Ketika Ibu Sakit itu…

Ketika Ibu Sakit itu…

Ketika Ibu SakitPerasaanku dililit rasa khawatir. Tak menyenangkan rasanya jika beraktivitas dengan hati resah. Semuanya serasa terbagi, tak fokus.

Siang itu, aku dan ibu berbelanja kebutuhan kios. Kegiatan berbelanja hari itu sangat berbeda. Diliputi rasa was-was luar biasa. Awalnya aku meminta untuk pergi sendiri. Maklum, pagi hari sebelum berbelanja, ibu mengeluh sakit. Beliau memang terlihat lain. Aku pun merasakan ‘ada yang tidak beres’ dengan keadaan jasmani beliau.

Aku jadi ingat rasa sakit yang kuderita sewaktu Bulan Ramadhan kemarin. Gejalanya mirip. Keluhannya sakit di sekitar lambung dan ulu hati, serasa penuh dan badan pun panas. Hanya saja beliau tidak mengalami muntah-muntah dan sakit kepala hebat. Aku pun mengira beliau hanya masuk angin atau kelebihan gas saja.

Meski demikian… tak tega rasanya membiarkan beliau ikut bersamaku, beradu dengan lelah dan penatnya berkegiatan. Namun beliau ‘keukeuh’ untuk ikut. Beliau bilang,

“Toh belanjanya juga ke satu tempat. Gak ke mana-mana lagi.”

Alhasil, aku tak bisa menolak. Namun kuajukan syarat. Beliau mesti bersedia diperiksa ke dokter begitu pulang berbelanja. Syukurlah beliau setuju. Namun dalam hati, aku terus menyembulkan harapan supaya keadaan beliau membaik.

Sayangnya… ketika berbelanja, lagi, kulihat raut beliau serasa berbeda. Bagaimanapun, beliau tak bisa menyamarkan kondisi badan yang menurun. Nada berbicara beliau lemah, gerakannya lemas, tak kuasa berdiri lama, berwajah pias, dan seperti tengah menahan suatu derita.

Antara marah pada diri sendiri dan ibu, aku bergegas membeli minuman mineral dan roti. Istilahnya, lebih baik aku saja yang merasakan sakit itu. Begitulah hatiku cukup kerepotan menghadapi kenyataan bahwa ibu tengah sakit. Dan begitu kembali, beliau hanya meneguk minumannya saja, mengabaikan roti yang kubeli.

Kami pulang. Niat kami sudah mantap untuk mampir ke dokter. Namun lagi-lagi, kami memiliki perbedaan pendapat. Ibu ingin memeriksakan diri ke Pak Y, sedangkan menurutku baiknya ibu diperiksa oleh Pak Z. Bagaimana tidak, Pak Y itu dokter ‘langgananku’ dulu, sewaktu aku didiagnosis memiliki gejala liver. Sedangkan ibu sering memeriksakan diri pada Pak Z yang hasilnya memang cocok.

“Ke Pak Y itu udah gak sungkan-sungkan,” alasan beliau.

Terang saja sudah tak sungkan, hampir enam bulan aku bolak-balik diperiksa oleh Pak Y dan diantar oleh ibu. Ah, namun aku tak bisa membantah lebih keras lagi. Aku memilih nurut saja dengan harapan ada kecocokan penanganan. Sampai kemudian kami pun sampai…

“Darahnya bagus, normal,” tutur Pak Y ketika memeriksa tekanan darah ibu, lalu membaca dengan seksama stetoskopnya sambil memijit-mijit bagian tubuh ibu yang dikeluhkan. Meraba-raba sumber sakit sekaligus menerka-nerka pemicunya.

“Asam lambungnya naik kali, Bu?!” kata beliau lagi sambil melepas stetoskopnya lalu ke tempat obat, “Ini saya ada obat herbal. Biasanya langsung manjur lima belas menit setelah diminum.”

Aku yang mengambilnya. Kulihat-lihat keterangan obat tersebut, lalu mengocoknya memastikan apakah encer atau kental.

“Nanti langsung minum aja, gak perlu dikocok dulu,” Pak Y berkata begitu melihat tingkahku.

“Oh kalo gitu saya ambil dua botol deh, Pak,” pinta Ibu.

Sambil memeriksa ibu, Pak Y juga mengobrol tentang hal-hal ringan seputar aku dulu dan juga pemilihan bupati di kabupaten kami. Kebetulan sekali pilihan cabup-cawabup kami sama. Demikianlah beliau, sosok dokter yang rendah hati dan hangat.

“Ini obat-obatnya, Bu. Biarlah penyakit itu datangnya dari Allah. Jadi sama Dia juga kita pinta obatnya. Saya sih hanya perantara saja…” pesan Pak Y pada Ibu sebelum kami pamit.

Singkatnya, obat-obat dari Pak Y kurang memberi efek pada kondisi Ibu. Obat herbal yang katanya manjur lima belis setelah diminum pun tak terbukti. Mungkin memang kurang coock. Beliau malah terlihat semakin menderita karena sakitnya. Sedangkan aku, semakin menderita karena tak kuasa menghadapi keluh-kesah ibu. Bagaimanapun, beliau itu sosok yang kuat. Sehingga mengeluh hanya dilakukan saat keadaan benar-benar sangat buruk. Lagipula pasti aku memiliki banyak kekurangan dalam menangani beliau. :’(

Yang sedikit meringankan beban kami hanyalah kedatangan kakak-kakakku beserta anak-anak mereka. Di tengah-tengah mereka, kulihat ibu berusaha menutupi raut deritanya dengan senyuman. Jelas palsu sekali. Begitu mereka pergi, kami kembali dihantui perasaan yang sangat tak menyenangkan. Sampai-sampai aku tak menyempatkan diri membuka netbook dan menulis sesuatu di sana. Kacau.

“Kita periksakan lagi ke dokter, Bu,” usulku. Sebelumnya aku dan kakak mendiskusikan itu di telpon dan kami sepakat.

“Ke Pak Y lagi, biar ganti obat aja. ‘Kan beliau yang udah tahu penyakit ibu,” jawab ibu.

“Nggak. Ke Pak Z aja.”

“Tapi ‘kan pertamanya ke beliau, takut gak cocok lagi.”

“Lebih takut lagi kalau Pak Y salah diagnosis, Bu. Udah ke Pak Z aja,” kali ini aku yang mesti keukeuh.

Pagi-pagi, kami berdua pergi ke tempat praktik Pak Z. Sedikit beruntung, pasien yang datang tak sebanyak praktik sore. Kami tak perlu susah-payah mengantri. Cukup cepat ibu dipanggil. Tentu saja aku ikut ke ruangannya.

Layaknya dokter, Pak Z menanyakan seputar apa yang ibu keluhkan. Gantian, aku dan ibu memaparkan gejala-gejalanya. Barulah setelah itu Pak Z memeriksa tekanan darah beliau. Ternyata naik. Beliau juga menekan-nekan organ yang ibu keluhkan sakit lalu ‘mempekerjakan’ stetoskopnya. Namun tak ada kesimpulan apapun.

“Asem, santen, jeroan, daging ayam, pedas, susu, asin, buah-buahan… jangan dulu,” begitu saja paparan beliau. Kalau bukan kami yang bertanya, mungkin beliau segera menyudahi saja proses pemeriksaannya.

Di tempat obat-obatan… petugas memperingatkan tekanan darah, menuturkan obat cair yang mesti diminum 30 menit sebelum makan, obat-obatan mana yang diminum 2 x sehari, 3 x sehari serta antibiotik yang wajib diminum dengan tuntas padaku. Bagaimanapun, akulah yang mesti mengawasi semua itu.

Perlahan namun pasti, ibu lebih menunjukkan perubahan yang positif. Setiap saat kutanyakan juga seputar efek obat pada rasa sakit beliau. Melihat senyum dan binar mata beliau, aku sedikit lebih lega dan bisa menulis lagi. Alhamdulillaah… sepertinya keadaan beliau membaik. Aamiin…

Dari ujian ini, ternyata memang ada beberapa tips untuk menjaga atau menghadapi orang sakit. Tips-tips berikut hanya sebagian, barangkali ada yang lebih tepat:

– Beri Perhatian

Perhatian itu banyak coraknya ya, Bro-Sist. Kita bisa menyiapkan makan-minumnya, obatnya, tempat tidurnya, memijitnya bila perlu, kebutuhan mandinya, rutin menanyakan perkembangan keadaan si sakit, dst.

Kita juga bisa menjadi penjaga yang siap-siaga. Adakalanya kita mesti menanyakan apa yang si sakit butuhkan. Misalnya… barangkali beliau haus, namun tak berdaya mengambil air minum.

– Pahami Si Sakit

Rasa sakit hanya dialami oleh orang sakit tersebut. Kita sebagai penjaga hanya bisa menyimpulkan ‘rasa’ tersebut dari penuturan beliau dan dari keadaan yang kita lihat sendiri. Pahamilah ketika orang yang sakit itu kerap minta diambilkan sesuatu, diantar ke kamar kecil, agak rewel ketika makan, memuntahkan apa yang ia telan, mengeluh atau mengaduh, bergerak sangat gontai, berbicara kurang jelas, dst.

– Awasi Pengobatan, Pantangan dan Anjuran Dokter

Ketika berobat ke dokter, tak selamanya si sakit konsentrasi penuh. Karena kondisi fisiknya yang menurun, kadang ada bagian-bagian tertentu yang luput dari perhatiannya. Hal tersebut cukup vital, sebab apa yang dokter bicarakan tentu seputar obat, dosisnya, kegunaannya, waktu meminumnya, pantangan bagi si sakit, anjuran untuk si sakit, dst.

Sebagai pendamping, kitalah yang memiliki tanggung-jawab penuh untuk mencermati hal-hal tersebut. Jadi sambil menjaga si sakit, kita juga mesti menjadi ‘alarm’ untuk beliau. Segera siapkan apa yang dianjurkan dan hindari hal-hal yang tak dianjurkan.

– Bangkitkan Motivasi

Motivasi menjadi obat yang tak nampak namun sangat memberi dampak. Pastikan pada si sakit kalau selama bersabar… maka penyakitnya bisa meluruhkan dosa, meningkatkan level di mata Allah Swt, menjadi pembawa pesan akan pentingnya kesehatan dan wujud kepercayaan Tuhan. Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan kesabaran umatnya dalam berusaha dan berdoa.

– Obati dengan Doa

Berdoa menjadi salah-satu bukti kalau kita ini makhluk lemah, namun memiliki kekuatan lain yang lebih agung dan ketergantungan pada-Nya. Yakin juga bahwa penyakit itu datang dari-Nya dan kepada-Nyalah kita memohon obatnya.

Terlalu banyak hal yang kita (baru) pahami maknanya setelah kita kehilangannya ya, Bro-Sist. Itulah waktu, masa muda, kekayaan dan juga… kesehatan. [#RD]

*Catatan 23 September 2013
*Poto: thecolleyhouse.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *