Keluarlah, dan Kita Tak (Lagi) Sendiri

Keluarlah, dan Kita Tak (Lagi) Sendiri

keluarlah kamu enggak sendirian 2

Dasar manusia pilihan, Insan Kamil alias Manusia Sempurna, dialah Nabi Muhammad Saw yang sabdanya sangat akurat. Tiap katanya adalah penyejuk, petunjuk dan kebenaran sejati. Seperti sabda beliau berikut, yang isinya kurang lebih begini, “Lihatlah ke bawah untuk urusan dunia dan lihatlah ke atas untuk urusan akhirat.”

Penggalan lisan beliau sebenarnya bisa dijadikan tips hidup yang baik dan benar. Simple. Hanya ada dua; lihat ke bawah untuk urusan dunia dan lihat ke atas untuk urusan akhirat. Coba kalau kita balik, lihat ke atas untuk urusan dunia dan lihat ke bawah untuk urusan akhirat, bisa-bisa hidup kita jumpalitan tak tentu arah.

Suatu pagi ketika admin ~d~ hendak membantu ibu di pasar, kakak menelpon. Dia bilang akan pergi ke Rumah Sakit membawa anaknya yang kedua, yang baru berusia sekitar 11 bulan 23 hari. Kebetulan keponakanku itu tengah batuk. Namun yang bikin kami khawatir dia itu seperti sesak, napasnya berisik dan terlihat payah/loyo. Ketika Si Mungil hendak dibawa ke dokter spesialis anak untuk diuap (lagi), ternyata tempat praktiknya libur. Terpaksa, kakak saya melarikannya ke bidan terdekat. Namun karena tak ada perubahan signifikan, ia pun memutuskan untuk membawanya ke salah satu Rumah Sakit Daerah. Sebagai ibu, beliau tentu tak akan merasa tenang sebelum kesehatan buah hatinya baikan. Apalagi tetangganya mengompori, ‘hati-hati terkena ISPA’ atau ‘jangan sampe deh paru-parunya kena!’

“Aku ikut!” tawarku.

“Jangan, bantu ibu saja.”

“Ada adek. Pokoknya aku ikut!” Aku bersikukuh dan nampaknya kakak memang ‘ingin’ aku mendampinginya. Kebetulan suami beliau tengah ke luar kota juga, jadi mesti ada pendamping yang siaga membantunya. Apalagi dia mau tak mau harus mengajak anak pertamanya, yang kini berusia lima tahun. Jika keukeuh, bisa repot sendiri. Alhasil, kami putuskan akan pergi berempat.

“Sekarang paling pada apel pagi dulu, nanti aja berangkatnya,” kata kakakku.

“Jam setengah delapan aja,” usulku, karena memang membayangkan bagaimana itu prosedur RS.

Kakak nampak berpikir sejenak, lalu mengiyakan saja. Segera saja kami berangkat. Tak sampai tiga puluh menit, angkutan umum yang kami naiki menepi di Rumah Sakit. Ah, aku tak suka ‘aroma rumah’ ini. Di sini ladang kepiluan, kecemasan, kesedihan, rasa sakit, derita dan kehilangan. Walau kadang, terselip secercah harapan.

Di sana-sini banyak himbauan agar kita berolahraga dan hidup sehat, padahal kita tahu… para pegawai Rumah Sakit bisa dapat uang dari orang-orang sakit. Eh maaf, bercanda. Hehe

Dari luar, memang aktivitasnya tidak terlalu kelihatan. Namun begitu memasuki area loket pendaftaran, etdah! banyak bener yang ambil nomor antrian, menempati tempat duduk sampai berdiri luntang-lantung kayak aku, mengaduh, mengumpat, curhat ke orang, dan beragam ekspresi lain demi menunggu panggilan untuk dilayani.

“Bawa aja Si Dede keluar,” Aku ‘menyuruh’ kakak, “Biar aku aja yang urus-urus pendaftaran,” kataku lagi, memang tak tega melibatkan dua bocah itu agar ikut ‘stress’ diantara kerumunan orang.

Kakak nurut. Sementara aku segera mengambil nomor urut ‘Pasien Umum Baru’. Dapat angka 20. Kurasa tak akan terlalu lama, namun dugaanku terkilir. Aku tetap kesal menunggu pelayanannya. Yang bikin dongkol juga; banyak panggilan ini-itu (absen pasien BPJS, nomor urut pasien lama, pasien baru, belum lagi pemanggilan di poli-poli yang dokternya begitu rajin sudah datang). Tak hanya itu, aku tak kebagian tempat duduk. Yang kubisa hanya bergabung petantangpetentengdengan pasien atau mungkin keluarga pasien yang lain. Tapi saat berdiri itulah… kau merasakan dan mengamati banyak hal.

Aku bersyukur masih bisa berdiri tegak walau penyangga tubuh (kaki) sudah lelah berdiri, sementara ada beberapa orang yang terlihat kepayahan. Mereka segera jongkok dengan muka pasi bahkan duduk sudah tak tahu tempat, sampai di depan loket dan kasir pendaftaran. Aku juga melihat bahwa betapa banyak orang yang sakit dan sama-sama merasa was-was atas penderitaan sanak-keluarganya. Ada satu yang menyita perhatianku.

Seorang bapak yang gagah, yang terus menggendong anak perempuannya. Sang anak lunglai tak berdaya dalam pangkuan ayahnya (entah ke mana ibunya, aku tak melihat), tatap matanya sayu, tangan-kakinya begitu kecil dan dia seperti terjuntai tanpa tenaga begitu saja. Sepertinya (maaf), gadis malang itu mengalami gangguan mental juga. Dan kulihat, sang ayah tak melepaskan gendongannya walau sebentar. Beberapa kali ia mendaratkan ciuman di pelipis anaknya, serta mengelus lembut putri kesayangannya.

“Jadi setiap hari kayak gini, ya?” tanya seorang bapak-bapak, yang sepertinya sama denganku – pasien baru.

“Iya,” timpal ibu-ibu di sampingnya, “Belum lagi kalau dapet nomor urut gede di polinya.”

“Semestinya pasien-pasien tertentu dapet penanganan khusus, dipercepat gitu.”

“Iya, betul. Semestinya kami disegerakan,” kata sang bapak yang kondisi anaknya aku ceritakan di atas.

Aku segera merogoh tissue, takut mata yang sempat memanas meneteskan air di dalamnya. Beginilah kalau sudah keluar, ternyata banyak yang lebih menanggung beban daripada apa yang kita tanggung sekarang. Kita tak diuji sendirian, kita juga tidak sedang berusaha sabar sendirian. Betapa cobaan itu Allah Swt sebar pada setiap makhluk, dengan kadar yang berbeda sesuai kemampuannya.simpati

Begitu dapat giliran dan secarik kertas dari loket, aku segera mentaati petunjuk petugas. Langkahku terhenti di tengah-tengah lorong, belok kiri, belok kanan dan celingukan mencari poli anak. Tak kesulitan mendapatkannya. Segera saja kumasukan kertas agar mendapat nomor urut yang baik dan penanganan yang cepat.

Kini aku sudah bersama kakak dan dua keponakanku. Kami duduk, lalu berdiri, lalu mondar-mandir dan main-main demi menghibur keponakan dan menunggu dokter yang lama tak kunjung datang. Saat itu kami kembali bercampur baur dengan pasien dan kelurga pasien yang lain.

“Dua anak saya, kakak-beradik, menderita thalasemia,” itulah info yang aku saring dari seorang ibu muda. Perempuan berjilbab itu berkata sambil tersenyum pasrah dan mengusap kepala anak laki-laki dan perempuannya.

Aku menatap keduanya dan sama-sekali tak mengira kalau dua bocah itu sudah menanggung penyakit berbahaya sekelas thalasemia. Mereka membalas tatapanku, polos sekali. Aku dan kakakku memutuskan untuk tak banyak bertanya, takut kalau pertanyaan kami hanya menguak penderitaan mereka saja.

“Kami harus tranfusi darah rutin enam bulan sekali…” katanya lagi dan hatiku serasa ngilu. Bisa kubayangkan betapa bajanya hati ibu itu!

“Kalau di rumah mah serasa sakit sendirian, tapi pas ke Rumah Sakit mah ternyata banyak yang lebih menderita, ya,” tuturku pada kakak.

“Iya,” Ia menyahut sambil mengelus putera keduanya. Pandangannya kosong dan tak jelas mengarah ke mana.

Waktu bergulir. Keponakanku diperiksa dan syukurlah, kekhawatiran kami tak terbukti. Bocah menggemaskan itu hanya diuap agar cairan yang menyumbat pernafasannya bisa keluar sendiri. Ternyata memang begitu. Bayi belum bisa mengeluarkan dahak sendiri, sehingga perlu diuap manakala batuk menyerangnya. Dan menurut dokter yang memeriksa, tak masalah kalau sering diuap. Sayang sekali, layanan uapnya ‘gak banget’! 🙁

Sayang juga, ketika di tempat obat… aku sempat dipanggil dan diberi anjuran agar membayar uang (diluar uang uap sebesar empatpuluhlimaribuan, entah uang apa lupa lagi, kukira uang tambahan karena obatnya mahal). Tak seberapa (dibanding kesehatan keponakanku), hanya berkisar sebelas ribuan. Namun begitu kusetorkan ke tempat obat dan menunggu lama, kembali aku dipanggil. Girang hatiku akan menerima resep obat dan segera pergi dari Rumah Sakit ini. Namun apa daya, sang petugas mengembalikan catatan resep dokter dan berkata dengan cukup cepat,

“Obatnya gak ada, cari di apotek luar.”

Bagaimana lagi, aku-kakak-keponakan mesti menelan ‘penderitaan’ sedikit lebih banyak sebab mesti berjalan kesana-kemari memasuki apotek, menyetorkan resep obat dan menerima jawaban ‘gak ada’ atau gelengan kepala dari apoteker.

Sedikit curhat, ya. Aku dapat obat itu pada sore harinya, dari apotek sang dokter yang memeriksa keponakanku. Alhamdulillaah.

Akhirnya, memang Maha Suci Allah Swt yang telah mengutus Nabi dan ‘mengabadikan’ sabda-sabdanya. Memang benar, kita mesti melihat ke bawah untuk urusan dunia dan melihat ke atas untuk urusan akhirat. Jika kita keluar, ternyata masih banyak yang senasib, ternyata banyak yang bahkan lebih menderita dan tentu saja, ternyata kita bukan manusia tunggal yang diamanahi ujian. [*]

One Response
  1. Rusminah Qumainah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *