Jadi Orang yang Tahu Diri

Jadi Orang yang Tahu Diri

tahu dirii

“Teteh ayo ikut!” ajak nenek keponakanku (ibunya kakak ipar) yang baru TK.

Beliau mengajak keponakanku untuk datang ke acara hajatan saudaranya. Memang, ibu-bapak dan saudara-saudara sudah pada kumpul. Jadi, tentu saja tak lengkap rasanya kalau keponakanku itu tak datang.

 “Gak mau ah, Teteh gak mau ikut, soalnya Teteh suka nyusahin,” jawabnya polos.

Tak pelak, jawaban itu bikin sang nenek kelu. Jawaban spontan macam apa yang bisa beliau katakan? Yang ada dalam pikiran beliau ‘duh ternyata nih anak tahu diri banget!’.

 Tepat di hari idul fitri, keponakan cewekku – yang biasanya periang itu – mendadak muram. Bahkan ketika tangan mungilnya salaman dan menerima uang dari sana-sini, roman wajahnya tetap sendu. Wah ada yang gak beres nih!

“Gusinya kayaknya bengkak,” kata kakak iparku, menjawab rasa penasaran.

Duh, kasian. Pasti tersiksa sekali. Jangankan anak sekecil itu, kita saja (iya deh bukan ‘kita’, tapi aku) yang sudah besar bisa bete seperempat mati, kesiksa gak terkira dan sensitif bukan main ketika mengalami gusi bengkak atau sakit gigi. :/

Keponakanku itu, ketika di tempat hajatan, bukannya main sama kawan-kawannya (seperti yang biasa ia lakukan) atau berceloteh dengan suara cemprang, eh dia malah nangis terus. Jadinya kakak iparku itu membawanya pulang ke rumah. Siapa tahu, di tempat yang lebih senyap, dia bisa lebih tenang dan membaik.

Dan, menarik juga komentar nenek. Memang, keponakanku itu rasanya ‘tahu diri’. Karena dia merasa kedatangannya hanya akan merepotkan, maka dia pun memberi keputusan cukup penting, yakni tidak kembali datang ke acara hajatan.

Aku jadi ingat pesan seorang guru MTs ketika perpisahan. Waktu itu aku dkk meminta tanda-tanganpleus pesan para guru. Pesannya cukup singkat, “Semoga jadi orang yang tahu diri.”

Tendensius juga, ya? Ya kalau pikiran kita negatif (kayak saya waktu pertama kali membacanya :p), pasti kita berpikir “duh nih guru ngatain kita mesti tahu diri segala”. Tapi syukurlah, nampaknya dia menulis pesan itu pada semua siswa yang meminta pesannya, bukan personal pada diriku saja. Heu

Memang ya, kadang-kadang kita ini sering ‘tak tahu diri’ (nutup muka). Kita kerap merasa sangat berharga (tanpa menghargai yang lain), merasa paling berhak dihormati (tanpa menghormati yang lain), merasa paling keren-cantik-beken (tanpa mau mengapresiasi yang lain), bahkan merasa paling bisa menangkis segala ujian-cobaan tanpa bantuan apapun dan siapapun (sampai jarang berdoa, bermunajat dan mendekati Sang Pencipta).

Duh, sombongnya minta amplop! Padahal kalau kata orang sunda “apa atuh urang mah”, maknanya kurang lebih “apalah kita ini”. Ya apalah kita tanpa sang pencipta. Bisa jalan dengan dada membusung, bisa pamer ini-itu, bisa terbahak di atas tangis orang, dst, juga karena kita masih memiliki jatah usia. Coba kalau Allah Swt cabut jatah itu, mana bisa sombong lagi? angkuh lagi? Ckckck. Bener, ya. Yang berhak sombong itu ya Sang pencipta, bukan malah ciptaannya.

Terus lagi, kita kadang tak tahu diri kalau di dunia ini cuma numpang. Kita numpang makan, numpang napas, numpang belajar, numpang buang angin/BAK/BAB, numpang update status, numpang kerja, numpang bahagia, numpang …, pokoknya numpang hidup. Tapi kok ya, kadang-kadang kita tak acuh sama lingkungan.

Kita bikin perselisihan, tak hanya sama yang ‘beda’. Dalam persamaan pun, kita kerap pecah dan berselisih. Kita juga sering menyakiti apa-apa yang selama ini menyediakan kehidupan dan kenyaman. Kita kotori udara, kita bikin mampet saluran air, kita gunduli pohon-pohon, wah… pokoknya kita ini perusak, tapi selalu berharap semua akan baik-baik saja. Bagaimana bisa?

Padahal dalam Al Qashash: 83 disebutkan,

“Negeri akhirat itu (kebahagiaan dan keni’matannya) Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi…”

Well, mari aamiin-kan pesan dari guru Mts-ku; semoga menjadi orang yang tahu diri. Aamiin. 🙂 [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *