Kala Laki-laki Jadi ‘Terbuka’, Kita Bagaimana?

Kala Laki-laki Jadi ‘Terbuka’, Kita Bagaimana?

lelaki cerewet

“Aku cerewet kayak gini cuma ke Teteh,” tutur jujur adik pertamaku, Isal, “Kalau di hadapan orang lain, aku dingin. Kalau di hadapan teman, aku gila. Pokoknya melakukan hal-hal bodoh itu menyenangkan!” cerocosnya lagi.

Jujur saja, selama ini aku tidak mengamati atau menyadari bagaimana komunikasi yang terbentuk diantara kami – aku dan dua adik kandungku. Yang kutahu, kami memang sangat dekat dari kecil. Kerap bermain bersama, pergi ke mana-mana juga selalu bertiga. Mungkin karena usia kami yang terpaut dua tahun dan lima tahun dengan si bungsu. Atau, mungkin juga karena mereka nyaman memiliki kakak sepertiku. Wew! :p

Apalagi ada beberapa hal yang membuat kami makin ‘kompak’ dalam hal komunikasi. Kalau dipikir-pikir, alasannya begini; kami memiliki ketertarikan pada musisi Iwan Fals, kami sama-sama suka nonton bola dan mendadak jadi komentator ulung, sering jahil-menjahili, kami kerap terlibat dalam diskusi-diskusi (dari hal seserius politik sampai dengan sesederhana telapak kaki), dan tentu saja, suka curhat. Jadinya, kami cukup banyak memiliki ‘stok obrolan’.

Aku pribadi sebetulnya agak tertutup pada mereka. Aku lebih banyak memposisikan diri sebagai pendengar, ketimbang orang curhat. Kecuali, kalau ada hal yang tidak aku setujui atau sukai, maka aku akan lebih bawel dari seorang penyiar. Atau, ketika mereka bertanya sesuatu padaku. Aku akan menjawabnya dengan suka cita. Gimana, ya. Aku memang lebih nyaman bercerita pada yang sebaya.

Kalau mereka lain lagi. Kedua adikku, Isal dan Beni, kerap curhat soal kuliah, kehidupan, dan cinta. Kami mengobrol di ruang tamu, di kios, di perjalanan atau di mana saja. Humm… ternyata laki-laki juga bisa terbuka. Walau demikian, kuyakin laki-laki tidak terbuka pada sembarang orang. Maksudnya, keterbukaan mereka itu tidak seperti terbukanya perempuan. Kalau kaum hawa ‘kan segala-gala pengin saja dikomentar, dibicarakan.

“Hormon oksitosin akan muncul mengurangi stress ketika berbicara,” begitulah kata John Gray Ph. D.

Jadinya aku menganggap normal-normal saja jika ada laki-laki yang curhat. Cara ini memang terbukti efektif meringankan suatu beban. Toh, itu hak ‘kan? Lagipula, curhat tidak tiba-tiba membuat seorang laki-laki jadi lemah, cengeng atau tak jantan. Iya, ‘kan? Heu

Yang jelas, kebiasaan curhat adik-adikku hanya padaku adalah suatu kebanggaan. Betapa tidak, menjadi tempat curhat berarti ada yang memercayai kita. Kita dianggap bisa jaga rahasia, bisa memberi saran atau bisa jadi pendengar yang baik. Bukankah menjadi atau mencari pendengar yang baik itu susah? Kita kerap kali risih untuk mendengar orang curhat, maunya kita sendiri yang didengarkan. Karenanya, ada syarat-syarat tertentu agar orang bisa tetap menaruh kepercayaan. Beberapa diantaranya yaitu:

  • Harus sabar jadi pendengar. Sebisa mungkin kuberi waktu untuk adik-adikku menyampaikan segenap unek-uneknya. Walau ‘ingin’ ikut curhat atau bahkan ingin kabur, tahan!
  • Jangan menyela saat omongan sedang ‘tanggung’.
  • Beri respon walau sesederhana gumaman ‘hmm’, ‘gitu,ya’, ‘oh’, dst.
  • Jangan menyalahkan orang curhat atas problem yang dihadapinya.
  • Jangan meremehkan masalah apapun yang tengah dihadapinya, walau memang menurut kita sepele. Orang yang tali sepatunya panjang sebelah saja bisa sampai galau-beliau, ‘kan? Wehehe.
  • Kalau tidak bisa memberi solusi, setidaknya kita meyakinkan orang yang curhat, kalau kita siap mendampingi dan menemaninya dalam keadaan apapun. Ini yang sering kita sebut sebagai dukungan moril, dukungan yang non-material, tapi berpengaruh besar.
  • Jangan khianati kepercayaan mereka, dengan membocorkan isi curhat mereka. Apalagi setelah mereka benar-benar ‘menitipkannya’. Biasanya orang akan ragu atau bahkan tak sudi untuk curhat dua kali pada orang yang kedapatan pernah ‘comel’ atau ‘bocor’.

Akhirnya… jika ada masalah dan kesalahpahaman, dengan siapapun, mari bicarakan. Sambil ngopi atau ngeteh? Hehehe. ^_^ [*]

2 Comments
  1. devina putri
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *