Dicium Tangan, Bangga atau Justeru Malu?

Dicium Tangan, Bangga atau Justeru Malu?

cium tangan

Cium tangan. Menurut Bro-Sist, kepada siapa perlakuan itu pantas kita haturkan? Ke orang tua? Guru mengaji? Guru sekolah? Pasangan? Pejabat? Atau…? Yaaa setiap orang boleh jadi memiliki jawabannya sendiri-sendiri, ya.

Ada peristiwa yang… menarik, geli sekaligus mengharukan selama aku menjadi pengajar. Aku sadar, kegiatan belajar-mengajar yang kami lakukan ini komersil. Aku dkk tidaklah sedang membuka rumah singgah atau penyedia bimbel gratis. Karenanya, aku tahu diri kalau anak-anak didikku akan memandangku sebagai ‘pengajar les’ semata. Tidak lebih. Tidak seperti pada guru sekolah, yang mana semuanya mesti dihormati dengan berbagai alasan. Bisa karena murni rasa takdzim, bisa juga karena ada kepentingan nilai atau rasa takut karena dianggap tidak beretika.

“Salim dulu, ah, biar berkah,” itulah selentingan kalimat yang kudengar, manakala beberapa orang adik didikku hendak dan sudah les. Hal inilah yang tadi aku bilang menarik, geli sekaligus mengharukan.

Mereka menghampiriku, membungkuk, ‘salim’ dan beberapa diantaranya bilang ‘terima kasih’. Perlakuan itu sederhana, namun sangat menyentuh. Aku merasa jadi orang ‘berjasa’ bagi mereka, padahal…? Dan, apa? Biar berkah? Benarkah mencium tangan seorang pengajar itu bisa memicu keberkahan? Wallaahu a’lam.

dicium tangan_bangga atau malu, sun tangan, cium tangan

Kalau kita mencium tangan guru mengaji, kyai, ulama atau orang sholeh, aku tidak meragukan. Insya Allah ada keberkahan di tangan mereka #CMIIW. Hadist menceritakan bahwa suatu ketika Nabi Muhammad Saw bertemu dengan seorang laki-laki yang tangannya lebam. Beliaupun bertanya, kenapa tangannya bisa seperti itu. Si laki-laki lalu menjawab, tangannya itu ia pergunakan untuk bekerja demi menafkahi keluarganya. Nabi pun memegangi tangan sang laki-laki dan menciumnya. Subhanallah. Begitu rendah hatinya sang insan kamil!

Diluar dari berkah tidaknya mencium tangan seorang pengajar/guru, sikap itu hanyalah simbol penghormatan seseorang. Aku pernah berada di posisi seorang murid. Kucium tangan siapapun orang yang ‘mesti kuhormati’, walau itu tidak dengan hati. Ya, cium tangan itu hanya sebatas ‘formalitas’. Bukan berarti aku benar-benar menaruh respect padanya. Eh, jujur banget. Tapi begitulah adanya…

Seperti kutipan film Mohabatein, katanya kurang lebih begini; seorang murid menghormati gurunya karena dua hal. Pertama, memang murni karena rasa hormat dan cinta. Kedua, karena rasa takut semata.

Kutipan film India yang sempat booming itu amat kuingat dan kuterapkan juga sekarang, di mana posisiku menjadi pengajar. Kuanggap adik-adik didikku itu hanya tengah melaksanakan prosesi penghormatan simbolik, entahlah dengan hatinya. Aku tak tahu pasti, mereka bersikap hormat seperti itu di depanku saja atau bagaimana.

Lha, kok suudzon?

Hal ini menurutku sekali-kali perlu dipikirkan. Alasannya, agar kita tak terjebak pada anggapan; kalau kita ini lebih terhormat, kita ini pahlawan, kita ini berjasa dan kita ini patut untuk dicium tangannya.

Tapi baiklah. Kita anggap saja anak-anak didik yang tersenyum manis itu, yang berkata sangat pelan dan sopan itu, yang membungkuk itu dan yang cium tangan itu memang sangat tahu bagaimana bersikap pada yang lebih tua. Tapi jangan sampai hal itu jadi kebiasaan dan penyebab tumbuhnya tunas-tunas kesombongan yang ganas.

Aku juga jadi agak bingung. Tiap kali ada anak, tanganku ini seolah-olah segera siaga untuk menjulurkan tangan agar disalami mereka. Duh malunya, ‘salim’ mereka berubah jadi tradisi. Padahal tiap mereka menyentuh, menempelkan tanganku pada pipi bahkan menciumnya… semestinya aku menggedor hatiku; emang pantes? Huft! [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *