami di stand Kabupaten Kuningan, sebenarnya pertanyaan itu enggak bisa daku jawab. Mau daku tahu?!

Masih berkebaya, daku putuskan untuk jaga stand saja. Lebih tepatnya berada tak jauh-jauh dari stand, sambil curi-curi poto pemandangan lain. Maklum, banyak yang berkostum aneh. Misalnya baju dari kok badminton, para pengantin yang tingginya ‘alamak bikin iri’ atau dandanan lucu lainnya.

Waktu merambat dengan cepat. Tak terasa sudah siang. Kami makan nasi padang. Baru kusadari, Teh Entin dan Teh Yulia sudah tiada. Mungkin mereka ke kamar. Sementara daku masih bersama Dini, Pak Kasie, A Fajar, Bu Iyet dan Bu Awit. Bayangkan, kami lesehan di mall untuk makan. Tepatnya di belakang stand, soalnya kalau di dalam stand tentu enggak bakal enak dipandang. Dan enggak ada jalan lain selain cuek. Peserta lain juga melakukan hal yang sama. Haha. Makanannya, hmm… sebenarnya daku lebih condong ke makanan Sunda daripada nasi Padang. Jadi maaf ya nasi dan lauk-pauk, daku enggak bisa melahap kalian semuanya.

Kami kembali ke stand. Ternyata banyak sekali orang Bandung yang asli Kuningan. Mereka datang untuk silaturahim. Entahlah, rasanya amat senang. Mereka mengobrol soal Kuningan dan kulinernya yang masih khas sampai sekarang; tape ketan dan jeruk nipis peras. Ngomong-ngomong, oleh-oleh ini jadi primadona. Banyak sekali pengunjung stand yang menanyakannya.

Padahal pameran yang kami jalani ini ‘Pameran Kursus’, namun sosialisasi LKP di Kabupaten Kuningan jarang terlontar. Pengunjung sudah bisa membacanya di stand. Daku dan panitia lain paling menjawab pertanyaan tamu seputar produk-produk khas Kota Kuda ini, baik batik maupun makanannya. Kecuali yang kebaya, produk LKP Juliana Jaya yang berhasil memenangkan perlombaan, daku enggak bisa menjawab pertanyaan seputar baju jenis ini.

“Maaf, Bu. Kami hanya memampangkan karyanya, sementara kreatornya sendiri enggak ikut pameran. Jadi maaf kami belum bisa menerangkannya secara detail,” alasanku pada seorang ibu-ibu muda yang bertanya seputar payet dalam kebaya.

“Kepada para peserta merias wajah dimohon agar siap-siap. Pelaksanaan lomba akan dimulai pada pukul 16.00-18.00 WIB.”

Suara yang berasal dari tempat panitia pameran Provinsi Jawa Barat cukup mengagetkan. Bukan karena volumenya yang keras, melainkan isinya. Peserta merias wajah dari kabupetan kami, Teh Yulia, pasti tak tahu waktu lombanya. Dia menyangkanya nanti malam. Haduh! Daku cepat-cepat menghubungi Teh Entin.

Daku banyak berbasa-basi dengan pengunjung, mengajak masuk atau cuma meminta tanda tangan mereka. Tapi daku memilih untuk tidak menetap di kursi belakang meja, melainkan berdiri di depan stand sambil memeluk buku tamu. Kalau digambarkan sih, daku menjaring pengunjung untuk kemudian ‘diserahkan’ pada Bu Awit. Beliau begitu lihai menjual produk kami. Yang tadinya enggak berniat beli, jadi beli. Yang tadinya beli sedikit, jadi banyak atau yang tadinya beli satu jenis jadi merambat. Hehehe. Kolaborasi kami itu menyebabkan berbagai kerupuk hampir ludes. Apalagi tape ketan dan sirup jeruk nipis! Phew!

“Neng ngebakso, yuk?! Dari tadi kita di stand terus?!” ajakan Bu Awit bikin dilema; dua jam yang lalu daku sudah makan walau enggak full, daku sedang berusaha untuk mengecilkan perut yang membuncit tapi… bakso bening dengan kecap yang banyak dan sedikit campuran cabe adalah ide baik untuk saat ini.

“Yuk!” Aku melirik ke Bu Nani yang baru datang dengan tatapan ‘gantian-jaga-stand-ya?’.

Kami ngebakso di depan mall. Harganya masih bisa ditolerir, sepuluh ribu bakso biasa dan dua belas ribu untuk jenis yamin. Minuman teh manisnya pun tiga ribu. Kurasa ini keputusan bijak, jadi kedai baksonya enggak terkenal mahal. Apalagi rasanya juga enggak mengecewakan. Pelanggan bisa balik lagi dan lagi. Hehehe. Dan, ah iya! Terima kasih, Bu Awit, buat traktirannya. *smile*

Sudah jam tiga. Daku, Bu Awit dan Bu Iyet diminta istirahat. Kuantar dulu dua ibu-ibu ini ke kamarnya. Bu Iyet ke kamarnya sendiri, sementara Bu Awit numpang ke kamarku dan dua seniorku. Maklum, beliau kebetulan nginepnya di hotel yang berbeda.

“Ayolah tidur dulu, atau santai dulu,” ajak Bu Awit ketika beliau keluar dari kamar mandi.

Aku yang sudah mandi duluan memang sedang merebahkan diri di kasur, sambil menonton televisi namun tidak fokus. Teh Entin dan Teh Yulia sudah turun dari tadi. Begitu beliau menampakkan diri di hadapan, daku segera bangkit dan berubah pikiran; memutuskan ingin main ke stand saja. Makanya Bu Awit berkata demikian.

“Enggak apa-apa ibu sendiri?” Daku meyakinkan.

Beliau sedang mengoleskan hand body lotion, “Padahal istirahat aja, Neng?”

“Nanti aja, Bu, pengin main euy!” Daku keukeuh, “Dian ke bawah, ya?”

Beliau pun mengangguk. Daku meninggalkannya sendiri dan ke bawah juga sendiri. Walau tanpa kartu, namun beruntung ada tamu lain yang memiliki tujuan sama, yakni ke lantai dasar. Sesampainya di stand, Teh Entin juga merekomendasikan untuk istirahat. Lagi, daku menolak dan memilih mengambil poto Teh Yulia dulu yang sedang lomba. Dua jepretan cukup. Rencanaku selanjutnya adalah mengunjungi setiap stand, namun niat itu buyar ketika seseorang berseru.

“Main yuk, Teh! Keliling, keliling,” Dini mengajak.

Otomatis dia mendapat jawaban ‘yes’ dariku. Ah, perempuan dan pusat perbelanjaan adalah padu padan yang cocok. Walaupun kami cuma window shopping, tapi rasanya segar bisa melihat deretan sepatu dan sandal yang… aih, menggoda!!!

Angka diskon yang fantastis, antara 20-70%, bertaburan. Berkali-kali daku menelan ludah mempertimbangkan banyak hal; “sepatu itu bagus, harganya mahal tapi kayaknya nyaman banget, diskon gede juga, tapi harga jualnya juga kok jadi melambung, gitu? Beneran diskon atau gimana sih? Err… uang segitu sih ada, tapi apa perlu? apa daku bener-bener butuhOy, inget orang rumahMending pake oleh-oleh dulu daripada memuaskan keinginan pribadi, so selfish!” *plak!*

Gini nih kalau pendapatannya pas-pasan, tapi keinginannya muluk!” Daku terus membatin, untung masih sempat berpikir bijak. Weeee. *sigh*

Balik ke stand. Suasananya masih membosankan. Meski di stand, daku enggak bisa kuat lama-lama duduk dan menanti pengunjung. Daku seringnya berdiri di depan stand, selain mengajak pengunjung masuk juga seringnya melengos ke stand-stand lain.

“Teh, jalan-jalan sama aku belum?” kali ini Indah yang mengajak.

“Ayo!” Daku sih semangat-semangat aja.

Kalau dengan Dini, kami lebih menghabiskan diri di lautan alas kaki. Sementara Indah ingin menjamah sampai ke lantai atas. Daku nurut saja, namun tidak berdiam lama-lama di satu tempat. Kecuali ketika di Gramedia dan toko aksesoris, kami sedikit bertahan. Di toko buku, daku menelusuri rak novel dan buku fiksi lain, Indah yang jauh lebih muda dariku memilih buku non fiksi tentang perempuan. Oke juga.

“Indah, tahu enggak sekarang jam berapa?” pertanyaanku muncul ketika kubuka layar ponsel dan kaget melihat keterangan waktunya.

“Jam lima?”

“Jam tujuh, Ndah!” jawabanku membuat mulutnya menganga.

Pulang jalan-jalan, kami langsung disuguhi makan. Kali ini daku emang benar-benar lelah. Rasanya daku akan menolak kalau ada lagi yang mengajak jalan-jalan. Untung enggak ada. Hahaha. [#RD]

*Note: December 20, 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *