Di-ACC Tuhan, Di-ACC Dosen

Di-ACC Tuhan, Di-ACC Dosen

doa di ACC

“Sekarang bimbingan skripsi dosen Bandung sebagai pembimbing 1. Kemungkinan sih, terakhir…”

Begitulah wacana yang menyeruak diantara kami, mahasiswa/i FKIP prodi Bahasa Inggris. Sontak saja, semangat kami membara. Walau tak bisa ditepis, dada kami kembang-kempis. Bagaimana tidak, kabar ‘bimbingan terakhir’ menjadi semacam penentuan apakah skripsi kita di acc sekarang atau tidak?

Aku dan teman dekatku, T, berangkat sekitar pukul setengah 8 untuk jadwal jam 8. Sesampainya di kampus, pelataran parkir hanya terisi oleh satu sepeda motor. Sementara di beranda ada beberapa orang teman. Mungkin sekitar 4-5 orang. Mereka tengah duduk di kursi panjang, samping gerbang. Kami pun bergabung dan menghangatkan diri dengan ikut berdesakan duduk, lalu mengobrolkan topic yang masih hangat. Apalagi kalau bukan seputar skripsi, acc dan sidang.

Selang beberapa menit, teman-teman yang lain berdatangan. Kulihat, ada dua orang teman yang menjinjing plastic besar.

“Apaan tuh, Teh?”

“Sesuatu.”

“Apaan?” naluri kepo-ku keluar.

“Oleh-oleh buat Si Bapak…”

“Oo…”

Obrolan kami merambat. Seiring obrolan itu, beberapa teman membicarakan lembar ‘approval’ skripsi.

“Emang kertas approval-nya mesti kertas jeruk?” tanyaku.

Memang, aku hanya mempersiapkan kertas A4 biasa. Nekad saja kusiapkan kertas ‘approval’ itu. Syukur-syukur kalau di-acc. Kalau tidak, alamat durasi ‘sabar’ mesti diperpanjang. Heu

“Iya…”

“Ya udah hayuklah ng-print! Sini, Yank!” seorang teman yang sama-sama belum mempersiapkan kertas jeruk segera bangkit dan hendak beranjak.

Tak lama setelah ia menadahkan tangan meminta flash-disk, aku segera menyerahkan dan menyebutkan nama folder approval-nya. Sungguh, aku sangat berterima kasih padanya.

Sambil menunggu temanku itu, aku dan yang lainnya kembali bercengkrama. Kebetulan yang duduk di bangku itu ada empat orang dan masing-masing dari kami memakai kerudung berwarna senada; pink. Hehe. Demi menghangatkan suasana, sesekali kami saling melempar canda. Lagipula, pagi itu memang sangat beku. Gigil sampai ke kuku-kuku. -___-‘

Tak lama, para dosen pembimbing 1 pun tiba. Aku dan beberapa teman menyusun absen atau nomor urutan. Di absen versi 1, aku berada di urutan 6. Setelah kutulis lagi absen baru, aku berada di urutan 4. Teman-teman yang lain pun saling pesan nomor urut, namun aku dan beberapa kawan sepakat – kami mendahulukan mereka yang telah tiba saja.

Karena suatu hal, pembimbing kami belum juga masuk kelas. Kami pun mesti menanti agak lama lagi. Namun di sisi lain, hal tersebut cukup menguntungkan. Sebab, beberapa teman lain masih ada yang sedang meng-print dan lembar approval-ku dalam kertas jeruk pun toh memang belum jadi. Detik demi detik pun merambat. Tak terasa, matahari makin membelalakkan matanya. Sang dosen masuk dan temanku telah menyerahkan lembar approval yang kutitipkan.

Nomor urut 1 dan 2 dipanggil. Kuyakin, masing-masing dada kami berdesir. Semuanya harap-harap cemas… Dari kursi paling depan, sambil menunggu giliran ke empat, aku curi-curi dengar atas komentar Pak I, pembimbing kami. Sepertinya beliau tengah mengomentari skripsi dengan jenis kuantitatif. Banyak sekali yang beliau nilai. Detail. Dari mulai grammar, teknik hingga kontennya. Beliau bahkan sampai menjelaskan di papan tulis.

Beliau pun menyelipkan kata-kata,

“Sejelek apapun skripsi kalian, kalau tidak ada unsur plagiarism-nya, saya rela meng-acc. Tapi, sebagus apapun skripsi kalian, kalau plagiat, saya gak bakal acc. Kalau skripsi kalian jelek, okelah… paling saya kebawa jelek. Tapi kalau skripsi kalian hasil ‘nyuri’, saya gak mau lah ikutan disebut ‘pencuri’ juga….”

Sontak saja, aku melihat-lihat skripsi sendiri kalau-kalau ada unsur plagiarism-nya. Walau tak merasa menjadi plagiator dan benar-benar mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja sendiri dibantu pembimbing, tetap saja aku takut tidak sengaja melakukan aksi plagiat. Entah plagiat bahasa atau isi/ide. Kusisir cara pengutipannya, statement-statement-nya, sumber atau referensinya, dst.

Terus, beliau juga memberikan komentar pada lembar ‘acknowledgement’. Mungkin masih banyak yang keliru dengan menyatakan bahwa ‘acknowledgement’ hanya sebatas ucapan terima kasih. Namun ‘acknowledgement’ merupakan pengakuan dan apresiasi pada orang/pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan hasil kerja, dalam hal ini skripsi.

Urutan 1 itu yang bersifat akademik, yaitu orang/pihak yang punya andil besar di sisi akademik. Misalnya tentu saja pembimbing 1 dan 2. Urutan kedua, sosial-akademik, misalnya Ketua Prodi, Staff, dosen, dst yang memfasilitasi atau membantu pengerjaannya, dst. Terus ketiga itu sosial-personal. Misalnya ucapan terima kasih pada tukang siomay yang telah menjadi pengganjal lapar ketika menunggu giliran bimbingan, tukang print yang senantiasa merapikan ketikan skripsi, penjaga perpus yang mencarikan buku referensi, dst.

Kalau Tuhan YME?

Dosen pembimbingku itu menjawab,

“Jangan diurutkan nomor 1 pada Allah Swt, nomor 2 pada dosen pembimbing, nomor 3 pada blablabla… Masak Allah Swt ditempatkan hanya satu tingkat di atas manusia?”

“Allah itu tidak diterima-kasihi juga sudah Maha Pengasih…”

“Ucapkan saja Alhamdulillah atau pujian pada Allah itu di paragraph awal…”

Aku menengok pada lembar ‘acknowledgement’ sendiri. Ada kesalahan karena aku menyimpan ka prodi beserta staff dan dosennya di atas para dosen pembimbing. Hadeuh… Namun syukurlah, pujian pada Allah kusimpan di awal paragraph. Memang, peran-Nya itu sangat besar. Kalau Dia memudahkan, semuanya mudah. Bahkan istilahnya… kalau Dia ‘meng-ACC’, dosen pasti ikut meng-ACC. Dengan apalagi kita mampu bertahan bahkan ‘melayani’ perlawanan skripsi, selain karena secuil kekuatan yang Dia hembuskan?

Bagaimanapun, apalah kemampuan kita tanpa-Nya…. [#RD]

Gambar: Google Image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *