Anak-anak Baru

Anak-anak Baru

anak-anak baru

Minggu, 18 Mei 2014

Antusiasme anak ketika mengikuti KBM pertama cukup jadi modal besar untuk KBM selanjutnya. Dan jadi tantangan tersendiri bagiku, untuk mempertahankan gebu semangat itu…

Hari ini aku mengajar empat kelas, dari jam setengah sembilan pagi sampai jam setengah lima sore. Mengingat keterbatasan tempat, satu kelas terisi oleh maksimal delapan orang. Campuran, antara kelas X dan XI. Sempat ada yang lebihan, namun terpaksa aku meminta admin untuk mengalihkannya. Kurasa, lebih baik sedikit tapi bisa dikendalikan dibanding banyak namun bebas-liar. Heu, kayak apa aja?! -_- Dan, satu kelas akan melaksanakan KBM selama dua jam. Wuih…

Jam pertama. Ada empat orang anak yang hadir. Yang tiga orang izin karena ada acara rajaban, sementara yang seorang sepertinya akan membatalkan diri untuk les. Tak apa. Yang jelas kini, aku begitu terkesan dengan anak-anak – yang secara kuantitas tidak seberapa – namun secara kualitas semangat, begitu hebat. Bahkan, ini pertama kali aku melihat anak les komputer mengeluarkan buku, pulpen dan mencatat apapun yang kutulis, yang kukatakan. Di LKP 1, aku hanya pernah melihat Endah yang mencatat, saat aku menerangkan formula-formula dalam Microsoft Excel 2007. Kalau tidak salah, hanya sekali, lalu tidak lagi.

“Sudah mulai pusing, ya?” tanyaku, begitu kami merangkak dari materi ke materi.

“Namanya juga belajar, Teh,” kata Risma. Aku memang menginstruksikan mereka untuk memanggil ‘Teteh’, bukan ‘Ibu’. Sementara Pak Rian, di kelas sebelah, terdengar meminta anak-anak didiknya untuk memanggil ‘Brother’ ketimbang ‘Pak’.

“Enggak, Teh,” kata yang perempuan kelas X, yang aku lupa namanya, “Malah pengin tahu pengaturan kertas, gitu.”

“Jadi ketagihan, Teh,” sambung Ferdi.

“Penasarang juga,” Iid nimbrung.

Duh, aku tersanjung. Manis sekali. Mudah-mudahan apa yang mereka katakan bukan bentuk dari ‘gombalisasi’, melainkan murni dari hati. Aku pun menjelaskan pengaturan kertas sesuai request mereka. Sayang, waktu kami sudah habis, mengingat anak-anak gelombang dua sudah berjubel di luar.

“Hey, nanti mah datengnya jangan pada telat, ya? Jam delapan udah siap-siap!” kata yang perempuan kelas X. Aku hanya tersenyum.

Kelas kububarkan dan mereka keluar perlahan.

anak-anak baru, anak baru di sekolah, persahabatan

“Nuhun ya, Teh, terima kasih,” kata mereka sambil menyalamiku satu per satu. Deu… so touching!

Jam kedua, muridnya perempuan semua. Awal-awal, semuanya nampak malu-malu dan ragu-ragu. Mungkin takut instrukturnya ini killer atau gimana. Namun lama-kelamaan, masing-masing bisa ‘keluar’ dari sikap diamnya. Bahkan ketika absensi, ada yang dadah-dadah ala Miss Universe. Ada yang bercanda, mengeluarkan tawa khas yang memicu lain untuk tergelak, ada pula yang menyarankan sebuah panggilan padaku,

“Kita panggil ‘Miss’ aja,” katanya.

Miss? -_-

“Teh! Teh! Dia pengin buka kerudung?!” pekik seseorang, ketika kami sudah melangsungkan KBM, “Gerah katanya.”

Dahiku mengernyit, “Boleh aja, ‘kan di ruangan ini semuanya perempuan?!” jawabku, bener gak ya aku jawabnya? Heu.

Proses KBM berlangsung ceria. Mungkin karena kami perempuan semua, jadi canda-tawanya memang khas kaum hawa. Kadang satu obrolan bisa memanjang dan memantik gelak tawa. Aku sedikit merasa lega, sebab mereka datang dari latar belakang sekolah yang agamis, jadi bisa bersikap dengan sangat baik, nyaman. Yang menyenangkan lagi, mereka juga pencatat yang baik. Seakan paham, ilmu tak akan ke mana-mana jika kita ikat dengan menuliskannya.

Jam ketiga, muridnya campuran antara laki-laki dan perempuan. Sejujurnya tenagaku melemah, namun aku yakin mereka ‘tak mau tahu’. Aku mesti profesional juga, menjalankan tugas selayaknya tadi aku mengisi jam pertama.

“Sudah diam aja dulu, makan, minum, istirahat aja dulu,” kata Teh Pipin, membuatku rehat sejenak.

Tadinya aku tak enak, apalagi jika anak-anak sudah tiba dan siap belajar. Namun melihat anak-anak jam ketiga belum lengkap, aku manfaatkan momen luang itu. Untuk sholat, minum dan ngemil. Barulah setelah agak segar, aku kembali ke kelas. Memperkenalkan diri, mengenal wajah-wajah serta nama-nama baru dan menerangkan hal yang sama dari pagi. Phew!

Di kelas ini juga suasananya hangat. Kalau ditilik-tilik, nampaknya mereka merupakan aktivis di sekolahnya. Beda saja tema bicara dan cara menyikapinya suatu halnya.

“Koko itu orangnya baik, ya?” tanyaku pada yang ada di kelas. Sosok anak yang duduk di pojok itu terlihat cukup dewasa dan kemungkinan bisa jadi leader.

“Bijaksana, Teh,” jawab Novi, yang selalu kupanggil Dewi. Selalu tertukar.

“Suka nulis gak, Ko?”

“Suka baca aja, Teh.”

“Nulis juga dong, Ko. Biasanya orang yang suka nulis suka membaca juga, orang yang suka baca belum tentu suka nulis. Tapi biasanya akan tertular untuk nulis,” cerocosku bikin mereka melongo. 😀

Di pertemuan pertama ini metode dan latihanku sama, dari kelas pertama sampai (kemungkinan besar) yang terakhir. Ada sesi di mana aku membuat paragraf kosong, yang kemudian harus mereka isi secara bebas. Selengkapnya seperti ini:

Aku adalah…
Rencanaku tiga tahun ke depan yaitu…
Motivasi terbesarku dalam hidup ialah…

Latihan itu sengaja ‘kuumpankan’. Selain ingin tahu bagaimana mereka mengetik, juga ingin memancing mereka untuk menguarkan unek-unek dan asanya. Semoga mereka termotivasi dengan harapan dan doa yang baik, yang sudah mereka tuliskan masing-masing. Dan seperti yang kuduga, latihan ini cukup memakan waktu lama. Mereka bilang, bukan masalah mengetiknya, melainkan berpikirnya; hendak menulis apa dan bagaimana struktur, pemilihan kata juga isinya. Nah loh, jangan sepelekan kegiatan menulis! Hohoho.

Tak terasa sudah jam terakhir. Kelas senja ini diisi oleh mayoritas laki-laki kelas XII. Dan, hanya ada dua perempuan kelas X yang datang. Seperti yang sebelum-sebelumnya, mereka juga kerap bercanda, namun tetap mencatat.

“Kalian mah baik, ya, suka mencatat,” pujiku, membuat mereka mesem-mesem.

“Biar jadi bukti sama orang tua juga, Teh,” Anisa yang menyahut.

“Aku malah lengkap bawa ini, Teh,” Haerudin mengacung-acungkan odol sama sikat gigi.

Grrrrr…

-_-

Matahari semakin bungkuk dan KBM sudah waktunya kuselesaikan.

“Karena jam terakhir, boleh enggak kalau kalian beres-beresin laptop dan semuanya ini?” titahku, sebenarnya ragu.

“Oh, siap, Teh!” pekik mereka, lalu sigap membereskan kabel-kabel dan bahkan tempat duduknya. Yang perempuan banyak diamnya, sementara yang laki-laki begitu semangat. Baiknya!

“Jangan pulang dulu, Teh,” pesan Teh Pipin.

“Teh, pulangnya mau bareng? Hayuk?” ajak Eri, murid laki-laki yang rumahnya searah denganku.

“Duluan aja, Ri, Teteh ada peru dulu sama Bu Pipin,” Aku tak enak dengan pesan rekanku itu.

“Gak apa-apa, Teh. Saya tungguin,” katanya lalu diam di beranda LKP 2, menatap jalan raya. Sementara teman-temannya yang lain sudah pamitan pulang.

“Takut lama, Ri,” kataku lagi, “Duluan aja, gak apa-apa, terima kasih, ya?” pesanku, lalu aku menghampiri Teh Pipin.

“Kita nge-bakso dulu,” katanya, “Tadi aku beli dua.”

“Waaah, hayuk atuh, Teh,” sambutku girang, terlebih begitu tahu baksonya tidak terlalu pedas.

Senja menua. Aku merehatkan diri dari KBM. Sebenarnya aku menikmati semua proses ini. Lagipula, prosesnya tidak begitu berat. Hanya saja, keletihan adalah hal yang menusiawi, bukan? Heu.

Di hari perdana ini, ada beberapa hal yang menarik perhatianku dari anak-anak; mereka mencatat, seakan kompakan – mereka mengucapkan ‘terima kasih’ sesaat setelah KBM dan mereka nampak akrab satu-sama lain. Tak ada istilah senior-junior, gugup diantara kakak kelas, kikuk ketika bercanda, dst. Padahal mereka itu campuran antara kelas X dan XI. Tapi mungkin itulah mereka, seperti adik-kakak sungguhan.

Ada hal lucu ketika aku hendak pulang. Mih Titin tengah menggendong bayi delapan bulanan. Seolah menjegalku pergi, sang bayi perempuan malah meronta padaku, seolah memintaku untuk menggendongnya. Padahal kami baru bertemu. Aku pun mengurungkan niatku untuk langsung pulang. Kugendong si mungil dan bercanda dengan Teh Pipin, Mih Titin serta beberapa orang yang ada di luar. Alhamdulillah, mudah-mudahan kehangatan dan kenyamanan ini terus terjaga. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *