Kapankah Seorang Teman Berubah Menjadi Musuh?

Kapankah Seorang Teman Berubah Menjadi Musuh?

kala teman jadi musuh

“Musuh yang berakal itu jauh lebih baik ketimbang teman yang bodoh.”

Pepatah di atas cukup menarik. Orang bisa menafsirkannya dengan liar. Ada yang bilang, pepatah itu berarti kita bisa mendapatkan lebih banyak hal dari musuh yang pintar ketimbang dari teman sendiri, namun dia kurang pintar. Musuh yang berakal membuat kita ikut memutar otak dan menjadi kreatif, sementara teman yang bodoh justeru hanya merepotkan.

Kurang lebih begitulah tafsirannya. Well… kejam, ya? Nah di sinilah bisa kita tarik kesimpulan, kalau seorang teman bisa berubah jadi musuh ketika kita kehilangan apa yang kita miliki sebelumnya, entah itu berupa otak encer, harta benda, popularitas, skill, dst. Itulah kenapa, di sinetron-sinetron kita sering lihat seseorang yang dulu dikerubungi teman justeru malah diasingkan ketika dia terpuruk dan tak berdaya.

ketika teman berubah jadi musuh

Kalau boleh ditambahkan, teman bisa jadi musuh ketika terjadi pengkhianatan. Wuih. Sikap seperti ini, dimana-mana – baik itu dalam cinta, bisnis, pemerintahan dan juga persahabatan – memang jadi pemantik permusuhan paling ajib. Hati-hati deh sama pengkhianatan, bisa-bisa memupus rasa percaya satu sama lain. Sepakat, ya?

Dan ngomong-ngomong soal ‘bodoh’ seperti pepatah di awal, bodoh itu terjadi ketika kita tidak mengetahui dan memahami suatu urusan. Coba renungi seberapa banyak ‘teman-teman bodoh’ kita. Mereka bisa-bisanya ikut menangis saat kita menceritakan kepedihan, mereka bisa-bisanya bertindak gila demi menghibur kita, mereka bisa-bisanya jingkrak-jingkrak demi merayakan kebahagiaan kita. Gimana? ‘Teman-teman bodoh’ seperti ini bisa terlihat jauh lebih tulus, bukan?

Atau, kita ingat-ingat lagi kata bijak sekaligus jadi tips mengenal sahabat sejati; dialah yang tetap sudi menemani sedalam apapun kita jatuh. Bisa kita luangkan waktu sejenak ketika kita berada pada titik tertinggi, orang-orang yang mengelilingi mestilah sangat banyak. Sebaliknya, ketika kita berada di level dasar, berapa gelintir orang yang tetap berada di sisi? Camkan wajahnya, pahat namanya dan niatkan untuk membalas kebaikannya.

Namun ketika teman hanya menginginkan sesuatu dari kita, tak peduli bagaimana kondisinya, maka berhati-hatilah. Boleh jadi, ketika apa yang dinginkannya telah terpenuhi atau sirna, maka end pula kesungguhannya untuk berteman. Begitulah cara mereka berteman, hanya memetik manfaat dari kita. Dan begitu pula cara mereka menjauhi atau tiba-tiba raib dalam kehidupan, tepatnya saat tak ada yang bisa diharapkan lagi dari diri kita.

Teman menjadi musuh…

Ungkapan di atas sejatinya begitu ironis. Hal itu bisa kita rasakan, atau malah bisa juga kita lakonkan. Kita bisa mendapati teman semacam demikian, atau malah menjadi teman bertipe demikian. Mau? [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *