Bikin Kenyang Kagak, Dosa Iya!

Bikin Kenyang Kagak, Dosa Iya!

say no

Pernahkah, kita diberi kuasa untuk membeli sesuatu, lalu kita minta nota kosong pada pedagangnya. Atau, kita join dengan sang pedagang agar harga belinya agak dibengkakkan?

Kalau nilainya kecil, lumayan tuh buat nyumbang-nyumbang ongkos perjalanan atau beli nasi bungkus. Heuheu. Sebaliknya kalau besar, levelnya bukan lumayan lagi, tapi jadi rezeki nomplok!

Wah, gak kebayang kalau para pejabat atau oknum-oknum di berbagai tempat usaha mempraktekannya. Apalagi kalau nilainya sampai jutaan, milyaran bahkan trilyunan. Beuh… sekali praktik, bisa beli tanah di mana-mana tuh! hohoho.

Jadi pada pagi hari yang cerah, tepatnya hari Senin (18 Agustus 2014 kemarin), A Iman – seorang pegawai salah-satu Bank – datang ke kios. Dia memang salah seorang pelanggan kami. Bahkan, dia juga ‘berhasil’ menggaet pimpinan Bank tersebut untuk ikut belanja pada kami. Sehingga pimpinannya itu rutin tiap tahun membeli THR-an untuk para karyawannya pada kami. Entah itu kain sarung, sajadah, mukena, dsb.

“Beli mukena,” kata A Iman, “Yang biasa aja lah…”

“Buat di mana, A?” tanyaku.

“Di kantor, buat sholat.”

“Oh…”

“Berapa?”

“Yang ini limapuluhribu.”

“Iya deh.”

Aku dan ibu sudah lama membicarakan A Iman. Kami mestinya memberi THR atau ‘sedikit komisi’ padanya. Maklum, diantara kami sudah terjalin rasa saling percaya yang cukup lama. Dia kerap belanja dan kamipun tentu ‘tak tega’ memberi harga layaknya ke orang asing.

“Jangan lupa kasih nota,” pintanya, seperti biasa.

Aku patuh. Namun kali ini aku dan ibu sepakat akan menerapkan suatu rencana, yang kukira juga akan disenangi A Iman. Ya, aku akan tetap menulis angka limapuluhribu pada nota. Namun kami akan mengembalikan limaribu lagi dan bisa masuk kantong pribadi A Iman.

“Harganya limapuluhribu, A, tapi kita korting deh lima ribu buat nambah-nambah aja,” kataku pede, “Di notanya mah limapuluhribu.”

“Jangan!” tolak A Iman, “Kalau bisa dikorting limaribu mah, ya udah di notana tulis empatpuluhlimaribu aja,” imbuhnya, bikin aku dan ibu melongo. Antara kagum dan tentu malu. Kagum, karena beliau begitu ‘rapi’.

“Wah A Iman ini baik sekali…”

“Bikin kenyang kagak, dosa iya!” timpalnya sambil senyum, lalu berlalu. Kami jadi tersindir.

Padahal hal tersebut sudah membudaya di Indonesia ini. Bukannya membela diri nih, tapi beneran kami cuma berniat memberi ‘upah’ atau komisi untuknya. Sebab, harga jual pada orang lain memang limapuluhribu. Jadi sama aja dengan kami mengambil keuntungan dari menjual mukena dan sebagian keuntungan itu diserahkan pada A Iman. Insya Allah halal. Bukankah dasar dari kehalalan rezeki itu ada pada keridhoan masing-masing pihak? #CMIIW

Di lain waktu… ada dua orang yang justeru berlaku sebaliknya. Tiap berbelanja, apalagi yang bukan ‘keperluan pribadi’, suka minta harganya di mark up alias ditinggi-tinggikan gitu. Nah saat itulah, pihak sepertiku menjadi pihak paling dilema. Kalau tak dituruti, gimana? Dituruti juga, gimana? Beda halnya kalau mereka membuka ‘sesi diskusi’ dulu dengan kami, lalu menghasilkan kesepakatan yang diridhoi semua pihak. Ini malah ‘mendikte’ harga. Ya Allaah… benar-benar lemah iman kami!

Mereka berdua merupakan perempuan yang cukup dekat dengan orang berpengaruh di daerah kami. Mereka juga memang pelanggan setia kami. Rata-rata nominal belanjanya besar-besar, tapi ‘rewelnya’ itu loh?! -_- Hanya saja, semakin ke sini mereka semakin jarang berbelanja. Tapi sekalinya belanja…

“Toko itu harus punya stempel, biar terlihat lebih profesional, gitu. Bukan cuma nota-nota biasa aja,” Mereka menyarankan.

“O, gitu ya, Bu?!”

“Iya, apalagi sekarang. Apa-apa mesti ada bukti pembelian, cap toko ini, cap toko itu,” imbuhnya.

Kami pun menjalankan apa yang mereka rekomendasikan. Hal ini memang bagus. Jadi selain terkesan lebih profesional, stempel toko akan jadi bukti atau acuan kuat bagi mereka yang diberi amanah.

Dan tak berapa lama kemudian… mereka datang lagi. Belanjanya sih sedikit. Sepertinya merupakan keperluan pribadi. Dan kalau boleh suudzon, belanjanya mereka hanya sebagai formalitas belaka biar bisa mendatangi kios kami. Dan benarlah, ujung-ujungnya mereka meminta sesuatu – yang kali ini – mengguncang hati kami.

“Minta beberapa nota kios, ya? Yang udah dikasih stempel tuh?!” pinta mereka. Bahkan pernah salah-satu diantaranya mengambil nota dan mengecapnya sendiri, sewenang-wenang gitu. Oke, mungkin sudah merasa dekat. Tapi gak segitunya, keles. Ini tanggungannya cukup berat dan serius!

Aku dan ibu saling lirik. Kami sungguh tidak menginginkan hal ini. Tapi pada waktu itu, ibu ‘terpaksa’ memberinya. Hanya saja, jumlahnya tidak sesuai dengan permintaan. Beliau membatasi dan mewanti-wanti agar tidak menggunakan nota kios kami, kalau barang dan belanjanya bukan berasal dari kami.

“Astaghfirullaah… kita berlindung pada Allah,” ucap Ibu, tentu pada saat mereka sudah keluar dari kios. Raut khawatirnya kentara benar.

Namun kejadian itu kami usahakan hanya terjadi sekali. Mereka kembali datang, hanya membeli sedikit (kayaknya sebagai formalitas atau basa-basi belaka) dan meminta hal yang sama. Ibu dengan cerdiknya bilang,

“Duh maaf. Kali enggak bisa ya, Bu. Aku dimarahin Bu sama anakku (maksudnya aku)”

“Emang kenapa?”

“Takut, katanya.”

“Takut… takut… lebih tahu saya lah daripada anak ibu!” serunya, seperti yang ditirukan ibu ketika menceritakan hal itu. Kebetulan aku memang tengah tak ada di tempat.

Sampai saat ini, alhamdulillah mereka belum datang untuk belanja lagi. Ya, mungkin lebih baik kehilangan pelanggan macam mereka daripada mesti ‘ditodong’ syarat berupa nota kosong. Hummm… bener kata ibuku, jadi pedagang itu mesti siap dengan berbagai ujian. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *