Dendam pun Luntur oleh Rasa Sayang

Dendam pun Luntur oleh Rasa Sayang

Jumat, 21 Juni 2013

Kebayang dilemanya saat kita tidak mendapatkan undangan ke pernikahan seseorang, namun ibu keukeuh menyuruh datang. -__-‘

Apa pasal? Seseorang yang kumaksud adalah guru mengajiku (Sebut saja Bang A) ketika masa remaja. Maklum, aku cukup sering berpindah-pindah tempat mengaji sehingga memang ada guru-guru mengaji khusus masa kanak-kanak, remaja sampai ketika awal-awal kuliah. Hehe

Dari dua surat undangan pernikahan, tak tergeletak namaku. Keduanya mencantumkan nama kedua adikku saja, sebab mereka pun sempat menjadi murid mengaji beliau. Dalam hati, aku agak heran. Padahal aku telah mendengar kabar bahwa Bang A akan menikah hari Sabtu dan berencana mengundang semua mantan muridnya. Kenapa aku tidak? Huhu

Siang itu, aku ke warnet langganan. Kebetulan karyawannya itu satu angkatan ketika kami mengaji di Bang A. Diapun tak lepas membahas tentang beliau,

“Nanti malem kita kondangan bareng-bareng yuk, Teh?”

“Orang gak diundang?!”

“Hah, masak? Semua mantan murid beliau mah diundang, Teh! Mungkin beliau emang lagi lupa. Dateng aja, ya?!” katanya lagi, lalu lanjut menyebutkan nama-nama mantan murid Bang A yang diundang.

“Nggak, ah. Malu. Gak diundang kok datang?!”

“Hhh… ya udah deh?!”

Pokoknya… karena tak tercatat namaku, aku pun santai dan memutuskan untuk tak datang. Tiba waktu ashar, ibu pulang dari pengajian yang diisi oleh ayahnya Bang A. Ia kemudian memanggilku dan menyerahkan sebuah amplop,

“Ini dari ibunya R, temen kamu waktu ngaji dulu. Nanti titip ya sekalian, ‘kan kamu juga mau kondangan?!”

“Nggak ah, Bu. Gak diundang…”

“Lho?! Lupa kaliii…”

Aku angkat bahu. Dalam hati, terus saja timbul prasangka-prasangka. Apa karena dulu aku ini murid yang bandel, ya? Yang kerap protes? Yang enggan diatur-atur? Kuakui, aku cukup sering dipanggil usai pengajian dan Bang A pun menggelontorkan ceramahnya yang panjang. Tak jarang ada saja perkataan yang nyangkut di hati, namun anehnya dendam karena rasa sakit itu selalu cepat pupus. Aku yakin, hal itu karena ulahku juga yang nyangkut di hati Bang A. Bahkan siapa tahu, rasa sakitku itu tak seberapa dibanding rasa sakitnya Bang A.

Menit demi menit merangkak. Petang pun datang. Ketika aku tengah menonton tv, ibu kembali ‘merayuku’ untuk datang ke acara pernikahan Bang A,

“Nanti malem datang aja atuh, Iyang?!”

“Nggak, ah…”

“Kata Isal juga (adikku), Bang A itu banyak jasanya… Siapa yang ngajarin makhroj waktu baca Al qur’an? siapa yang ngasih tau rukun sholat? ‘Kan Bang A juga…”

Jujur, pendapat adik yang disampaikan Ibu itu sangat ‘jleb’. Menerobos dinding hati. Mungkin dari perkataan itulah, keputusanku yang kokoh perlahan luluh. Aku pun mempertimbangkan untuk datang.

Ya, ba’da isya aku berkunjung ke rumah Bang A. Pesantren milik ayah Bang A yang aku lalui penuh dengan para penimba ilmu agama. Belum juga sampai ke muka rumah beliau, lagi-lagi para santri/wati telah mengular. Mereka ada yang berdiri, ada juga yang duduk di depan rumah warga. Suasananya sangat ramai dan hangat, padahal perayaan pernikahan beliau kabarnya akan sangat sederhana.

Aku yang semula keras kepala makin malu saja. Betapa beliau memang sangat berjasa menuntunku dalam beragama. Hatiku serasa ringan untuk meniatkan kedatangan diri sendiri ke malam berbahagianya. Selain mencari keberkahan, tentu acara itu akan kembali menyambung tali silaturahim.

Begitu sampai di beranda, Pak Kyai (ayah Bang A) menyambutku. Segera saja aku menyalami beliau dan kakaknya Bang A. Merekalah wajah-wajah teduh yang telah membimbingku untuk tahu agama. Saking berharganya, jasa-jasa mereka sungguh tak akan mampu aku nominalkan dengan harta.

Pas masuk ke dalam rumah, aku kembali disambut oleh ibunda Bang A dan Bang A-nya sendiri. Ternyata beliau masih mengingatku dengan sambutan sederhana semacam,

“Eh Dian… Makasih udah datang. Silakan makanan/minumannya disantap…”

Tak kusangka, aku bisa duduk ditengah orang-orang yang dulu menjadi teman se-angkatan mengajiku. Wajah-wajah mereka sangat jelas terjepret dalam memori. Mereka adalah teman-teman yang dulu sama-sama berjuang membaca Al Qur’an dengan baik dan benar, mendengarkan dan mencatat ilmu dari Bang A, merayakan hari besar islam bersama-sama, dst. Kami menyebut pertemuan itu sebagai “reuni”. Yah, kalau tak dipertemukan oleh acara pernikahan Bang A, kapan lagi?

Ketika saling mengobrol, tawa dan canda pun senantiasa meledak diantara kami. Hampir semuanya saling mengingatkan bagaimana dulu kami mengaji dan menimba ilmu di pesantren itu. Dan benar kata salah seorang diantara mereka, sebut saja Teteh H. Beliau bilang,

“Kalau lagi ngumpul begini, sebaiknya emang ngomongin masa dulu. Selain nyambung, masa sekarang yang memusingkan pun jadi terlupakan…”

Yep! kami tentu telah berpencar. Ada yang melanjutkan pendidikan, menikah, bekerja dst. Kalau ketika bertemu itu malah membicarakan pendidikan, bukannya obrolan mengalir, malah kemungkinan besar akan kikuk dan didominasi oleh kalangan pelajar saja. Kalau topiknya seputar rumah tangga, mungkin bisa saja nyambung, tapi tetap golongan pelajar dan pekerja akan sedikit loading lama. Alhasil, topic zaman dulu yang menjadi pemersatu. 🙂

Ada bisikan menarik dari teman seangkatanku (E) mengenai Bang A. Di masaku beliau terkenal cukup cerewet dan tak jarang ada ‘kata-kata tak tersaring’ jika kami telah membuatnya jengkel. Kata-kata E sekaligus menjadi komentar akan membludaknya santri/wati yang hadir,

“Segalak apapun beliau, tetap saja banyak yang sayang sama beliau. Hehehe.”

“Iya. Berkah sih… Bagaimanapun beliau itu banyak jasanya. Kita bisa belajar baca Al qur’an, sholat, wudhu, dsb juga dari beliau,” Aku menirukan isi dari perkataan adikku.

“Iya bener. Jadi inget dulu kita sering bikin beliau marah, yah? Hihihi.”

“Hahaha. Iya, tapi gak ada dendam sama-sekali, ya?! Seolah-olah ‘hukuman’ beliau dulu itu gak membekas, gitu…”

“Iya. Gak ada yang mengganjal di hatinya. Beda kalau sama guru sekolah. ’Kan aku pernah sakit hati sama guru sekolahku, eh pas ketemu gak lupa tuh rasa sakitnya…”

Kami melanjutkan obrolan dan sesekali tergelak. Ketika hendak pamit, kami pun sempat mengabadikan poto bersama Bang A. Mumpung beliau masih lajang. Hehehe.

“Ini teh mau pada pulang gak, sih? Kok betah banget?!” seru seorang laki-laki di luar rumah.

Kami tertawa. Tak terasa, ‘tumpukan’ tamu telah tumpah di luar rumah. Akhirnya, meski masih betah kami pun pulang beramai-ramai. Ya Allaah… semoga pernikahan beliau itu sakinah, mawaddah, warohmah dan menjadi berkah bagi semuanya. Aamiin… [#RD]

Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *