Dirundung Bingung

Dirundung Bingung

dirundung bingung

Rabu, 14 Mei 2014

Baru saja aku bergumam, tumben anak-anak kelas XII tidak minta jadwal jadi pagi, datang sms – dari seorang anak, menanyakan jadwal jam berapa dan ujung-ujungnya merequest agar mereka belajar pagi hari saja. Haeh…

Sikap egoisku muncul. Tanpa mempertimbangkan apapun, aku bersikukuh tidak mau mengganti jadwal. Kecuali, kualihkan saja pada Pak Ikbal. Biar beliau yang meng-handle mereka kalau tetap menuntut jadwal pagi. Dan sebuah rencana pun muncul; aku akan tukeran kelas sama Pak Ikbal!

“Maaf, Bu. Ga bisa. Saya masih merekap nilai kelas XII,” jawab Pak Ikbal usai aku meng-sms-nya.

Huft!

Okelah kalau bekicot, keputusan sudah bulat. Jadwal les sekarang tetap jam satu siang. Anak-anak mau datang atau tidak, terserah! Hohoho. Dan, sudah kuduga. Situasi ini memengaruhi mood-ku untuk melangkahkan kaki ke LKP. Fiuh!

“Maaf ya, Pak. Anak-anak selalu minta pagi, tapi Dian gak bisa,” kataku pada Pak Iwan.

“Iya gak apa-apa, mereka ikut aturan kita saja,” timpal beliau, melegakan.

kebingungan, mengatasi kebingunganAnak-anak datang. Mereka tidak dalam formasi lengkap. Yang itu-itu saja. Tapi ya, gak apa-apa. Toh mereka sudah semi dewasa, sudah tahu mana yang baik dan kurang baik. Aku pun memberi materi seputar grafik.

Dari awal, suasana mengajarnya sudah agak berbeda. Aku sama sekali tak berselera untuk bercanda. Maunya serius mengajar, menyampaikan seluruh materi dan menyudahinya dengan cepat. Il-feel aja. Sampai keadaan kelas sedikit hening dan (mungkin) terkesan tegang. Beruntung ada Pak Rian. Beliau sedikit bisa mencairkan suasana dan aku hanya ikut-ikutan tertawa saja. Walau hambar, walau datar. :I

Aku sendiri merasakan betul perbedaan itu. Biasanya fokus menilik hasil pekerjaan mereka, memastikan semuanya sudah bisa, kali ini tidak. Aku hanya hinggap di satu meja ke meja lain dengan durasi sempit. Bahkan ada beberapa yang kulihat dari jarak agak jauh saja. Sampai kusuruh teman sebelahnya, yang sudah paham, untuk mengajarinya. Hummm. Sekalinya aku bercanda, kerasa kok candaannya itu jayus, dipaksakan. Hehehe

“Kalau udah, save aja,” pungkasku, terbilang cepat.

Namun ketika mereka berlalu dari pandangan, aku sedikit merasa bersalah. Mereka itu anak-anak rajin, baik dan antusias dalam belajar. Tak sepatutnya aku melampiaskan kekecewaan dengan berlaku dingin seperti ini. Namun di sisi lain, kurasa apa yang kurasakan ini cukup manusiawi. Ah beginilah pengajar, mesti pandai menyetir emosi!

“Pak, nanti Sabtu Dian gak bisa hadir. Mau ke Cirebon,” Aku berkata pada Pak Iwan, “Rencananya mau make up kelas MTs sekarang, bapak-bapak MD besok,” imbuhku.

“Oh iya gak apa-apa, atur aja.”

Sayang sekali, anak-anak MTs Arrasyid tidak bisa hadir, sebab Rabu menjadi jadwal sebuah ekskul mereka di sekolah. Ada perasaan bersalah dalam hatiku, sebab mereka hampir selalu datang dengan formasi lengkap. Sementara bapak-bapak dari MD menyepakati jadwal pengganti yang kuajukan. Sip!

“Oh iya, Bu Dian,” Pak Iwan seperti teringat sesuatu, “Nanti Minggu mulai mengajar di LKP 2, ya?”

“Minggu?”

“Untuk bulan Mei aja,” timpal Pak Iwan, “Kalau Senin-Sabtu, peralatannya ‘kan di sini, di LKP 1.”

“Oh,” Aku mengangguk-angguk sembari mengingat undangan pernikahan seorang sahabat, “Jam berapa ya, Pak?”

“Setengah sembilan, Bu,” jawab beliau, bikin aku melongo.

“Hmmm,” Aku belum bisa komen. Ngajar perdana di LKP 2 apa menyaksikan acara pernikahan sahabat, ya?

“Oh iya,” Pak Iwan menyodorkan kertas untukku bubuhkan tanda tangan, “Ini honornya.”

“Eh iya, makasih, Pak,” Aku menerimanya, lalu pikiranku segera bergerak mengalokasikan honorku untuk ini-itu. Ternyata sebagian besar akan ludes oleh kondangan. Hohoho.

Hari ini, entah kenapa, membingungkan sekali. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *