Jangan Mau deh Jadi Penyebar Kebaikan!

Jangan Mau deh Jadi Penyebar Kebaikan!

penebar kebaikan dan kejahatan

Kita mungkin pernah memperhatikan orang-orang terdahulu yang menyebar kebaikan. Cobaan dan rintangan bagi mereka itu buanyak pake ‘banget’! Sudah waktunya panjang, ujiannya itu susah-susah, lagi! Hiii…

Mari tengok Nabi Muhammad Saw. Karena peran beliau dalam menyebar kebaikan Dinul Islam, beliau kerap menghadapi ujian yang super duper banyak dan dahsyat. Tak hanya dari orang lain, melainkan dari para sanak-saudara sendiri. Ckckck.

Beliau dihujat, difitnah, diludahi, diancam, diasingkan, dianggap gila, dianggap pendusta, hendak dibunuh, dst dalam waktu yang panjang pake ‘sangat’. Bahkan sampai zaman sosmed begini, masih adaaa saja yang berusaha merendahkan keagungan beliau.

Mari perhatikan juga para tokoh agama. Hampir tiap detik mereka melafalkan asma Allah Swt dan mengajak ummat pada kebaikan. Mereka mengutip ayat suci Al Quran, hadist Nabi, pendapat ulama besar dsb dalam menjawab persoalan ummat sekaligus menebar kebaikan demi kehidupan akhirat. Tak ayal, mereka memiliki jutaan pengikut atau penggemar.

Namun sekalinya mereka diterpa fitnah, gunjingan atau melakukan kekhilafan… bukan main, orang-orang langsung balik mencibir dan menciderai kehormatan mereka. Para pengikutnya seolah amnesia atas segala kebaikan dan manfaat yang mereka tebar. Seolah-olah, mereka itu adalah malaikat yang pantang berbuat salah.

Terus, lihat juga tuh anak-anak muda yang menebar kebaikan walau masih pada kalangan teman sendiri. Mereka mesti berjibaku dengan modernisasi yang nyaris menggerus akhlak diri dan teman-temannya. Susah payah mereka dalam beribadah, menebar kebaikan, menjunjung akhlak dan menolak minuman keras, obat-obatan terlarang, seks bebas, fashion yang tak sesuai norma, dst. Jadi deh mereka mesti bermental baja, bermuka tembok, bertelinga besi, dst demi menanggapi respon teman-temannya semacam ‘kampungan’, gak trendy, sok alim, dst.

Beda lagi dengan para penulis yang menebar kebaikannya. Mereka berusaha menyisipkan kebaikan di tiap deretan kata yang diutus dalam sebuah karya. Butuh renungan, butuh referensi, butuh perasan otak, butuh asah mental, juga butuh skill supaya tulisan mereka tidak terkesan menggurui dan mampu menelusup dalam hati tiap pembaca.

Meski demikian, mereka tetap saja mesti mencicipi ‘kripik’ pedas level atas. Respon semacam “emangnya kamu sendiri udah baik sesuai tulisanmu?” menjadi langganan. Bahkan mereka disebut-sebut cari perhatian, sok bijak, sok suci, dst lewat tulisan-tulisannya itu.

Duh… banyak deh kisah dan konsekwensi ‘memilukan’ dari orang-orang yang hendak menebar kebaikan dengan cara dan medianya. Atau… kita pribadi sudah berusaha dalam jalur ‘kebaikan’, namun ketika keburukan di depan mata sendiri? kadang kita tak mampu menegur atau melarangnya. Kata Nabi Saw, itu adalah selemah-lemahnya iman.

Tak heran, syetan senantiasa mengembuskan saran; “Jangan mau deh jadi penyebar kebaikan! Beresiko! nanti kamu dijauhi manusia, dianggap gak asyik, tanggung jawabnya berat, dikira gak update, gak ngikutin zaman, bla bla bla….”

Padahal eh padahal…

  • Saling menasehati dalam kesabaran dan kebaikan itu sudah tertera dalam firman Allah Swt. (Q.S Al Ashr)
  • “Kebaikan itu sangat banyak coraknya, namun sedikit sekali yang melakukannya”. (Al Hikam)
  • Terus… jika seseorang melakukan kebaikan yang kita nasihatkan, maka kita akan kecipratan pahalanya. Tapi… bukan berarti kita hanya menasehati, lalu ‘bye’ tanpa aksi.
  • Nasihat itu biasanya akan menjadi cermin. Sewaktu-waktu, ia bisa memantulkan diri.
  • Soal suatu saat berbuat salah, khilaf dan lupa… itu memang kodrat manusia. Selama segera menyadari dan bertaubat sih tidak masalah. Yang jadi masalah, kita cuek saja dengan kesalahan dan kekhilafan itu. Padahal… takut karena berbuat dosa itu lebih baik ketimbang bangga karena berbuat positif, bukan?
  • Allah Swt menjanjikan balasan kebaikan untuk kebaikan. Kalau Dia yang sudah berjanji, mustahil ingkar janji. Kita dijanjikan menuai jagung ketika menanam jagung. Kita dijanjikan menuai ubi ketika menanam ubi. Ya, kita dijanjikan menuai ketika menanam kebaikan.

Dan, balasan kebaikan itu tidak melulu berwujud harta benda. Bisa juga ‘kan Allah Swt menyelipkannya dalam ketentraman jiwa, kejernihan hati, kemudahan dalam hidup, kesholehan anak-anak kita, keharmonisan keluarga, kesehatan jasmani, kharisma, rasa hormat dan sayangnya orang-orang, dst.

pahala
So… buah dari berbuat baik, berkata baik, menulis kebaikan dan menebar kebaikan itu pasti ada dan tak akan tertukar. Adapun ujian dalam prosesnya itu bisa jadi bikin ciut, bisa juga jadi pecut. Tergantung orangnya, bermental pejuang apa pecundang? ^_^ Wallahu a’lam. [#RD]

*July 8, 2013

2 Comments
  1. Jejak Parmantos
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *