Kata-kata Bijak Plagiat

Kata-kata Bijak Plagiat

kata-kata-bijak-plagiatIngat di akhir tahun. Murid-murid akan pergi dengan kesibukan mereka dan kau tetap di tempat yang sama…”

Ini bukan kata-kataku, melainkan petikan film Carossel. Daku masih ingat, kata-kata ini diucapkan oleh ibunya Helena – seorang pengajar.

Kalau dipikir-pikir memang betul, ya. Ketika udah masuk masa berakhir pembelajaran, murid-murid mah ber-euforia merencanakan bakal ke anu, bakal jadi anu. Lha pengajarnya? Stay di tempat yang sama dan menunggu angkatan berikutnya, wajah dan cerita berikutnya pula.

Kali ini, daku menyelenggarakan uji kompetensi 1 gelombang 2 tahun 2014. Sebelumnya, daku dkk udah ‘meng-agak-sukseskan’ uji kompetensi 1-3 gelombang 1 tahun 2014, Mei-Juni kemarin. Kenapa ‘agak sukses’? karena ba’da ujikom, ada sesuatu yang ya… kurang sreg saja. Sorry, ya. Ini intern. Jadi belum bisa dipublikasikan secara bebas. *Halah! 😀

Beda dengan sekarang. Daku dihadapkan pada 13 (tiga belas) murid jadwal ujian Senin (15092014). Mereka adalah Imron, Koko, Anisa, Ardiana, Dhea, Adi, Hani, Didah, Eri, Risma, Nur, Ina dan Asih. Secara umum, daku suka sama mereka.

Sudah disebutkan di postingan yang lalu-lalu, kalau murid-muridku yang angkatan sekarang itu mayoritas berasal dari Madrasah Aliyah. Mereka juga rajin mengaji. Jadi kalau murid/siswa sudah punya basic agama yang bagus, dijamin enggak repot. Daku percaya sholat mereka, kesopanan mereka dan kebaikan-kebaikan lain mereka.

Kecuali modernitas, hal yang satu ini memang masih membelenggu kita (daku, mereka dan pembaca postingan juga – red :D). So, kita masih harus saling ‘nepuk’ untuk mengingatkan. Kita harus sama-sama berjuang mengikuti zaman, namun tak sampai mencopot keimanan. Ciyusan,yang namanya godaan emang enggak ada yang menggoda, apalagi modernitas ini! :v

Atas dasar sayang, pengin menghibur sekaligus menggali potensi mereka, daku mengadakan kuis membuat quote bijak atau tentang motivasi karya sendiri. Waktunya seminggu dan dikirim ke no ponselku. Soal reward memang kecil, cuma pulsa 5k untuk enam pemenang. Tapi, mereka begitu antusias. Daku sampai mesti menghapus pesan-pesan pribadi demi meloloskan buah karya mereka.

Sesuai janjiku. Kuumumkan hasilnya pada hari Senin ini. Pilihanku jatuh pada Nur, Dina, Hani, Risma, Anisa dan Adi. Kalau boleh jujur, sebenarnya quote mereka bukanlah sesuatu yang baru. Nur tentang keharusan bersyukur di setiap keadaan, Dina tentang keharusan mengendalikan emosi, Hani tentang keharusan memperbaiki diri ketimbang larut dalam rasa bersalah, Risma tentang keharusan untuk bangkit setelah terpuruk, Anisa tentang persahabatan dan kepimpinan sedangkan Adi tentang kewajiban sholat.

Sayang, aku enggak bisa menuliskannya di sini. Karena sms yang masuk begitu banyak dan HP-ku takut ngomel, aku hapus karya-karya adik didikku itu. Maklum, pakai HP biasa-biasa saja. Tapi iya, daku mengaku salah dan khilaf udah nge-delete sebelum ‘mengamankannya’ di sini. Maafin, ya.

Namun dibandingkan yang lain, tulisan mereka terbaca merupakan sesuatu yang pure buah ide sendiri. Daku paham, kita ini cuma ‘mendaur ulang’ gagasan-gagasan yang sudah ada. Sebelum-sebelumnya pasti buanyak yang menciptakan quote cinta, keluarga, karier, persahabatan, dst. Angkatan unyu-unyu kayak kita kebanyakan merombak kata-kata, ujung-ujungnya di situ juga.

Beda dengan beberapa anak yang memilih mengirim quote mainstream. Seperti; hiduplah seperti lilin yang berani mati demi penerangan atau pengetahuan adalah tiang kehidupan. Daku langsung diskualifikasi. Bukan. Bukan karena quote-nya sesat, namun karena secara langsung mereka mengakui kalau kata-kata bijak itu bikinan sendiri. Padahal daku sudah wanti-wanti agar membuat redaksi katanya versi diri sendiri.

Ini keputusan saklek, enggak bisa diganggu-gugat apalagi dibawa ke MK. 😀 Semua ini demi menanamkan sikap pada kita (daku, kamu dan peserta ajang cipta quote) untuk menghindari aksiplagiarism, sekalipun itu dalam kata-kata bijak/ kata-kata intan/ kata-kata mutiara, dst.

Jadi ingat status-status fesbuk dan tweets. Banyak sekali kata-kata mainstream yang ujungnya tidak menyebutkan siapa penciptanya, seolah-olah itu bikinan orang yang punya akun. Atau, oke lah kata-katanya udah gak mainstream lagi, tapi copas murni dari status atau tweets orang. Ini juga sama, ya. :v

Maka, kolom status sama tweets ini jadi dilema tersendiri. Di satu sisi, kolom ini mampu menuangkan gagasan dari level gak penting sampai penting banget. Tapi di sisi lain, kolom ini juga berisiko memicu aksi plagiarism. Terlebih, kalau penggunanya masih muda-belia fresh ulala.

Yang bikin mesti legowo kalau tetiba kata-kata buatannya, suatu saat, menyebar dan sama-sekali tak mencatut namanya. Termasuk karya tulis. Sudah risiko kalau buah pena kita masuk dunia media sosial, otomatis semua orang akan bebas menikmatinya. Mending kalau menikmati, kalau menjiplak?

memplagiat ide orangKayak yang udah-udah, nanti bakal lebih banyak kata-kata bijak bertebaran, tapi kita tak akan pernah tahu siapa pencetusnya. Karya-karya lain, seperti ‘kata-kata baru’, lagu anak bahkan lagu nasional pun kadang kita tak acuh untuk tahu, otak siapa yang diperas untuk membuahkan karya itu. Bayangkan kalau kita yang berada di posisi itu, Saudara! :O

Ujung-ujungnya kita akan menyematkan ‘NN’ alias no name di sebuah karya, yang penciptanya terlupa. Atau yang lebih parah, kita mengaku-ngaku deh. Haa! mudah-mudahan jangan sampai, ya. [#RD]

Gambar: Google Image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *