Kebetulan itu Ada atau Tidak, Ya?

Kebetulan itu Ada atau Tidak, Ya?

kebetulan

Sahabat SMA-ku, Inoy, menghubungi dalam waktu yang tepat. Ia yang merantau ke ibukota, tiba-tiba saja memberitahu bahwa dirinya tengah berada di kampung halaman.

Dia pun yang mengajakku menengok seorang sahabat SMA lain, Cha, yang tengah terbaring sakit. Kebetulan sekali. Aku sangat ingin melihat langsung kondisi sahabatku itu. Sayang, dengan alasan dibelit skripsi dan tak ada teman, aku selalu tak mau mengatur waktu. Selalu saja waktu yang mengatur-ngaturku. -___-‘

Namun… ajakan Inoy itu tak lantas aku sambut. Di hari yang sama, aku memiliki agenda mengikuti seminar nasional. Mengingat skalanya nasional dan topiknya pun cukup update, aku enggan melewatkannya. Tak ayal, sms dan inboks dari Inoy hanya kubaca dan kubiarkan dulu tanpa jawaban. Aku hanya takut, ketika janji telah dibuat, malah nanti kuingkari sendiri. Maka, yang aku pertimbangkan adalah; bagaimana caranya agar kedua agenda itu bisa kujalankan semuanya?

Akhirnya ada kabar seminar tersebut digelar siang hari, pukul 12.00 (karena jam karet, paling mulai jam 13.00). Maka, pagi-pagi aku dan Inoy saling berbalas sms, mendiskusikan kapan hendak menengok Cha. Aku meminta waktunya sebelum dzuhur. Tak berapa lama, jam 10 menjadi kesepakatan kami. Kami pun berangkat bersama. Ketika tengah dalam perjalanan itulah aku baru tahu kalau Inoy tengah berduka. Ia pulang kampung dahulu sebab ada seorang sanak familinya yang meninggal dunia. Innalillaahi wa innailahi rooji’uun.

Kami berdua tak henti-hentinya saling tukar cerita. Maklum, kami merupakan sahabat yang sangat jarang berjumpa. Terakhir ketemuan saja bulan Januari 2012 kemarin. Kontras dengan masa SMA. Biasanya bertemu tiap hari atau hanya dipisah weekend dan liburan pun selalu saja ada kisah yang dibagikan. Tak ayal, kami seperti memiliki topic tak terbatas untuk diperbincangkan. Seperti biasa, derai tawa selalu terselip di sela-sela obrolan kami. Begitulah, kalau sedang bersama sahabat lama, yang ada itu hanya membicarakan masa lalu yang konyol dan gokil. Tertawa, menertawakan diri sendiri. Semuanya mengalir menyenangkan dan segala kegalauan masa kini seakan menepi. Kebetulan sekali.

Tak lama, kami tiba di rumah Cha. Karena kedatangan kami yang mendadak, dia terlihat cukup kaget. Lagi-lagi, kami saling menggelontorkan hal-hal menarik. Topik yang mendominasi seputar masa-lalu. Kami bisa saling balas-membalas atau sambung-menyambung tentang topic itu. Namun begitu Inoy menceritakan pekerjaannya dan kota Jakarta, aku dan Cha memilih diam – menjadi pendengar yang baik dan benar. Heu

Sayang sekali di sela-sela kebersamaan kami, teman-teman kampusku kerap mengirim pesan. Kebetulan kami berencana akan berangkat bersama untuk menghadiri seminar nasional itu. Karena N merupakan teman SMA juga, kuundang saja dia ke rumah Cha. Menanjak siang, N pun tiba dan memiliki kesempatan untuk menengok Cha.

Entah dari mana awalnya, sebelum aku dan N pamit, kami membicarakan MABIT (Malam Bina Iman dan Takwa) sejenak. Kebetulan adik kelas kami yang masih SMA kelas XI, V, mengirim pesan berisi undangan untuk menghadiri MABIT ke-4 atau terakhir (sertijab). Sungguh, dalam hati aku merasa sangat tak enak. Aku memang belum pernah memenuhi semua undangan MABIT. Padahal ekskul Rohis menjadi salah-satu yang mengakrabkanku dengan para sahabat SMA. Namun sekarang, terbersit keinginan untuk datang walau sebentar.

“Ya udah, nanti pulang seminar, kamu kembali lagi ke sini (rumah Cha). Terus nanti kita berangkat bareng ke acara MABIT SMA…” begitulah kira-kira kesimpulan yang Inoy sampaikan.

Baik aku dan N setuju. Sekilas juga kami singgung masa-masa menjadi anak Rohis. Inoy menjadi ketua K4 (bidang kebersihan, keterampilan, dll), N menjadi ketua akhwat (anggota perempuan) dan aku sebagai sekretarisnya. Beberapa kali aku ‘kena’. Walau bagaimanapun, N yang merupakan atasanku, tahu bagaimana ‘nakal’-nya aku. Sedikit sadar itu pas disumpah. Masih ingat saja betapa bergetarnya aku, ada Alqur’an di atas kepalaku. Mungkin para pejabat dan anggota dewan yang disumpah seperti itu juga memiliki kadar dagdigdug yang sama, ya?! -__-‘

Ah, sayang sekali kebersamaan itu terasa sangat singkat. Aku seperti kekurangan waktu untuk terus sambung-menyambung melumerkan kepenatan kuliah dan segala masalah. Namun di sisi lain, aku percaya bahwa semua ini bukan kebetulan belaka. Allah Swt yang telah mengatur waktu dan menggerakkan hati kami untuk saling bertemu. Meski sejenak, namun pertemuan dengan sahabat lama itu akan selalu berkesan. Ya, setelah dipisah jarak dan kesibukan, pertemuan dengan mereka pun serasa ‘mahal’. Kadang, sudah jauh-jauh hari kami merencanakan pertemuan, eh ujung-ujungnya gagal. Kadang juga, tak ada rencana sama-sekali, kami bisa tiba-tiba berjumpa. Heheh

Aku dan N pun berangkat. Di kampus, P dan S bergabung dan kami pun sholat dzuhur. Selesai beribadah, kami berempat masuk ke gedung tempat seminar. Maksud hati ingin duduk di kursi belakang saja, eh ketiga temanku malah memapahku menuju deretan kursi ke-5 dari depan. Ketika telah duduk mantap, dari arah kanan beberapa teman kuliah sekelasku melambai-lambaikan tangan.😀

Lucu juga, aku malah bergabung dengan N, P dan S yang bukan sekelasku. Tapi selagi nyaman, why not?! 🙂

Tema seminarnya menarik: Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui Kurikulum 2013”. Seminar nasional hasil kerja sama Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia dan Program Study Bahasa Inggris UNIKU itu berisi seputar bedah kurikulum 2013 ditilik dari sisi pro-kontranya. Nah untuk pembahasan lebih lanjut mengenai kurikulum 2013, monggo simak postingan selanjutnya, di sini. Terima kasih n salaam. ^_^ [#RD]

Gambar: Google Image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *