Apa Kita Terlahir untuk Jadi Pembohong Diri Sendiri?

Apa Kita Terlahir untuk Jadi Pembohong Diri Sendiri?

 apa-kita-terlahir-untuk-jadi-pembohong-diri-sendiri“…berbohong adalah sifat alami manusia, dan tanpa kebohongan spesies manusia mungkin sudah punah.” (Ian Leslie – Penulis “Born Liars – Why We Can’t Live Without Deceit”).

What, ada yang gak setuju sama pernyataan Ian di atas? Siapa? Kenapa?

Hummm… sebelum kita menyimpulkan, mari deh kita baca dan jawab judul postingan ini; apa kita terlahir untuk jadi pembohong diri sendiri? Silakan jawab pertanyaan ini. Kalau gak bisa keras-keras, ya bisik-bisik, bergumam atau udah deh jawab dalam hati saja. 🙂

Atau, gimana sama pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini:

  • (Bagi yang gila selfie atau poto-poto), apa poto profil yang kamu pake atau poto-poto kamu unggah di sosmed itu paling keren?
  • (Bagi yang lagi ikut audisi/lomba/event/kuis/ dst), apa kamu yakin bisa lebih baik dari kompetitor lain dan memenangkan hadiahnya?
  • (Bagi siswa/mahasiswa), apa kamu pantas mendapat nilai paling bagus diantara teman-temanmu?
  • (Bagi pekerja, karyawan, pengusaha, dst), apa kamu merasa ‘berhak’ menerima gaji besar dan apresiasi berlebih dari bos/klien/consumer karena produk/jasamu paling maksimal?
  • (Bagi pemilik akun sosmed di manapun anda berada), apa merasa bahwa hal yang kamu sharing (status, tweet, poto, tautan, dst) adalah sesuatu yang keren/bijak/update/gaul/dst – yang bisa kamu publikasikan ke orang lain (teman-teman dumaymu)?
  • (Bagi blogger), apa kamu merasa kalau site-mu berkesempatan besar memiliki jumlah views yang tinggi, alexa yang menciut, page rank yang bagus, sumber dana yang melimpah, pembaca-pembaca yang setia, dst?

Nyebelin ihk, nanya mulu! Hehe. Sebelum mengajukan pertanyaan ini pada pembaca rosediana.com, Minde terlebih dahulu menjawabnya kellesss. 😀

Jawabannya kebanyakan ‘iya’, ya? Hehe, berarti memang benarlah hasil dari beberapa studi tentang kita (manusia). Manusia cenderung meng-overestimate diri sendiri. Disadari atau tidak, kita kerap merasa; lebih cantik/ganteng, lebih benar, lebih arif bijaksana, lebih strong, lebih bersuara emas, lebih bisa nulis yang baik dan benar, lebih berbakat, dst.

sugesti positif

Itulah yang sering kita sebut sebagai “possitive illusions’ alias ilusi positif, yang terbagi menjadi tiga macam:

Exaggerated confidence in our own abilities and qualities

Pernah gak kita begitu percaya diri pada kemampuan dan kualitas diri sendiri?

Bisa kita lihat contohnya dalam acara-acara pencarian bakat di televisi. Mohon maaf, ya. Tapi suka ada gitu, orang yang pedenya luar biasa. Misal dalam acara pencarian bakat bernyanyi, ada orang yang yakin betul kualitas suaranya setara penyanyi-penyanyi profesional. Padahal begituperform, para juri (yang dengan ‘teganya’ atau mungkin terlalu jujur 🙁 ) menutup telinga, gapai-gapai kamera, geleng-geleng dan menertawakan.

Dalam kasus lain, mungkin kita pernah berada di posisi si peserta pencarian bakat itu. Kita pernah merasa lebih adil, lebih bisa memimpin, lebih pandai bersyukur, lebih taat beribadah, lebih setia, lebih menyenangkan, dst, yang belum tentu kenyataannya demikian. Hohoho.

Unrealistic optimism

Optimisme yang tidak realistis. Pernahkah merasakan hal ini? Misalnya kita pernah merasa akan hidup abadi dengan orang-orang tercinta dan dalam keadaan yang tetap bahagia, atau kita pernah merasa akan terus muda dan berenergi, atau karier kita akan sukses besar dalam waktu sangat singkat (padahal kita masih diremas rasa malas), atau kita percaya diri menyatakan ‘aku akan selalu sehat’ (padahal kesehariannya gak suka olahraga, suka konsumsi ‘junk food’, jarang minum air putih, gemar begadang, dsb), terus masih banyak lagi optimisme yang diluar logika lainnya.

Exaggerated sense of control

Lalu, kita juga suka merasa punya kontrol hidup yang tidak realistis. Memang ya, kadang-kadang merasa yakin betul kalau usaha kita akan segera membuahkan hasil yang sesuai harapan. Misalnya kita begitu yakin dengan ijazah yang dimiliki maka hidup akan sukses (masa muda hura-hura, masa tua foya-foya), atau kita begitu percaya diri bahwa dengan menulis status/tweet bagus maka kita akan cepat terkenal-cepat kaya-punya fans fanatik dan diincar orang untuk dijadikan pasangan, atau kita juga optimis sekali bahwa dengan membuka usaha A maka kehidupan kita akan melesat sesaat setelah usaha dibuka, dst.

Phew!

Pernahkah merasa seperti hal-hal di atas? Begitulah, sebagian besar dari kita (manusia) amat sering membohongi diri sendiri. Sehari-hari kita bernapas dalam ‘ilusi-ilusi positif’, yang baik namun belum tentu nyata. Tapi kabar baiknya… kebohongan-kebohongan itu justeru baik untuk keberlangsungan hidup. Lho, kok gitu?

Jika kita melakukan kebohongan-kebohongan untuk diri sendiri (seperti yang tertera di atas), maka itu berarti ‘kita mau hidup’ dan memiliki passion atau bergairah untuk bertahan hidup. Lihat saja sekarang. Walau orang-orang dengan gelar lulusan SMA atau S1 sudah bejibun, tapi kita tetap giat belajar/kuliah demi hasil yang memuaskan. Dan walaupun karya/bakat kita belum menghasilkan, kita tetap berusaha untuk terus mengasahnya. Atau, walaupun bisnis yang kita rintis belum mengucurkan laba yang diharapkan, kita tetap berusaha dan memanfaatkan peluang yang ada. Bahkan ketika timnas U19 tumbang cepat di ajang sekelas Hassanal Bolkiah kemarin, kita tidak lantas menarik dukungan melainkan tetap men-support mereka agar menang di AFC nanti. Iya, ‘kan?

Tapi, apa ada orang-orang yang teramat realistis dan tidak memiliki ilusi-ilusi positif seperti di atas? Jawabannya a-d-a, ada!

Kalau para psikiater sih menyebutnya sebagai clinically depressed (menderita depresi klinis). Pemikiran mereka justeru sebaliknya; kerap negative dan meng-underestimate, gitu. Padahal menurut Ian Leslie, kita sebaiknya melakukan kebohongan/ilusi positif sendiri untuk maju dan berusaha. Ilusi positif itu mirip dengan wortel yang diikat dan digantungkan di depan seekor keledai. Tujuannya agar hewan itu mau terus gerak maju. 🙂

Kalau kita terus berpijak banget pada realita, hal itu malah bias berbahaya. Bahkan kita bias malas untuk menikah dan ‘melestrasikan keturunan’ alias punya anak-cucu. Kita pun akan ogah-ogahan untuk merangkai mimpi dan berusaha menggapainya. Kalau sudah begini, bukan tak mungkin kita masuk dalam perangkap ‘tak mau hidup’. Hohoho

Hal ini mirip benar dengan system sugesti positif dan negative pada diri kita. Seorang dokter misalnya, bias meyakinkan bahwa obat yang ia kasih itu amat mujarab padahal aslinya biasa saja. Hal itu agar si pasien memiliki sugesti positif dan mendorong kesembuhan yang lebih besar. Gak jarang loh siasat ini berhasil?! Heuheu.

Well, ternyata membohongi diri sendiri itu bisa positif juga, ya? ^_^ [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *