Gerimis yang Manis

Gerimis yang Manis

gerimis yang manis

Kamis, 22 Mei 2014

Maha Kuasa Allah Swt. Di tengah-tengah hari yang terik, matahari tunduk untuk meredupkan diri. Ia membiarkan awan-awan bergumul, mengelabu dan perlahan menitikkan bening airnya.

Anak-anak mau pada dateng gak, ya?

Aku bertanya-tanya dalam hati. Tak bisa kutolak, memang ada sedikit rayuan syetan untuk memperberat langkahku. Kusugestikan dalam diri, kalau anak-anak tak akan datang dan aku juga gak perlu berangkat. -__-

Bismillaah! Meski kusadari sudah telat, namun aku tetap berangkat. Anak-anak mau datang atau tidak, terserah. Yang jelas sekarang, aku sudah tiba di TKP. Beratapkan langit yang abu, aku menyeberang jalan, melewati warung Si Mbak dan masuk ke LKP. Belum ada siapa-siapa, namun kutahu ada seorang anak kursus yang menguntitku. Benar saja, tak lama setelah aku masuk ke ruangan, dia tiba juga.

“Yang lain mau dateng gak, Nia?” tanya Pak Iwan.

“Enggak tahu, Pak,” jawabnya singkat.

“Kalau enggak, kita mulai sekarang aja, ya?” kataku, biar cepat, “Gak apa-apa sendirian juga. Lebih baik. Jadi lebih privat.”

“Boleh, Bu.”

Kami menuju deretan laptop – netbook dan menyalakan dua yang dipilih. Nia menyalakan netbook langgananya, Samsung. Aku sendiri memilih netbook yang terdekat – Axioo – yang berkode SEA 12. Belum masuk materi apapun, yang lain ternyata pada datang. Duh, kagum juga. Mereka sudah kelas XII, sebagian ada yang jauh, tapi bisa meluangkan waktu untuk datang! Hummm, tapi kurasa ada seorang tidak datang; Irwansyah, murid laki-laki yang kerap jadi rekan bicaraku seputar dunia bola. 😀

Seperti kata Bu Heni, aku juga ingin rehat sejenak dari KBM les di LKP 1 ini. Ingin rasanya cepat-cepat menandaskan materi, ujian dan melepas mereka ke dunia barunya. Karena itu, di pertemuan kedua Microsoft Power Point ini, aku ‘memborong’ materi. Meski demikian, kupercaya anak-anak kelas XII seperti mereka bisa menghadapi dan menyesuaikannya.

Tentu, semua ini mengundang teknik dan metode tersendiri. Aku harus keliling, jeli mengawasi kinerja mereka dan mendampingi mereka seadil dan sebaik mungkin. Untung saja, muridku Nitha – yang ikut les sebanyak dua gelombang – nampak sudah mahir. Jadi deh aku tidak perlu terlalu sering menghampirinya.

“Nambah bullet ke smart art-nya gimana, Bu?” tanya Nitha.

Karena aku tidak sedang ‘melayani’ anak lain, aku pun mendatanginya. Kujelaskan dari mana bullet itu muncul. Jika ia mengambilnya dari menu home, tool bar-nya gak akan aktif. Karena itu, dia mesti mengambilnya dari menu format.

“Tunggu dulu dong, Bu!” pintanya ketika aku hendak beranjak. Aku memang selalu tak lama memberi tahu penjelasan padanya. Sengaja, aku ingin menguji daya ingat dan skill-nya. Sebab, dia adalah muridku selama dua gelombang. Selama aku menghadapinya, kurasa, dia memiliki kecakapan tersendiri dalam menguasai komputer. Dan, aku tak mau membentuk mental ‘cepat menyerah’ dalam dirinya.

Saat itu, kebetulan datang Pak Yudhi.

“Pak, kita ujiannya kapan?” tanya Wiwin, bagus! hal itu juga yang ingin aku tanyakan.

“Lho, kalian ‘kan lesnya juga baru pertengahan Februari, jadi selesainya juga pertengahan Juni?! Ujiannya nanti.”

What?

Dalam hati, aku sudah niat akan protes. Namun pertimbanganku ada tiga. Pertama, aku akan minta pandangan tutor yang lainnya. Kedua, aku akan memeriksa absensi dulu – sudah memenuhi empat bulan apa belum? Maklum, pelupa. Heu. Dan terakhir, tak enak sama anak-anak. Nanti ketahuan, instrukturnya ini tengah dilanda kelelahan. Huhu.

“Bu, ini gimana?” tanya Nitha lagi, seputar custom animation.

“Udah coba aja dulu,” Aku menyarankan.

Jujur, aku memang mengutamakan yang lain – yang baru les satu gelombang. Mereka tentu belum memiliki bekal dasar dari Microsoft Power Point. Mereka juga kerap terjebak pada cara pengerjaan yang ‘asal cepat’. Misalnya menggambarkan panah manual, padahal maksudku adalah ‘action button’. Meski demikian, aku juga tak melepaskan pengawasanku begitu saja pada Nitha. Dan kurasa dia ada di ‘track’ yang benar, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Selalu tak dianggap,” komentarnya, membuatku lunak dan duduk mendampinginya.

“Kamu itu jangan selalu begitu.”

“Begitu gimana, Bu?”

“Jangan sering men-judge diri lemah.”

“Gimana emang, Bu?”

“Jangan bilang ‘aku lupa, aku gak bisa’, itu gak baik.”

“Tapi kenyatannya memang begitu, Bu. Aku gak bisa, suka lupa lagi.”

“Berusaha dulu, otak-atik. Coba ini-itu. Penjelasannya ‘kan Bahasa Inggris, pahami aja. Jangan dulu langsung mengeluh,” Aku gemas juga, namun sikapku ini terpaksa kuterapkan demi kebaikannya. Aku ingin menempa potensi yang ada dalam dirinya, sekaligus membentuk mentalnya agar lebih tangguh lagi. So iyeh sih! -_-

Setelah jam-jam mulai berakhir, Irwansyah datang. Rupanya dia sudah ke BKD, membuat surat kuning. Alasan itu membuatku urung menasehatinya soal ketepatan waktu. Dan sampai teman-temannya sudah kelar, aku meyakinkannya untuk bertahan. ‘Kutawan’ Irwan agar aku bisa mendampinginya dengan leluasa. Dan ketika teman-temannya berpamitan, Nitha sempat mencandaiku ketika bersalaman. Haeh, balas dendam rupanya. -_-

Irwansyah belajar bersama anak-anak FLOOPPY yang hanya diwakili Nurul dan Dhika. Aku sempat bersedih. Biasanya kelas FLOOPPY itu rajin dan kompak. Hummm… mungkin mereka mulai tak tertarik, tengah ada kegiatan atau terhalau hujan, aku tak tahu. Namun terkaanku itu roboh ketika dari luar terdengar suara Yusuf, Fuji dan Tiara. Mereka datang juga. Alhamdulillaah.

gerimis, manis

“Sorry, I’m coming late, Miss,” Yusuf berbasa-basi.

“Why do you come late, Suf?” Aku meladeni percakapan Bahasa Inggrisnya.

“English Club, Miss,” jawabnya singkat.

“So, we will use English from now, right?”

“No, no, Miss. I am ‘mumet’,” jawab Yusuf. 😀

“Baiklah. Fungsi Hlookup dan Vlookup udah diajarkan Pak Ikbal, ‘kan? waktu hari Selasa?” tanyaku.

“Yang datengnya cuma Dhika, Tiara sama Fuji, Bu. Yang lainnya enggak.”

-__-

“Ya udah kita belajar fungsi ini lagi, terus dilanjut sama grafik, ya?”

“Iya, Teh!”

Anak FLOOPPY bisa mengikuti apa yang kuajarkan dengan sangat baik. Meski pada dasarnya apa yang kuajarkan bisa memakan dua pertemuan. Sedikit memaksakan sih, namun kalau semangat mereka membara, semuanya akan selalu dimudahkan. Aamiin.

Bahkan kami sempat telling stroy sejenak. Kebetulan Fuji membuka dokumen milik Sahbudin. Ada teks berbahasa Inggris yang pernah kuberikan, tentang seorang guru yang menyusupkan ajaran sesat pada murid-muridnya. Dia bilang Tuhan itu gak ada, sebab Tuhan tak bisa dilihat, disentuh dan didengar. Sampai kemudian ada seorang murid yang membalikkan keadaan. Dia bilang otak gurunya itu yang gak ada. Sebab otak gurunya tak bisa dilihat, disentuh dan didengar. Heu. 🙂

Langit di luar makin menghitam. Gerimis yang manis. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *