Kesamaan Gaya Bahasa dan Cara Berpidato Antara Pejabat dan Ustadz

Kesamaan Gaya Bahasa dan Cara Berpidato Antara Pejabat dan Ustadz
Oleh : Ivan Oi

pidato pejabat dan ustadz

Aku menangkap ada kesamaan gaya bahasa dan cara berpidato antara pejabat dan ustadz yang secara umum sama-sama mengidap penyakit klise dan kurang kreatif. Meski ada juga pejabat dan ustadz yang gaya bahasanya mengundang decak kagum, tapi jumlah penderita klisenya jauh lebih banyak. Berikut contoh kecilnya Kesamaan Cara Berpidato Pejabat dan Ustadz.

Pejabat:

  • Saya terpanggil untuk memperjuangkan nasib rakyat…
  • Semua ini hanyalah demi kepetingan rakyat…
  • Saya berjanji untuk…
  • Sebagai bangsa yang besar, kita harus bangkit…

Ustadz:

  • Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan ketakwaan kita pada…
  • Allah SWT berfirman….
  • Agar kita semua nanti digolongkan dalam golongan orang-orang beriman…
  • Mari tingkatkan keshalehan pribadi dan keshalehan sosial kita…

dst dst

Ada apa ini? Mengapa kita jadi penderita klise kronis seperti ini? Aku tak mempermasalahkan isi ceramah pejabat atau ustadz, yang aku soroti adalah gaya bahasanya, pemilihan diksinya, majas-majas yang dipakai, dan alur berpikir yang linier. Bukankah dengan kesadaran penuh kita akui bahwa Bahasa Indonesia itu sangat kaya? Seorang budayawan pernah bilang bahwa kosakata yang kita pakai sehari-hari hanyalah sekitar 2% dari total kosakata yang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ibarat spons, Bahasa Indonesia mampu menyerap aneka macam bahasa dari berbagai tempat, bahkan suara binatangpun bisa kita jadikan kosakata baru.

Selama bertahun-tahun, isi ceramah yang dirangkai dengan klise dan membosankan hanya akan membuat audiens menguap. Di satu masjid ketika shalat Jum’at, sang khatib yang dengan berapi-api berkhotbah sepertinya sia-sia, sebab di kiri kanan jema’ah pada ngantuk, bahkan tak sedikit yang tidur, sebelahnya lagi melamun, pandangan matanya kosong seperti tak punya harapan hidup, sedang di pojok, dua orang jema’ah sedang asyik ngomongin soal Jokowi dan Gerindra! Asu gak. Ceramah yang klise seperti itu mana efektif. Kita perlu kesegaran. Kita bosan makan pisang yang digoreng dengan tepung terigu.

Mungkin itulah yang jadi alasan kenapa setiap penceramah, public speaker, setidaknya mau sedikit-sedikit belajar sastra. Sebenarnya, pada dasarnya manusia itu adalah makhluk yang sastrawi, semua manusia adalah seniman. Sayang kehidupan yang serba instan dan praktis ini memperdangkal gaya bahasa kita. Lho, Bosnya manusia saja adalah Sastrawan Besar kok. Coba buka kembali kitab suci yang katanya adalah omongan Tuhan langsung. Kalau kamu meyakini bahwa ayat-ayat itu adalah perkataan langsung dari Tuhan, harusnya kita semua malu. Tuhan saja, yang sebetulnya nggak perlu capek-capek merangkai kata, malah membuat ayat-ayat yang indah, dalam, bersayap, dan mengundang banyak intepretasi dan pemikiran, masa’ kita yang sudah dikasi akal malas mengembangkan kreatifitas dalam nggedabrus…. [*]

*29 Desember 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *