Cerita On The Way Kuningan – Bandung

Cerita On The Way Kuningan – Bandung

perjalanan Kuningan Bandung via Cikijing

karenframpton.com

Jumat, 28 November 2014

Sebenarnya daku agak benci, kalau rencana yang sudah disepakati jauh-jauh hari malah diubah. Mendadak, lagi. Tapi mau bagaimana lagi, ini memang terjadi.

Tujuan utamaku yang awalnya ke H Salon, kemudian berbelot. Sesuai hasil pertemuan terakhir panitia Pameran Kursus dan Hari Kompetensi Nasional Kabupaten Kuningan, kami memang akan berkumpul di sana dulu. Namun kemudian info berubah, langkahku jadi mengarah ke Y Salon.

Aku sms Om Yudis, memastikan. Beliau membalas. Ternyata info itu valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Hehehe. Diam-diam daku bersyukur. Pertama, jam 10 pagi aku masih di rumah dan belum sampai ke tujuan awal. Kedua, daku di-sms untuk cepat-cepat datang. Ya, daku senang aja gitu kalau ada yang nunggu *pletak!*. Ketiga, daku bisa pamitan dan salaman sama Mimih. Kita tahu, bepergian tanpa cium tangan ibu itu… ugh, jangan sampai!

Setibanya di tempat sang ketua Panitia Pameran, Om Yudis, kami latihan untuk lomba deville. Semakin lama, semakin mantap saja. Canda-tawa tumpah-ruah. Daku senang, lingkungan baru tapi renyah begini.

Suasana berubah hektik ketika mobil barang datang. Kami mulai mengangkut barang-barang. Hmmm, ralat. Daku dan teman-teman sesama kaum hawa sih enggak repot. Yang bekerja itu kaum adam sama ahli dekorasinya. Kami sih santai-santai aja sambil makan lontong dan tahu. Sayang, siapa sih yang beli tahu? tawar amat. Untung kami lapar, jadi bisa mengapresiasi makanan itu. -_-‘

Jadwal keberangkatan kami tadinya mau sebelum sholat Jumat, bareng dengan mobil barang. Tapi Pak Kepala Seksi Kursus dari Disdikpora menundanya. Beliau ingin jumatan di Kuningan saja. Deu… suka nih sama pria kayak gini; pantang melanggar kewajiban! 🙂

Well, jam 13.09 WIB kami benar-benar berangkat dari jalan jagabaya-Kuningan menuju Bandung. Dua mobil. Mobil pertama; Pak Adi, Pak Kasie, Teh Yulia, Teh Entin, Daku, Pak Andi dan Pak Yudi. Mobil kedua; Pak Asep, A Fajar, Bu Nani, Bu Iyet, Bu Awit, Dini dan Indah.

Kebetulan rute yang ditempuh itu via Desa Darma. Gambarannya; dari Kuningan – Kadugede – Darma – Cikijing – Talaga – (mampir ke Rumah Makan Padang) – Bantarujeg – Cisalak – Lemahsugih – Sadawangi – Jatinunggal – Sumedang – Salado – Manunggal – Wado – Malangbong – Garut – (sholatnya di Kersamanah) – Limbangan – (lewat juga ke Cagak Nagrek) – Cicalengka – masuk tol Cileunyi 1 (antrinya puanjang juga, sampai terjebak waktu maghrib-isya enggak bisa ke mana-mana), keluar tol Pasir Koja, belok ke kanan (arah Leuwipanjang-Cibiru), berhenti sejenak, ada kejadian mengagetkan, (terdengar adzan isya berkumandang), lurus sebentar lalu ke kiri, masuk Jalan Peta dan sampai deh ke Festival Citylink Mall – Bandung.

Kejadian mengagetkannya apa?

Jadi gini, kami sempat menepi dan nunggu mobil barang serta mobil kedua. Waktu itu daku lagi di ambang dunia kesadaran. Hampir saja mau tenggelam dalam lautan mimpi. Maklum, dari jam satu siang sampai detik itu daku belum tidur. Menguap sih sudah, tapi perjalanan yang mengasyikkan membuatku betah terjaga. Dan tiba-tiba,

Brakkk!!!

Sesuatu mengenai badan mobil dengan keras. Kami semua terperanjat. Spontan, Pak Adi keluar. Tepat dari bangku di belakang sopir, daku melihat beliau menghampiri seorang pengendara motor yang kendaraannya sudah jatuh di hadapan mobil.

Dari penampilannya, ‘si penubruk’ itu masuk golongan remaja pencari jati diri. Dia cowok, rambut rapi tapi seperti belum keramas, ditindik, kaus hitam lengan pendek, jeans abu, motor biru, hummm… wajah, alamat sama plat nomornya enggak perlu diekspos, ya. Hehehe.

“Apa-apaan, ente?” gertak Pak Adi, yang sedikit mengagetkanku.

Semua keluar mobil, kecuali daku.

“Kena apanya?” tanyaku dari dalam.

“Bumpernya copot.”

Aku tetap memerhatikan dari dalam saja. Kucuri-curi dengar dia itu lulusan SMP, sudah tidak punya ayah, bawa uang tiga puluh ribu, belum punya SIM tentunya dan tak punya tanda pengenal apapun untuk ditunjukkan. Namun ia beritikad menyimpan motornya sebagai jaminan dan akan pulang untuk memberi uang ganti atau apa lah. Kulihat rekan-rekanku diskusi sejenak.

“Neng Dian,” panggilan Pak Yudi membuatku terusik, “Kameranya jelas enggak kalau ngambil poto malem-malem?” tanya beliau.

Snap!!!

Dua rekanku dan anak lulusan SMP yang menubruk mobil - Copy (2)

Daku ambil gambar dan seseorang di yang duduk di pinggir kursi sopir nampak kaget. Alamak! Daku baru sadar kalau Pak Kasie sudah masuk ke mobil lagi. Sempat kugelengkan kepala, sadar sudah hanyut dalam pemandangan anak muda yang sebenarnya berpotensi ganteng kalau tingkahnya lebih kalem.

“Uh, maaf, Pak.”

“Sampai mau ngambil poto dia segala, Neng?!”

“Mungkin buat bukti gitu, Pak,” jelasku sambil cengengesan, lalu memberikan kamera digital pada Pak Yudi, “Jelas, Pak.”

Barulah daku keluar mobil, dan… sedikit menyesal. Rupanya kondisi jalan becek. Daku udah biasa, hanya saja enggak enak kalau nanti mesti masuk mobil lagi dan mengotori kendaraan tersebut. Tapi hikmahnya, daku bisa menggeliat dengan bebas. Angin langsung menyergap.

Hanya sebentar daku lihat photo shooting singkat tersebut. Si anak muda nurut saja ketika diminta menghadap kamera. Innocent banget. Duh, jadi inget adik sendiri. Dia pastinya tidak memiliki rencana jahat, tapi namanya juga kecelakaan. Terjadinya enggak tahu sopan-santun.

Dua mobil yang kami tunggu di belakang sudah tiba. Daku yang enggak tega melihat remaja malang itu segera masuk kembali ke mobil. Diskusi masih berlanjut. Blah blah blah. Setelah beberapa lama kemudian, nampak Pak Adi mencatat alamat lengkap sang anak di hapenya. Blah blah blah. Semuanya kemudian masuk.

“Kita bener-bener mau nyamperin alamatnya?” Daku penasaran.

Pak Adi menggeleng sambil melihat layar ponselnya, “Saya enggak tahu ini di mana.”

“Mau dilepasin gimana, mau dipertahanin gimana,” galau Pak Kasie, “SIM enggak ada, KTP enggak punya, duh.”

Kami paham, mobil yang sedang ditumpangi ini milik beliau pribadi. Seseorang lalu nyeletuk, “Biar jera juga, Pak.”

Daku setuju. Apa yang barusan terjadi mungkin saja jadi shock teraphy untuk sang anak. Jadi dia bisa lebih hati-hati. Tak hanya perjalanan hidup, perjalanan di gang atau di jalan raya saja unpredictable. Betul, ‘kan?

“Ini kayak jadi peringatan buat kita, ya? Belum sholat maghrib,” ujar Pak Adi.

“Kita ‘kan musafir,” sahut Pak Kasie.

Pak Yudi sepakat, “Iya kita ‘kan dalam perjalanan.”

“Kita jamak qoshor sholat maghrib sama isyanya,” ujar Pak Kasie, yang dijawab dengan anggukan kompak. Kecuali daku, yang memang sedang ‘bebas tugas’.

Seiring sambutan satpam dan tukang parkir mall, mobil melenggang masuk. Tak ada harapan terbaik dari sesuatu yang sudah terjadi, selain… mudah-mudahan ada hikmahnya. [#RD]

*December 9, 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *