Ketika Dunia Mengerjai Kita

Ketika Dunia Mengerjai Kita

ketika dunia mengerjai kita

Dari rumah aku bertekad untuk tidak datang telat. Kucoba memanfaatkan kesenggangan yang tersisa. Tak lagi kusempatkan diri untuk duduk-duduk, menonton tayangan televisi walau sekilas, ngobrol-ngobrol atau bahkan mengulur durasi mandi, jelang berangkat ke LKP, tempatku mengabdi sampai kini.

“Maaf, Neng. Neng Dian masih di mana? Anak-anak sudah menunggu.”

Akhir-akhir ini sms-sms bernada demikian kerap menghiasi inbox ponselku. Hampir tiap Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu. Aku memang menyadari, kebiasaan datang telatku dari dulu seakan menempel. Lengket. Tapi tidak, sekarang aku memang sengaja melakukannya. Aku berangkat santai saja, seakan-akan tak ditunggu siapapun.

Kalau boleh curcol, tindakan datang telat ini sebagai wujud protesku akan sesuatu. Ada deh. Sampai kemudian, seorang adik didikku nyeletuk. Baginya mungkin ucapan itu ringan bagai kapas. Tapi begitu mendarat di hatiku, sindiran itu tak ubahnya bagai ujung pisau. Menyilet. #hiperboladikit

“Bu, kursusnya bisa pagi aja, nggak?” pinta anak kelas XII tersebut.

“Kenapa? Jadwalnya ‘kan jam satu siang?”

“Pagi juga udah bubaran,” katanya lemas, “Terus kami mesti nunggu sampai jam satu. Kesal deh, Bu,” katanya.

Kuedarkan pandangan. Yang mengeluh hanya satu, sementara yang lainnya terdiam. Seolah kepalang larut dalam kelelahannya menungguku. Memang, betapa pegal dan kesalnya menunggu seseorang, yang sok dibutuhkan.

Aku juga seperti digoyang-goyangkan seseorang, yang kemudian mengatakan: “Mereka gak layak jadi korban kesombonganmu, Dian! Kamu sudah merampas hak. Padahal aksi protesmu bukan kamu tujukan untuk mereka. Ayolah, waktu itu bukan milikmu.”

Sekarang, dengan semangat menyala, aku ingin memupusnya…

Langkahku tergopoh-gopoh. Turun dari angkutan umum, menyeberang, melewati warung si Mbak, nanjak sedikit dan berjalan menuju LKP. Bahkan jedaku hanya tercipta ketika menyapa Si Mbak saja. Selebihnya aku fokus untuk sampai. Dan, napasku tersengal-sengal.

Begitu pandanganku beradu dengan bangunan LKP, tulang-tulangku seakan lolos dari tubuh. Sungguh, aku ingin ambruk. Bangunan itu tertutup rapat. Hening, sampai yang terdengar hanya desau angin.

“Saat aku yang datang tepat waktu, mereka yang telat!” gerutuku, campuran antara kesal dan lesu.

 

Dengan sisa-sisa tenaga, aku melangkah ke samping bangunan. Aku duduk sendirian. Daripada bengong, kusiapkan saja latihan-latihan untuk tiap pertemuan. Namun tak dipungkiri, aku kesal juga. Segera kuambil ponsel, mengirim sms pada Pak Iwan. Ah malangnya, pulsaku habis. Sim card 1 atau 2, dua-duanya sedang merana. :’(

Teringat fasilitas pulsa darurat, aku segera memanfaatkannya. Namun naas, layanan tersebut sedang tak berjalan lancar. Lama lagi aku mencoba konsentrasi membuat latihan. Mau online, ya itu… pulsa tak memberi dukungan sama sekali.

Dalam keadaan sendiri dan sunyi seperti itu, aku menyadari sesuatu. Bahwa perasaan kesal akut ini tentu sudah terlebih dahulu dirasakan oleh adik-adik didik pleus admin LKP. Rentang waktu lima belas– dua puluh menit saja bisa menjelma jadi seharian! Phew!

Tak lama berselang, datang Pak Iwan. Ia sudah tersenyum dari balik helmnya. Begitu wajahnya nampak, ia bilang, “Maaf, Bu. Tadi agak lama di Aliyahnya.”

Okesip. Tapi, mana adik-adik didik SMP-ku? Duh!

Belakangan ada kabar kalau mereka gak akan datang karena izin, kebetulan ada acara sekolah. Alhasil, aku mesti menunggu sekitar satu setengah sampai dua jam lagi untuk mengisi jam kedua; jamnya ‘murid’ bapak-bapak. Ya Allah, ampuni hamba…

Tak biasanya lagi, bapak-bapak datang terlambat. Kalau yang sudah-sudah sih, ketika aku masih asyik mendampingi anak-anak jam pertama, bapak-bapak tersebut sudah hadir dan setia menanti. Kini, mereka malah terlambat. Kalau boleh diibaratkan, aku sudah nunggu sampai lumutaaan!

Kalau tak mendengar nasihat Pak Iwan dan Pak Andi, rasanya aku ingin segera pulang. Namun kemudian, ‘murid’ kelas karyawan pun datang. Saat itulah, aku mengakui betapa harus kerennya seorang pengajar. Dia harus berusaha ‘tak apa-apa’ di saat ‘banyak apa-apa’. -_-

“Maaf, Teh. Tadi sudah mempotokopi dulu,” ujar mereka.

Hari ini rasa-rasanya dunia tengah mengerjaiku. Namun rentetan kejadiannya begitu ‘ngena’. Mereka semacam karma dengan satu pesan utama; makanya jangan “begitu” kalau gak mau “digituin”. [#RD]

*28 April 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *