Alat Bunuh Diri Paling Laris dan Favorit

Alat Bunuh Diri Paling Laris dan Favorit

alat bunuh diri paling laris dan favorit, bahaya rokok, siswa merokok

hdw.eweb4.com

“Merokok Membunuhmu.”

Kata-kata di atas sebenarnya sudah sangat mengerikan untuk dibaca, didengar apalagi kalau sampai kejadian. Ironisnya, angka penjualan barang itu meningkat dan laba bisnisnya jadi semakin trilyunan! Malah menurut text line sebuah program berita, ajang pilpres dan piala dunia tahun lalu membuat konsumsi rokok meningkat tajam! Ckckck.

Oke. Di satu sisi, seorang perokok akan bilang; gak merokok itu gak ‘laki’, merokok itu membangkitkan gairah dan kreativitas, merokok itu membakar masalah, merokok itu nikmat, merokok itu bunuh diri perlahan (?), merokok itu membunuhmu – bukan membunuhku (?), sampai-sampai ada yang nyeletuk, “semua yang bernyawa pasti mati, termasuk yang perokok dan bukan perokok. Jadi lebih baik merokok dulu sebelum mati”. Eaelaaa. -_-

Sebenarnya tidak adil, daku menulis dari sisi bukan perokok sejati. So, maaf kalau ada yang kurang berkenan. Daku memang tak terlalu menerima alasan, kenapa banyak mulut yang begitu setia menyedot barang sembilan sentian itu. Yang harganya cukup mahal, yang adiktif, sekali pakai, mengepul, bikin batuk, merusak paru-paru, mengusik kenyamanan napas orang sekitar, dan seabreg ciri khasnya.

Lucunya ada beberapa orang yang menghujat dan menghukum habis-habisan anak yang kedapatan merokok, padahal dirinya sendiri kerap merokok di hadapan anak itu. Tak ayal, banyak remaja pelajar yang sudah kenal bahkan ‘nyobat’ dengan rokok. Bukti kecilnya, kita (khususnya daku hampir tak merasa aneh ketika ada anak SMP/SMA yang mengepulkan asap rokok. Baik itu di jalanan, di angkutan umum, atau di tempat-tempat nongkrong mereka. Eh, rasa-rasanya ada yang salah denganku. Daku secara tidak langsung melakukan ‘pembiaran’ pada keputusan mereka untuk merusak tubuh sedari dini. Tapi kalau mau bertindak, daku ini siapa?

“Beneran, Teh! Uang dari Teteh gak akan aku belikan sama rokok!” kata adik pertamaku, yang sayangnya seorang perokok.

Daku masih mengingat kata-katanya tiap kali kuberi dia uang, sesedikit apapun itu. Daku tegaskan padanya, lebih baik membelikan jajanan martabak, cilok atau roti bakar saja ketimbang memberi uang dan dia menggunakannya untuk membeli rokok. Tapi daku memercayainya. Kupegang kata-katanya.

Hanya saja… selama aku menjadi pengajar di sebuah LKP, selama itu pula aku merasa memiliki ‘anak asuh’. Yang laki-laki, maupun yang perempuan. Aku seperti memiliki rasa ingin tahu atas mereka, khususnya yang berkaitan dengan perkembangan jati diri mereka. Kalau ada yang berprestasi, aku ikut bangga. Sebaliknya, ketika ada yang kena kasus, aku merasa ikut menanggungnya.

merokok membunuhmu

womanonline.co.za

“Gimana ya Ben, murid Teteh ada yang berani merokok di depan Teteh sendiri,” Daku mencurahkan hati pada Beni, adik bungsuku.

“Kalau aku jadi Teteh, aku bakal tindak tegas dia!” jawabnya tanpa ragu, “Pokoknya kalau nanti aku jadi guru, aku akan disiplin, Teh!” lanjutnya lagi, mengingatkanku akan idealisme masa muda. Meski demikian, ku-aamiin-kan niatnya. Dia adalah mahasiswa fakultas keguruan jurusan olahraga. Seiring waktu, kumaklumi ‘jiwa pendidiknya’. Hummm, bagus, mendidik itu mulia, Dik.

Pertama kali melihat seorang muridku merokok secara “live”, darahku serasa menggelegak. Tak habis pikir, kenapa anak sebaik dia bisa ‘tega’ senyum-senyum, menyalakan korek api dan membubungkan asap. Hanya saja posisiku agak ‘kagok’. Kebetulan waktu itu daku pun tengah bersama guru sekolah sang anak. Guru tersebut nampak sudah biasa menghadapinya. Alhasil, aku berpikiran; dia bahkan sudah berani merokok di hadapan guru sekolah sendiri, pantes berani merokok di hadapan instruktur lesnya.

“Yang sopan, dong! Jangan merokok di ruangan les!” Ruly, murid laki-lakiku yang religius, yang datang mewakili isi hatiku. Daku lega masih memiliki murid seperti dirinya.

“Guruku aja gak marah, kamu malah sewot!” balas murid perokok, namun untungnya sambil tetap nurut instruksi Ruly.

Daku ceritakan lagi ‘hambatanku’ menindak tegas murid itu pada Beni. Bahwa guru sekolahnya saja biasa saja. Dia langsung melongo, lalu geleng-geleng. Sama sepertiku, dia menyayangkan semua itu.

“Memang sih, pergaulan pelajar itu identik dengan merokok,” kata Beni, “Aku aja merokok waktu SMA. Malah pernah ditawari ‘minum’, tapi aku ingat masa depan. Rencanaku ‘kan masuk kuliah jurusan PJKR, jadi tubuh ini harus benar-benar bersih. Daripada syaraf rusak, mending nolak aja. Paling waktu itu cuma merokok, ngasih alasan bokis sama minta jatah ‘mentahnya’ aja,” tuturnya. Dasar!

Rencanaku; aku akan menunjukkan sikap tegas. Bahwa daku tidak menyetujui aksi merokok muridku yang masih sebelia itu. Mending kalau uang jajannya sudah enggak minta! Hoho.

Tapi daku juga tak bisa langsung tunjuk tangan, mencak-mencak dan menghujat. Ketika daku mengajar, kuberi contoh soal merokok. Daku juga berencana meminta pendapatnya soal rokok. Selebihnya, daku akan tetap berjuang ‘menyelamatkannya’. Kuyakin masih banyak juga teman-temannya, yang merokok sembunyi-sembunyi.

Well… masih terbayang susah sih, tapi mudah-mudahan dimudahkan. [#RD]

*July 10, 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *