Galau-Balau Kurikulum 2013

Galau-Balau Kurikulum 2013

kurikulum 2013

Galau-balau beda dengan kacau-balau ya, Sob? Heheh, jadi tulisan ini bukan bermakna kesemrawutan kurikulum 2013, melainkan lebih ke sisi dilematis dari penerapan kurikulum itu sendiri. Heuheu

Informasi mengenai apa itu Kurikulum 2013 ini aku dapat dari seminar nasional dengan tema “Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui Kurikulum 2013”. Seminar tersebut merupakan hasil kerja sama Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA-UPI) dan Program Study Bahasa Inggris Universitas Kuningan (UNIKU). Isinya seputar bedah kurikulum 2013 ditilik dari sisi pro-kontranya.

Sebelum acara ini, terlebih dahulu ada sambutan dari mantan mahasiswa UPI. Darinya tersembul kalimat yang ‘jleb’, baik buat mahasiswa maupun buat pemerintahan sekarang:

“Kalau di pedesaan, kalangan mahasiswa itu dianggap elit dan selalu dipercaya. Tapi begitu mereka melakukan penyimpangan di senayan, habislah negara ini!”

“Serahkan saja kurikulum 2013 ini ke pemerintahan yang baru nanti. Sebab, kalo yang sekarang mah ngurus UN aja gak b*cus…”

Memang sih, kita sempat dibikin kecewa dengan kinerja Mendikbud yang menggawangi agenda Ujian Nasional kemarin. Entahlah kesalahannya ada di pihak siapa, yang jelas kementrian tersebut nampaknya patut legowo jika terus disorot. Istilahnya, kita sebagai rakyat sih tak tahu-menahu. Anggaran besar udah digelontorkan, kepanitiaan udah dibentuk, perusahaan percetakan udah dipilih… tinggal tahu pelaksanaannya saja.

Setelah sambutan itu, moderator pun memimpin jalannya seminar. Beliau memberi waktu pada seorang professor untuk menjelaskan apa itu kurikulum 2013 beserta keunggulannya. Mohon maaf jika terjadi kesalahan, tapi berikut inilah inti-sarinya:

  • Kurikulum 2013 itu berbasis “peradaban”. Sehingga reputasi pendidikan di kancah internasional akan meningkat.
  • Guru tak akan lagi memiliki kewajiban untuk menyusun silabus, sebab silabus menjadi dokumen tak terpisahkan dari dokumen kurikulum 2013. Jadi, kurikulum ini akan mengurangi beban administrasi. Pak Mendikbud ingin agar guru berkonsentrasi saja pada proses pembelajarannya.
  • Buku-buku pegangan untuk guru atau peserta didik akan disediakan Kemdikbud. Lagi, Pak menteri ingin meningkatkan efektivitas pembelajaran.
  • Standar Kompetensi berubah menjadi Kompetensi Isi.
  • Mata pelajaran yang kurang diperlukan akan dikurangi, sehingga beban siswa tidak akan terlalu berat.
  • Afektif lebih menonjol. Sehingga diharapkan bisa mencetak peserta didik yang produktif, kreatif dan inovatif.
  • Kurikulum 2013 disebut-sebut sebagai kurikulum terbaik se-dunia, namun pelaksanaannya diperkirakan akan mengalami revisi sampai kira-kira tahun 2016. Hal tersebut wajar adanya dan tahapan-tahapan demi pelaksanaan kurikulum 2013 yang maksimal. Tak lama, giliran seorang dosen yang berbicara. Beliau membedah kelamahan Kurikulum 2013.

Kurikulum bikin Galau Intinya sebagai berikut:

  • Bolehlah Kurikulum 2013 ini disebut-sebut sebagai kurikulum terbaik se-dunia, tetapi tetap saja banyak ‘lubang-lubangnya’. Pelaksanaannya pun kurang meyakinkan. Kenapa? Sebab tahun depan (2014) ‘kan akan berganti rezim. Jadi? Jadi kalau kurikulum ini mengalami perombakan lagi, 800M – 900M itu bakal sia-sia, dong?
  • Katanya berbasis ‘peradaban’, jadi diperlukan SDM beradab juga untuk mencetak orang-orang yang beradab. Nah, apakah kita sudah beradab? *ngobrol dengan hati masing-masing.
  • Kurikulum 2013 ini secara tidak langsung telah memperkosa guru. Kenapa? Karena faktanya guru-guru… baik itu yang tergabung dalam PGRI, serikat guru, independen, dst tidak dilibatkan langsung dalam perumusan Kurikulum 2013. Kita seolah-olah dijadikan objek saja. Padahal, sukses-tidaknya pendidikan dan penerapan kurikulum itu ‘kan bergantung dari guru?
  • Pelaksanaan kurikulum 2013 ini disebut-sebut ‘tahapan-tahapan’. Apa benar tahapan atau sekadar ujicoba? Guru dan murid seakan-akan dijadikan bahan ujicoba kurikulum baru ini.

Selanjutnya moderator meluaskan kesempatan bagi para peserta seminar (guru-guru alumni UPI dan mahasiswa UNIKU) untuk bertanya atau menyampaikan pendapat. Ada pertanyaan dan pernyataan yang aku catat. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Seorang Kepala Sekolah Taman Kanak-Kanak bertanya: “Kenapa Kurikulum 2013 ini tidak disosialisasikan dengan waktu yang cukup? Misalnya selama setahun lah. Kenapa Juni diberitakan, lalu nanti Juli mesti diberlakukan? Kami, guru-guru TK dan SD khususnya, bukan bahan percobaan. Terlebih kami itu masih kebingungan dengan system serba online. Maklum, gaptek. Eh sekarang mesti mendapat kenyataan akan kurikulum baru lagi?”
  2. Mahasiswi dari Prodi Bahasa Inggris: “Katanya ‘budaya’ menjadi salah-satu basis atau filosofi Kurikulum 2013? Tapi Pelajaran Lingkungan Hidup (PLH), TIK, Basa Sunda dan Bahasa Inggris kok mau dihapuskan sih? Bagaimana nasib kami (mahasiswa/i jurusan Bahasa Inggris) yang banyak ini?”
  3. Ada lagi, mahasiswa yang masih dari Prodi Bahasa Inggris: “Ketika saya melaksanakan Praktik Pekerjaan Lapangan (PPL), saya menyaksikan sendiri guru-guru khususnya yang telah berpredikat sebagai PNS itu leha-leha dan tidak serius bekerja. Bagaimana Kurikulum 2013 ini akan terlaksana dengan baik?”

Well, pendidikan merupakan tanggung-jawab bersama. Ia seolah menjadi investasi luar biasa penting dan berpengaruh di kehidupan mendatang. Tak heran, pemerintah terus menggali program-program maupun rencana terbaik untuk pendidikan. Tokoh dan pengamat pendidikan pun tak henti mencecarkan kritik dan pandangan pada kebijakan-kebijakan pemerintah itu.

Akhirnya, semoga system pendidikan di negeri kita ini… selain berkualitas bagus, juga bisa terlaksana dengan baik. Aamiin… [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *