Ketika Tirai Hujan Menutupi Pertemuan Kami

Ketika Tirai Hujan Menutupi Pertemuan Kami

tirai hujan

Jumat, 13 Desember 2013

“Kok gak hujan, sih?” niatku bercanda ketika menanyakan itu pada ibu. Kulihat langit memang kelam, namun belum ada tanda-tanda kedatangan hujan.

“Hush! Keliatan lagi males, ya?!” begitu kata beliau, peka bahwa aku memang tengah tak begitu bergairah untuk berangkat mengajar les di LKP “S”.

Alhasil, aku hanya nyengir. Dan, jam sepuluh pagi pun terus menggelinding ke dzuhur. Siapa sangka, langit benar-benar redup. Dalam hitungan menit saja, gumpalan awan telah mengucurkan hujan. Kecil, namun barisan air itu begitu rapat. Seiring waktu, tirai-tirai itu makin besar dan besar saja. Benar-benar, aku mesti memakan omongan sendiri. Rasa malas pun menggunung tak terkira tingginya.

Aku mengirim pesan pada Pak I, siapa tahu kursus akan diliburkan. Namun inti dari balasan beliau adalah “tidak”. Hufh! Dadaku seakan menyusut. Mau tidak mau, aku mesti  menunaikan kewajiban itu. Walau ragu-ragu, aku perlahan mempersiapkan diri sambil sesekali menengok ke luar. Dari jendela, kulihat semburan air makin beringas saja. Kegalauan pun makin merayapi dinding hati. Bahwa… Jumat adalah jadwalku mengajar, aku juga memiliki agenda mengambil honor bulanan dan kemudian takut ada siswa yang datang.

Udah berangkat, belum?

Di tengah kegalauan itu, Bu Neneng mengirim sms. Kujawab seadanya; belum. Kami pun berdiskusi darurat via pesan. Hasilnya, kami akan tetap berangkat namun menunggu hujan meredakan amuknya. Baru kepikiran kalau aku memiliki nomor ponsel anak-anak. Ku-sms saja satu diantara mereka, yang kebetulan memiliki jadwal hari Jumat. Basa-basi, kuberitahukan kalau aku akan datang terlambat.

Sudah kutebak, Norma, dia menjawab tidak bisa datang karena hujan memang besar. Tak apalah, aku terlanjur membuat kesepakatan dengan Bu Neneng untuk berangkat bareng. Terlanjur juga aku beritahukan pada Pak I kalau aku akan mengambil honor bulan ini (sebelumnya, beliau telah memintaku dari jauh-jauh hari, namun aku mangkir).

Di pinggir jalan, bersenjatakan payung, aku menerjang hujan. Kutunggu angkutan umum sembari tak lepas komunikasi dengan Bu Neneng. Ternyata angkutan umum yang kita naiki berjalan beriringan, jadi kita bisa bareng berjalan menuju lokasi kursus.

Di TKP, hanya ada Pak I dan Bung A. Kami terlibat obrolan singkat sejenak, lalu Bu Neneng dan aku pergi ke ruangan mengajar. Kami menghangatkan suasana dengan mengobrolkan banyak hal. Memang, dingin sekali cuacanya. Sampai-sampai aku mesti mengusap-usap lenganku sendiri, mengundang kehangatan agar bisa kurasakan.

Sekitar beberapa menit, datang Bu Heni. Senada denganku, dia mengatakan kalau muridnya tak akan datang. Kata beliau, yang penting kita sudah datang. Menyusul Bu Heni, datang pula Pak Y dan Pak M. Mereka lalu menawarkan sesuatu yang sepertinya mustahil kita tolak,

“Mau bakso, gak?”

“Boleh pisan, Pak!”

Pak I dan Bung A terlihat memakai jas hujan, pergi membeli bakso, lalu tenggelam ditelan rinai air. Aku, Bu Neneng dan Bu Heni kembali membikin kumpulan kecil. Kami bercengkrama tentang apapun. Obrolan kami itu makin renyah dan ramai. Hujan di luar seakan-akan jadi back song, sama-sekali tak mengganggu obrolan kami.  Sampai tak terasa, kedatangan sesuatu membuat kami semua girang. Bukan Pak I atau Bung A saja 😀, melainkan baksonya. ^^v

baso

“Ah, sayang sekali gak bawa HP yang satunya!” seru Bu Heni sambil membuka bungkusan baksonya, lalu ia kucur bulatan berkuah tersebut dengan sambal.

“Buat apa, Teh?” Aku gak ‘ngeh’.

“Buat di-upload di fesbuk lah!”

“O,” Aku hanya tersenyum, “Iya ya, Teh.”

“Neng punya fesbuk, gak?” tanya beliau, “Ah, gak eksis! Hahaha.”

“Ada sih, Teh.”

“Apa namanya?” Bu Neneng yang bertanya, “Dian Ros, bukan?”

“Iya, tapi nulisnya Dee Ann Rose. Hehe,” Aku meluruskan, “Emang Teteh berteman sama anak-anak LKP “S”?”

“Iya, emang Neng gak? Eksis dong!” Bu Heni nampak antusias.

“Nggak, Teh,” Aku hanya ikut-ikutan terkekeh, “Iya gak eksis euy!” kataku lagi, sambil garuk-garuk kepala, memahami makna eksis ala beliau. 😀

Di sela-sela obrolan kami, aku teringat anak-anak jadwal Jumat gelombang 2. Kebetulan aku memiliki salah-satu nomor ponsel mereka. Aku pun mengirim pesan pada Aan. Kuberitahukan kalau aku sudah ada di LKP “S”, barangkali ada diantara mereka yang hendak masuk. Namun, dia mengirim pesan tengah sakit. Setelah ia beritahu teman-temannya, mereka pun tak bisa hadir dikarenakan hujan yang tak kunjung reda. Memang, kulihat keluar, hujan begitu awet. Entah kapan langit menghentikan tangisan.

“Eh,” Bu Neneng nampak terkaget-kaget membaca pesan yang masuk ke ponselnya.

“Ada apa, Neng?” Aku penasaran.

“Muridku, Siti Khodijah sama Santi lagi dalam perjalanan ke sini. Padahal ‘kan di luar masih hujan besar?!”

“Wuih rajinnya!” Aku terkagum-kagum, mengingat tempat tinggal murid Bu Neneng cukup jauh.

“Dia emang rajin.”

“Hebat, kenapa gak tidur aja tuh anak?!” Bu Heni bercanda.

“Iya, Teh. Kalau aku di posisi murid juga, ogah dateng ya?” Aku menambahkan.

“Jangan salah, Siti Khodijah bahkan gak peduli walau dia gak ada teman sekalipun. Dia memang sangat rajin!” Bu Neneng bangga, “Siapa dulu gurunya?!” sambungnya membuat aku dan Bu Heni memajukan bibir.

“Ya udah, met tugas Bu!” Aku menubruk lengan Bu Neneng.

“Kita ngebaksonya di ruangan sebelah yuk, Neng?” Bu Heni mengajakku, “Biarin Bu Neneng ngajar! Haha.”

“Ihk, tungguin!!!” Bu Neneng kesal merasa dikerjain, terlebih kami memang benar-benar melenggang menuju ruangan sebelah.

Ketika menikmati hujan, bakso dan kebersamaanku dengan rekan-rekan di LKP “S”, Aan mengirim sms lagi. Dia menanyakan apakah mereka akan mendapat jadwal di hari yang lain, sebab Jumat ini mereka tertinggal satu pertemuan denganku. Setelah kupertimbangkan, kudiskusikan dengan rekanku dan aku melamun sebentar… kujawab “tidak” keesokan harinya. [*]

Gambar: Google Image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *