Karena Jilboobs, Muslimah Tersudut

Karena Jilboobs, Muslimah Tersudut

karena-jilboobs-muslimah-jadi-tersudut

Astaghfirullaah benar-benar saya merasa terhina dengan komunitas ini.” (NS-Cewek)

Oww… shit! Lebih baik akhlak cewek dugem daripada dia (wanita jilboobs). Sama saja melecehkan agama.” (EP-cowok)

Percayalah cewek model kayak gini dicari cuma untuk dipacarin doang sebagai pelampiasan nafsu, bukan untuk dijadikan istri.” (RA-cowok)

Sama aja mempermalukan Islam dan mempermalukan diri sendiri.. segera tobat..” (RA-cewek)

Memalukan! Kalo penampilannya kayak gitu mending gak usah pake baju, bukankah hijab itu seharusnya ditutup, bukan dipamerin lekuk tubuhnya..” (ABW-Cowok)

Demikianlah sample komentar yang aku kutip secara acak. Mereka tengah menanggapi salah-satu foto yang diunggah sebuah Fans Page khusus  jilboobs, FP yang sekarang-sekarang ini amat meresahkan kita. Tak kutulis semua komennya. Selain komentar-komentarnya bejibun, aku memang gak kuat menyimaknya. Terlalu banyak kata-kata dan gambar-gambar tak sepantasnya.

Walau demikian, banyak juga beberapa akun yang menasehati, saling mengingatkan dan mendoakan. Hanya miris saja, komen mulia itu tumpang tindih dengan komen bahkan pict yang tidak baik. Entah ada yang tersadarkan atau malah tak acuh. Wallaahu a’lam. Tapi aku mengimani, sekecil apapun kebaikan kita (dalam bentuk tulisan komentar sekalipun!) – pasti malaikat akan mencatatnya sebagai suatu amal mulia.

Jilboobs, Mode dan Nilai Islami

 “Mengikuti mode tidak lantas melanggar syar’i.”

Begitulah tulis Mbak Asma Nadia di republika.co.id. Sebagai penulis papan atas, pastilah tulisan beliau “dianggap” betul oleh para pembacanya. Aku pun demikian. Memang, kita tidak bisa membuat rumus mengikuti hijab masa kini = melanggar syar’i. Tidak adil juga.

Meski tidak bisa dipungkiri, salah satu penyebab munculnya jilboobs adalah usaha muslimah untuk tampil Islami – sekaligus trendi – malah ternyata keliru. Kita kerap terfokus pada ‘bagaimana caranya supaya tampil gaul’, dibanding dengan ‘bagaimana supaya nilai Islamnya tidak luntur’.

Tapi sudah terbukti. Sekarang banyak kok gaya-gaya berhijab yang tak kalah fashionable-nya dengan baju biasa. Bahkan jadi trend lagi! Nah Dian Pelangi (designer pakaian muslim) membagikan tips supaya kita tidak dikategorikan sebagai jilboobs. Tips tersebut ditulis wollipop dan aku rangkum:

Gunakan Hijab Panjang

Kata Dian Pelangi, hijab syar’i justeru sedang ngetrend. Banyak hijabers yang kini memakai hijab menutup dada dan tidak menggunakan busana ketat. Untuk yang dadanya besar, Dian merekomendasikan untuk memakai hijab panjang di bagian depan.

Pakai Syal

Syal atau scarf panjang menutupi bagian dada. Selain itu, bisa membuat penampilan sedikit lebih modis. Syal bisa diterapkan ketika ingin menerapkan gaya hijab turban, maksudnya model hijab yang menghabiskan sebagian besar kerudung pada bagian kepala dan leher, ada yang agak belibetada pula yang instan (dream.co.id). Dilihat dari modelnya, hijab ini memicu ‘tereksposnya’ bagian dada. Karena itu, para pemakai turban biasanya menyiasati dengan tambahan scarf  atau outer.

Gunakan Atasan Berpotongan Lebar

Tips lain, masih menurut Dian Pelangi, kita juga bisa menggunakan atasan Batwing, kaftan, oversized blouse, oversized cardigan dan sweater. Semuanya bisa menjadi opsi bagi Sist yang tetap ingin tampil Islami sekaligus stylish.

muslimah

Kini, Jilboobs Agak “Mengusik” Kemajuan Hijab. Jadi, tanggapan kita mesti bagaimana?

Apa kita akan berpihak pada para penghujat, atau para pemberi nasihat?

Well, tentu Bro-Sist rosediana.com punya penilaian sendiri. Kita bebas berpendapat, asal bijak. Yang jelas, soal jilboobs ini ada satu pihak utama yang sangat tersudutkan, yakni para muslimah atau perempuan-perempuan yang beragama Islam. Kenapa? Karena yang tengah diperbincangkan adalah perempuan berhijab, dan hijab adalah pakaian khas Islam.

Bisa kita tengok ulang komentar teratas (dari Saudari NS),

“Astaghfirullaah benar-benar saya merasa terhina dengan komunitas ini.”

Agaknya, tanggapan itu mewakili suara hati para muslimah masa kini. Betapa tidak, karena fenomena jilboobs, muslimah begitu tersudut. Mending kalau ada yang arif bijaksana, nah banyak yang ‘menyamaratakan’ semua muslimah. Bahwa muslimah zaman sekarang itu hanya menggunakan hijab sebagai aksesoris belaka, sebagai ‘alat’ menarik perhatian, sebagai topeng, dan lambang kemunafikan. Padahal isinya sama saja seperti perempuan-perempuan lain, bahkan mungkin lebih buruk. Astaghfirullah. Bener-bener deh, kita semuanya  (laki-laki, perempuan, muslim dan non muslim) lagi diuji.

Untuk menyikapi jilboobers, mari kita:

Kembali pada konsep berpakaian secara Islami

Masih ‘mencatut’ pendapatnya Mbak Asma Nadia (republika.co.id), bahwa ada tiga unsur terpenting; tertutup, tidak transparan dan tidak membentuk. Jadi bagi kita yang selama ini ternyata ‘masuk kaum jilboobs’, bisa segera mawas diri dan berubah – tetap tampil modern, namun mempertimbangkan tiga hal yang jadi patokan berpakaian dalam Islam. Adapun yang tengah belajar atau berproses, mari introspeksi diri lagi dan dalami Islam terus. Karena ternyata, hijab bukan saja ditujukan untuk mempercantik diri, melainkan melindungi keindahan yang Allah titipkan.

Tak perlu bullying, tapi ingetin dan doain

Kalau saja dengan membully jilboobers, page jilboobs atau site-nya bisa berakibat pada tobat, tentu aku juga mau ikut-ikutan. Tapi ternyata tidak. Yang menggelontorkan kecaman, kutukan, cacian atau makian banyak, tapi mereka bergeming, malah tambah liar. Sudah dapet catatan minus, gakngefek lagi. Habis, emosi sih!? Sama, kita semua marah, geram. Tapi di sinilah titik ujiannya. Apa bisa kita membendung diri?

Tapi ada cara lain. Kita bisa ingetin dan doain. Lha, kalo gak didenger? Yah… soal hidayah atau terketuk-tidaknya pintu hati seseorang, itu urusan Allah Swt. Tapi, pasti keren kalau kita ‘menyumbangkan’ nasehat dan doa untuk mereka. Yang penting kita sudah beramal ma’ruf nahi munkar, bukan?

Hargai usaha/proses

Ketika keburukan terpampang nyata di depan kita, memang bikin resah. Namun kita sebisa mungkin berpikiran positif, bahwa para jilboobers itu – layaknya kita – yang masih sedang belajar menerapkan Islam dalam kehidupan. Mudah-mudahan perjuangan kita untuk go better ini berkah.

Kita semua bersaudara, harusnya prihatin bukan malah menghujat

Lihat foto-foto jilboobers yang diunggah secara massive, memang memahatkan perasaan malu dan prihatin tersendiri. Apa iya wajah-wajah dalam poto itu tahu kalau diri dan gaya hijabnya tengah diperbincangkan orang? tengah jadi objek oknum-oknum? bahkan, tengah dilempari berbagai komen tak sedap?

Kita pun suka tidak sadar untuk ikut nge-bully mereka. Padahal mereka juga sama dengan kita. Sama-sama perempuan, sama-sama satu atap di dunia, sama-sama satu negara atau bahkan sama-sama beragama Islam. Ke mana hati putih kita ketika memaki saudara sendiri karena tak sesuai aturan agama? Kenapa kita memilih untuk memojokkan, padahal memojokkan saja tak mengurai benang kusut permasalahan. Dan, kenapa kita kerap tak menyempatkan diri untuk menasehati dan mendoakan saja? (tanya hatiku sendiri).

Bisa jadi, jilboobs adalah “Alat” Sejumlah Oknum

Emang bisa? Emang mungkin?

Apa yang gak bisa? Apa yang gak mungkin?

Sudah jadi rahasia umum. Banyak yang benci dengan booming­-nya hijab, dengan kokohnya derajat Islam dan dengan muslimin yang berpegang teguh pada ajaran Islam. Karenanya, patut dicurigai bahwa adanya jilboobs ini merupakan rekayasa pihak-pihak yang; ingin mengalihkan isu (Gaza – Palestina jadi kurang ter-blow up lagi, kita jadi jarang ‘menengok’ saudara-saudari di timteng, kita jadi teledor dengan ancaman ISIS, dst), ingin menurunkan citera Islam dan ingin memenuhi kepentingan pribadi.

Ihdinashshiroothol mustaqiim…

Ya Allah, tunjukan kami jalan yang lurus. Aamiin. [#RD]

*13 Agustus 2014

4 Comments
  1. Hanu
    • deeann
  2. Hijab
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *