Alasan Kenapa Hadiah Barang & Hukuman Fisik Bisa Tak Efektif

Alasan Kenapa Hadiah Barang & Hukuman Fisik Bisa Tak Efektif

anak dan uang

“Hadiah puasa hari pertama itu tas baru. Hadiah puasa hari kedua itu sepatu baru. Hadiah puasa hari ketiga itu baju baru. Hadiah hari ke…”

“Awas ya kamu, kalau main mercon lagi, kakak/ ibu/ ayah/ tante/ paman/ nenek/ kakek/ uwak sambit pake sandal!”

Gimana dengan dua pernyataan di atas, Bro-Sist? Yang pertama bikin kita stress. Sementara yang kedua, bikin sang anak depresi. Hehehe.

Lalu, emangnya memberi hadiah berupa barang itu gak baik? Terus, menghukum secara fisik itu gak efektif? Jom kita simak fakta-faktanya!

Pemberian Hadiah Berupa Barang:

  • Ketika menjanjikan hadiah berupa barang secara terus-menerus, secara tidak langsung kita tengah membentuk pribadi anak matre. Dia bakal terus berharap memiliki barang-barang tertentu, merasakan euforia tersendiri saat menggenggam barang yang diimpikan dan boleh jadi terbentuk ambisi untuk menguasai barang-barang.
  • Teknik memberi hadiah barang juga memungkinkan sang anak jadi seseorang yang konsumtif. Yang dia tahu hanyalah bagaimana meraih uang dan perhatian orang tua demi mewujudkan barang idamannya.
  • Tentu saja, orang tua/kakak/guru bisa tekor. Sebab jika anak sudah dibiasakan dengan hadiah barang, maka dengan sendirinya ia merasa; semakin tinggi prestasi dan kelakuan baiknya, semakin pula hadiahnya. Contoh riilnya, jika dia berpikiran puasa satu hari saja bisa berhadiah tas baru, maka bukan tidak mungkin dia akan berharap dapat yang lebih mahal dan wah ketika bisa tamat sebulan.
  • Sikap baik dan prestasi anak bisa-bisa hanya modus belaka. Ia melakukan apa yang seharusnya itu tidak karena kesadaran pribadi, melainkan karena ada motif tertentu. Mental seperti ini tentu tak baik, bukan?

Pemberian Hukuman Fisik atau Mental:

Hukuman fisik bagi anak

  • Meski masih anak-anak, tapi mereka bisa frustasi juga kalau terus-terusan dihujani hukuman.
  • Hukuman fisik dan mental bisa bikin jera? Buktinya masih saja ada anak yang tetap mbandel meski sudah dipukul rotan sama bapaknya. Ternyata, hukuman jenis ini bisa membuat anak resisten alias kebal terhadap hukuman tersebut.
  • Anak yang tumbuh dengan sistem hukum seperti ini cenderung membiarkan dirinya dihukum. Dia memberontak. Istilahnya, lebih baik dipukul daripada menuruti keinginan orang tua yang tidak sesuai keinginan hatinya.
  • Perlakuan yang diterima sang anak bisa ia terapkan atau lampiaskan pada anak lain atau orang sekitar.
  • Dampak psikologisnya akan berumur panjang. Perasaan terlukai dan jengkel terpendam bisa jadi mengendap dalam hatinya, sehingga ia tak lagi menaruh rasa sayang sayang pada orang tuanya sendiri. Sebaliknya, ia akan tumbuh jadi pribadi yang kasar pula pada sesama.
  • Anak akan merasa terus tak berdaya. Ia merasa lemah dan rendah diri.
  • Hukuman fisik dan mental tak memberi pelajaran atau nilai baik apapun pada sang anak. Kecuali, kita melakukan hal tersebut (baca: memukul pantat atau lengan) karena sikap anak kita sudah berada di tanduk ketidakpatutan. Hukuman tersebut tidak rutin, sehingga anak akan sadar kalau orang tuanya tengah kecewa berat pada tingkah polahnya, bukan pada dirinya.

 Tentu Bro-Sist bisa menambahkan alasan-alasan lain, kenapa hukuman fisik-mental dan pemberian hadiah barang itu bisa jadi sangat tidak efektif, bahkan beresiko. Akhirnya, mudah-mudahan generasi penerus kita bisa jadi khalifah yang baik di bumi tercinta ini. Aamiin. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *