Bimbingan Skripsi; Prinsip Umum Penulisan Skripsi

Bimbingan Skripsi; Prinsip Umum Penulisan Skripsi

penulisan skripsi

Sabtu, 16 Maret 2013

Sesuai jadwal, sekitar pukul 2 siang, aku dan kawan-kawan mahasiswa/i yang dibimbing Pak Iwa Lukmana, segera merangsekki kelas. Mungkin karena bimbingan perdana atau karena telah terlalu rindu (hehehe) terhadap calon skripsi masing-masing, aku dan kawan-kawan merasakan semangat luar biasa untuk mengikuti bimbingan.

Setelah salam-sapa, Pak Iwa Lukmana mulanya memberi nomor ponsel dalan alamat email yang bisa dihubungi. Maklum, beliau adalah dosen kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI Bandung). Sehingga, komunikasi langsung seperti ini akan cukup jarang terjadi. Tak ayal, jalan komunikasi tak langsung pun menjadi solusi ampuh.

Berikut rangkuman sederhana yang beliau ‘share’ dalam agenda bimbingan perdana, jom!

Prinsip (sangat) Umum Penulisan Skripsi

1. Skripsi adalah pekerjaan sendiri.
Sejelek apapun hasil karya kita, jika berasal dari ide dan bahasa sendiri, itu lebih berharga. Daripada, ide dan bahasa dalam karya kita itu melangit, namun ternyata hasil mencaplok karya orang lain. Selain menghambat bahkan men-cancel kelulusan, bisa juga dipidanakan. So, No plagiarism!

2. Harus SERIUS menjalaninya.
Serius itu bisa dilihat dari awal pengerjaan skripsi, semisal ketika bimbingan, melakukan kajian terhadap penelitian sebelumnya, mencari sumber, dsb. Kita harus total. Ketika menyelesaikan skripsi, pikiran kita mesti focus dan tak terisi oleh hal-hal yang tidak bermanfaat. Ketika tidak serius, maka salah satu step dari pengerjaan skripsi akan terganggu.

Terlebih lagi, kadang kita tergoda untuk tidak focus dalam menggarapnya. Misalnya ketika mengetik isi skripsi, kadang kita sering tergoda untuk ‘browsing’ dulu, ‘chatting’ dulu, jalan-jalan di dunia maya dulu, dsb. Alhasil, karena godaan tersebut lebih menyenangkan, maka kita kemungkinan besar kalah. Pekerjaan pun tertunda bahkan terbengkalai. So, be serious!

3. Mengandung ‘research’
Research itu terdiri dari re-search. Jadi, kita mesti tahu apa yang pernah dicari orang sebelumnya. Pak Iwa kemudian bertanya,
“What do you think if today someone researches the steam engine?”

Tanggapan kami berbeda-beda. Ada yang jawab ‘bisa saja’, ‘tidak bisa’, dan sebagian diam tanpa pendapat. Sampai akhirnya beliau menjawab,

“Kita akan ditertawakan oleh orang-orang jika hari ini meneliti tentang mesin uap. Namun ketika kita berhasil menggali unsure lain dalam mesin tersebut, maka barulah hal itu akan diapresiasi orang. Jadi intinya, dalam penelitian itu mesti ada ‘something new’.”

Pekerjaan Peneliti :

1. Bab NIAT
Awalnya aku merasa geli mendengar nama bab ini. Namun perasaan itu berubah dalam beberapa menit saja, menjadi kagum. Dalam bab yang ternyata sangat penting itu, niat kita menjadi modal utama pengerjaan skripsi. Entah itu niat untuk menunaikan tugas akhir, niat untuk tidak menjadi plagiat, niat untuk mengembangkan kualitas akademis, niat untuk menumpahkan semua pengetahuan dan skill, dsb. Niat yang baik adalah awal yang sangat baik!

2. Tentukan Topic!
3. Kaji literature secara kronologis; Kapan kajian sebelumnya dilakukan? Apa yang telah diteliti dalam kajian sebelumnya? Apa yang bisa dikembangkan dari kajian sebelumnya? dsb.
4. Penelitian kita akan seperti apa, maka cerminkanlah dalam ‘research’ question’.
5. Tunjukkan pada bab 1; latar belakang.

Hal-hal yang mesti diperhatikan:

1. Latar Belakang

– Realitas sehari-hari (umum/praktis)
Sebutkan realitas yang ada dalam kehidupan sehari-hari (disarankan mengutip dari sumber yang kredibel). Misal:
“Pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia masih ….” (Paijo, 2012; 22).
– Realitas literature, yakni dengan membuat peta kajian.
– Tunjukkan posisi penelitian anda!

2. Hindari penggunaan bahasa ‘narsis’!
Misalnya; In this chapcter, I/ writer/ author/… presents……….
Alangkah lebih baik jika; This chapter presents…………………….

3. Kutipan
Prinsip mengutip:
a. Skripsi adalah pekerjaan anda. Jadi, kalau memasukkan hasil pekerjaan orang lain, maka AKUI sajalah.
b. Apapun yang anda AMBIL dari orang lain, maka patut diakui. Cara terbaik dan tepat tentu dengan menyebutkan sumbernya. Jika tidak, maka anda bisa terkena plagiat ISI.
c. Cara melakukan pengutipan harus benar. JIka tidak, anda terkena plagiat BAHASA.

4. Cara mengutip
 Langsung
– Lukmana (2012, 22) mentions that “…………………………………..”
– According to Lukmana (2012, 22) “……………………………………..”
– “………………………………………………” (Lukmana, 2012:22).
 Tidak langsung/ Paraphrase
Meski paraphrase, namun tetap kita mesti menyebutkan sumbernya, sebab nanti akan terkena plagiat ISI. Syarat mem-paraphrase-kan adalah:
– Mesti PAHAM isi kutipan! Jika belum paham, namun memaksakan diri melakukan paraphrase dan esensinya salah, maka bisa terjadi plagiat ISI.
– Bahasanya harus cukup beda dari isi dan cara bertutur sumber asli. Jika tidak, bisa kena plagiat BAHASA. Kecuali beberapa kata yang memang tidak bisa ditukar dengan kata lain. Misalnya; Tenses, Transitivity, Functional Grammar, dst.
 Kutipan Beruntun
Paling bagus itu memang dari sumber asli. Namun memang kadang ada hambatan untuk mengaksesnya, sehingga kutipan beruntun menjadi alternatifnya. Tetapi tetap saja kita disarankan untuk tidak terlalu panjang melakukan kutipan beruntun. Mungkin anda pernah mendengar game ‘pesan berantai’. Semakin panjang, maka potensi salahnya itu semakin besar.

Sebenarnya masih banyak yang beliau paparkan dalam acara bimbingan skripsi perdana tersebut. Namun semoga postingan di atas bisa bermanfaat. Aamiin…. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *