CurColnya “Orang Gila”

CurColnya “Orang Gila”

“Pak Lurah X bilang malu karena warganya ada yang gila. Lha, kok cuma merasa malu? Obatin dong, Pak!”

Begitulah salah-satu petikan “cuap-cuap” M di pinggir jalan, kawasan pasar tradisional. M sendiri dikenal sebagai sosok perempuan renta yang dianggap (maaf) gila. Disebut demikian karena dia memang bertingkah tak normal. Kerap berbicara dan meresponnya sendiri.

Yang aneh, jika dia tidak sedang “sakit”, dia masih suka menyapa. Misalnya ketika melintas ke kios ibu, dia pernah mampir untuk menanyakan harga suatu barang.  Di hari yang lain, dia akan datang kembali untuk memastikan jual-beli. Bahkan dia pun melakukan aksi negosiasi layaknya pembeli kebanyakan.

Hampir semua warga di pasar tradisional itu hafal rutinitas mingguannya. Ya, menurut mereka, biasanya tiap hari Selasa dan Jumat ia “kumat”. Ia akan datang ke pasar, tepatnya di area dekat jalan raya. Pakaiannya biasa saja, tidak menyuratkan seseorang yang tidak normal. Hanya saja dandannya kadang menor, terkesan berlebihan, memakai bandonya seperti asal nempel, menenteng buku dan gemar membawa payung transparan.

Seperti hari itu. Ketika aku tengah “numpang nulis” di kios, ia kembali berpidato. Awalnya tentu saja aku tidak menghiraukan kebiasaannya itu. Berbeda dengan ibu. Beliau sengaja duduk di depan kios demi melihat dan mendengar ocehannya,

“Kalau didenger-denger, omongannya bener juga loh!”

Mendengar “testimoni” ibu, aku jadi tertarik untuk keluar. Rupanya bukan beliau saja yang tengah senyum-senyum mendengar M. Ada tukang ojek, beberapa pedagang dan pembeli yang tengah mengamati. Diam-diam, aku pun bergabung.

“Seharusnya pemimpin itu merangkul semua warganya. Baik yang gila, sinting, “rada-rada”, edan, semuanya!”

Aku mengernyitkan dahi. Kok yang disebutnya orang-orang gila, sinting, “rada-rada”, edan dan semuanya?

“Orang itu mandang orang lain, kok cuma dari hartanya? Jadi orang-orang itu pengin kaya karena pengin dihormati, dipuji-puji, dikasih salam. Beda kalau sama orang yang gak berpunya.”

Aku mengangguk-angguk. Hmm, benar juga?!

“Kalau saya sih. Ada orang mau salam, hormat dan memuji juga, tidak saya tanggapi.”

Ketika tengah berorasi itu, ada mobil yang menepi. Di dalamnya, seseorang melongokkan kepala. Aku dan ibu tersenyum.

“Eh, Pak Kyai,” kata M sambil melangkah mundur.

Kebetulan juga, ada mobil operasional dari salah-satu provider terkenal. Seperti biasa, mereka datang untuk berjualan pulsa seharga pulsa yang diinginkan. Lima ribu dijual lima ribu lagi, sepuluh ribu dijual sepuluh ribu lagi, limapuluhribu dijual limapuluhribu lagi plus bonus minuman botol, dst. Seperti biasa juga, mereka memutar lagu-lagu dengan keras demi menarik perhatian orang pasar. Dari lagu pop persada, manca yang tengah nge-hits sampai dangdut-dangdut populer yang memancing goyang.

“Berisik!” M mengomel, namun omelannya itu tertelan angin. Suaranya kalah dengan lirik dan musik yang memang berisik.

Aku kembali ke tempatku menulis, sembari kudengar radio Kuningan dengan lagu-lagu pop sundanya yang mendamaikan.

Ah, dasar hati. Kamu terlalu banyak menyembunyikan misteri. [#RD]

*25 November 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *