Cerita Lucu & Inspiratif; Otak Guru VS Otak Murid

Cerita Lucu & Inspiratif; Otak Guru VS Otak Murid

cerita lucu murid dan guru

Bagi sebagian orang, cerita humor-inspiratif di bawah ini telah akrab menjadi bahan bacaan ya, Bro-Sist. Kami menemukannya di beberapa sumber. Namun cerita di bawah ini kami otak-atik sedikit. Hehe. Jom deh kita simak! ^_^

Di sebuah kelas, seorang guru tengah asyik memberi materi pada murid-muridnya. Di sela-sela materi tersebut, ia bercengkerama tentang Tuhan dengan semua muridnya.

Guru : Ada yang pernah melihat Tuhan, gak?

Murid : (diam, mau jawab takut salah)

Guru : Berarti Tuhan itu gak ada, dong? Terus, apa ada yang pernah menyentuh Tuhan?

Murid : (masih diam)

Guru : Nah… jadi Tuhan itu gak ada, ‘kan? (melihat ke sekeliling). Kalau yang pernah mendengar suara Tuhan… ada, gak?”

Murid : (diam lagi)

Guru : Nah… jelaslah kalau Tuhan itu gak ada, anak-anak! (ketawa puas)

Seorang murid di pojok: O, ya?! (awalnya hanya dalam hati)

Tak kuasa melihat dan mendengar polah sang guru, murid itu pun berdiri,

“Maaf, Pak!”

Suara tawa sang guru langsung redup. Murid-murid yang lain pun segera memalingkan perhatian mereka pada murid ‘pojokan’ tersebut. Jadilah semua mata tertuju padanya. Dan ketika kelas mulai hening, murid tersebut dengan percaya dirinya berkata:

Murid pojok: Ada yang pernah melihat otak guru kita gak, temong-temong? Ops! teman-teman, maksudnya~

Semuanya : (diam)

Murid pojok : Yang pernah menyetuh otak guru? Ada?

Semuanya : (masih diam)

Murid pojok : Kalau yang pernah mendengar suara otak guru, ada enggak?

Semuanya : (diam lagi)

Murid : Kesimpulannya… guru kita enggak punya otak!

Menyaksikan ‘kecerdikan’ murid pojokan itu semuanya bertepuk tangan. Malah, dengan kompaknya mereka melakukan standing applause. Berderai airmata haru mereka, ada juga yang asyik ketawa-tawa sambil salto di depan kelas. 😀

Sementara gurunya…

Keringat dingin jelas sekali menyembul dari pori-pori kulitnya. Hatinya gemetar. Awalnya ia ingin marah, sebab merasa dilecehkan oleh muridnya sendiri.

Namun, amarahnya itu lebur oleh rasa ketakutan. Ya, Ia ketakutan luar-biasa atas kesalahan ideologi yang ia ucapkan barusan. Lama-lama, ia mengakui kalau murid yang di pojok itu justeru datang untuk menggertak jiwa dan memberinya hidayah. Walau dengan cara yang cukup nyelekit, namun ia masih beruntung memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. [#RD]

*August 27, 2013

4 Comments
  1. nova tri
    • deeann
  2. prajuritkecil99
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *