Doktrin Sesat Tentang Seorang Blogger

Doktrin Sesat Tentang Seorang Blogger

senangnya jadi blogger

Kenapa, ada yang protes? Marah? Gak terima?

 Habis admin ~d~ pake kata seberat ‘doktrin’ segala sih! Terus, bawa-bawa blogger lagi?!

He he he, peace ah!

Postingan ini memang terinspirasi dari ocehan seseorang. Waktu itu, aku dalam perjalanan pulang dari Kuningan. Sambil memeluk barang belanjaan (barang untuk didagangkan di kios), aku berusaha meni’mati perjalanan itu. Walau kemudian, aku mesti merasa jengkel karena sopir akhirnya menurunkanku di depan SMP Kadugede. Ya, aku dialihkan ke angkot lain. Maklum, penumpang yang hendak lanjut ke Desa Darma memang hanya aku seorang. Ya sudahlah. #abditeunanaon

Tetapi, Allah Swt Maha Baik. Sopir sekaligus angkot yang hendak ‘menampungku’ sudah kukenal. Perasaanku membaik dan lebih nyaman. Terlebih ketika aku masuk, suasananya tidak padat-padat amat (senang bagiku tapi mungkin bagi sang sopir, hal ini agak menyedihkan).

Ada dua pemuda tanggung, dua ibu-ibu dan seorang bocah yang pewe di pangkuan ibunya. Mereka tengah mengobrolkan banyak hal, dimulai dari barang yang kubawa. Kebetulan aku membawa isian bantal kursi. Dari sanalah mereka saling lempar ocehan. Aku berusaha gabung, tapi ternyata hanya bisa nyelip-nyelip dikit. Mereka terlalu mendominasi pembicaraan, padahal seharusnya aku – pembawa barang – yang jadi narasumber. Kuputuskan saja untuk tak memerdulikan mereka,sakarepmu wis!

Aku terdiam. Kupilih untuk melihat ke luar (walau seharusnya bosan, sebab sudah bertahun-tahun melintasi jalan dan pemandangan yang sama T_T). Ini jalanan, selalu ada hal yang menyita mata untuk melihatnya. Kecuali kalau ponsel bergetar, barulah fokusku terusik ke benda yang jadi jembatan komunikasi dan informasi itu.

“Kalau di Turki pasti sangat panas, ya?” tanya pemuda tanggung yang lebih muda.

Etdah! Dua pemuda tanggung dan satu ibu-ibu yang gak bawa anak kecil itu mengobrol dengan topik yang sembarang. Semua saling timpal, mirip debat bacapres-bacawapres yang kandidatnya masih banyak dan masih perlu seleksi ketat. Segala disemburkan. Duh, mana cowok-cowok tanggung – yang dari pandangan pertama – terlihat cukup unyu, eh nyatanya masuk kategoritalkative men. Ilfil juga kalau cowok cerewetnya seberisik itu!? -_-

“Justeru di Turki mah sekarang lagi dingin,” timpal yang lebih tua.

“Uwh! Jauh-jauh ke Turki!” suara lain.

“Eh Si W di mana, Ceu?”

“Tau tuh, dia! Udah enak-enak kerja di tempat gedean, eh malah pindah!” kata ibu-ibu tanpa bawa anak kecil.

“Emang tadinya di mana?” tanya ibu-ibu yang bawa anak kecil.

“Di pabrik odol!” jawabnya, eh gak kerasa ternyata aku menguping! (habis mau gimana lagi, kami terperangkap dalam angkot, kebayang deh angkot segimana luasnya?! -_-)

“Ooh…”

“Ya udah lah, mau disuruh istirahat aja dulu, kasian!” tambahnya.

“Ah zaman sekarang itu kerja udah gak perlu jauh-jauh, gak perlu di pabrik, cukup dari internet aja!” sahut pemuda tanggung yang lebih tua.

Semua yang mendengarnya melongo, termasuk aku. :v

“Dari internet gimana, olen?” tanya Si Ibu-ibu yang gak bawa anak (duh, perasaan dari tadi penyebutannya pada kepanjangan deh?!)

 jadi blogger

“Onlen!” Si pemuda tanggung yang lebih muda meluruskan.

“Iya, jadi blogger aja!” sambung si pemuda tanggung yang lebih tua.

Ibu-ibu yang gak bawa anak kecil hanya bungkam. Begitupun dengan si pemuda tanggung yang lebih muda. Ia hanya menyandar, dan sepertinya menunggu kelanjutan omongan lawan bicaranya.

“Blogger mah tinggal duduk, main internet, nulis, terus dapet lima juta deh per bulan!”

“Enak pisan!” seru si ibu-ibu yang gak bawa anak kecil. Sudah, komennya begitu saja. Dan, pandangannya tidak mengarah pada objek yang jelas.

“Gimana caranya?” tanya pemuda yang menyandar (bingo! aku pun ingin tahu jawabannya :D)

“Caranya ya tinggal diurus. Asal diurus, pasti menghasilkan!” jelasnya percaya diri, “Tapi saya sih gak bisa ngurusnya,” imbuhnya. :v

“Kiri depan, Bang!” pekik yang lebih muda dan mereka semua keluar perlahan.

Suasana jadi lebih adem. Angin sepoi-sepoi pun jadi tak sungkan untuk masuk dan mengelus wajahku. Phew! Kalau omongannya itu benar, sudah enak aku sekarang. Ya gimana gak enak, tinggal main internet-urus blog-dapet uang lima juta!

Apa iya seperti itu? Wah mohon maaf, ‘doktrin’ itu KELIRU (mau nulis SESAT, kok ya serasa nge-judge banget?! Hihihi).

Inti perkataan dari rekan sekaligus kakak saya di dunia menulis dan blogging, “Jangan mimpi bisa menghasilkan uang dengan sangat besar dan sangat mudah di internet!”

Ya, menjadi blogger berarti ‘mencemplungkan’ diri dalam suatu perjalanan panjang, yang penuh liku dan duri, tak hanya dari pihak luar tapi juga dari dalam diri dan hati sendiri. Lebay, ya. Tapi ya beginilah. Di sini rasanya tak ada yang namanya ‘jalan pintas’. Semua butuh proses, konsistensi, dedikasi, profesionalisme, kualitas dan bahkan akhlak yang baik. Terutama itu, harus ikhlas.

Kadang kita sudah merasa berusaha maksimal, tapi hasilnya tak sesuai harapan, ya ikhlasin. Kadang juga kita udah nulis yang dirasa baik, eh gak terlalu diapresiasi, ya ikhlasin. Atau kita udah bikin postingan banyak, eh masih belum dilirik, ya ikhlasin (ngomong dan nulis kata ‘ikhlas’ memang empuk, ya, tapi melakoninya itu sangat keras juga :O).

Walau tak dipungkiri, memang banyak sumber uang di sini. Tapi please, kalau ada yang bilang jadi blogger itu mudah dan membuat cepat ber-uang, jangan mudah percaya, ya.

Beruntungnya, selalu ada “hadiah hiburan” untuk para penulis/blogger. Dan ajaibnya, hadiah tersebut ternyata bisa terasa lebih ni’mat. Apa itu? wujudnya bisa berupa manfaat bagi pembaca dan kelegaan/kepuasan hati karena unek-unek kita sudah tersalurkan. Iya, ‘kan? 🙂 [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *