Kisah Inspiratif: Garam dalam Gelas dan Telaga

Kisah Inspiratif: Garam dalam Gelas dan Telaga

Pada suatu hari, ehm… hiduplah seorang bapak tua yang terkenal bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung kegalauan (padahal udah 2013! masih musim aja tuh galau :D). Ya pokoknya si pemuda itu berwajah ‘so glum’, ruwet, gimana aja orang yang otaknya kayak ‘martabak’. Hehehe

Tanpa membuang waktu (sembarangan, hehe… dikira sampah apah? -_-), si pemuda curhat deh tuh ke si bapak tua. Pak tua jadi pendengar yang baik dan benar pokoknya mah. Bukannya ngasih wejangan, doi malah ngambil segenggam garam dan segelas air. Lalu garamnya dimasukkan ke segelas air tersebut, kemudian diaduk-aduk (kayak lagi bikin kopi). Hehehe

“Coba minum, Cu!” perintah Pak Tua.

Si pemuda meneguknya sambil meringis, menahan rasa yang pastinya aneh (ya iyalah).

“Gimana rasanya, Cu?” Pak Tua bertanya (padahal ga usah nanya juga udah tahu jawabannya :D)

“Asiiin, Pak. Asinnya pake banget!”

Pak Tua tersenyum, puas deh kayaknya. Dia lalu mengajak si pemuda ke tepi telaga, tepatnya telaga di dalam hutan yang kebetulan dekat dengan tempat tinggalnya. Keduanya berjalan berdampingan (cieee), hus! sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang dan kehijau-hijauan.

Pak Tua itu lalu menaburkan kembali segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan menggunakan ranting, Pak Tua mengaduk-aduk layaknya sendok. Riak kecilpun tercipta dan hm, sedikit mengusik ketenangan telaga.

“Coba kamu ambil air dari telaga ini. Terus, minum deh, yah?” perintah Pak Tua (lagi). Perasaan nyuruh minum yang aneh-aneh mulu. Pan tadi ceritanya juga lagi curhat? Eits, lanjut dulu bacanya 😀

Si pemuda nurut-nurut aja. Pak Tua kembali bertanya,

“Gimana rasanya, Cu?”

“Seger, Pak.”

“Seger? pake ‘banget’, gak?”

“Hehe iya, Pak.”

“Emang gak ngerasain asin dari garam itu?”

“Nggak, Pak. Nggak samasekali!”

Dengan bijak, si Pak Tua menepuk-nepuk si pemuda (pelan-pelan kok). Diajaknya si pemuda itu untuk duduk bersila di tepi telaga (kebayang damainya. hummm).

“Nah, Cu. Pahitnya hidup kita ibarat segenggam garam itu tadi. Segenggam garam yang diceburkan dalam segelas air dan segenggam lagi dalam telaga. Tapi kepahitan yang kita rasakan itu tergantung dari wadah yang kita miliki. Jadi saat kamu merasakan kepahitan hidup atau bahasa geolnya itu galau, lapangkanlah hatimu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampungnya,” tutur Pak Tua, lalu ngambil napas soalnya kecapean. -_-

Si pemuda manggut-manggut. Tak lama, Pak tua melanjutkan nasihatnya,

“Hatimu adalah wadah. Jadi, jangan biarkan hatimu itu kayak gelas tadi. Buatlah ia kayak telaga. Pan telaga itu bisa menjadikan rasa garam jadi kesegaran, bahkan kebahagiaan. Bener gak, Cu?”

Si pemuda mendongak. Wajahnya berubah. Matanya terang-benderang. Dia bener-bener berparas sebagai seseorang yang sukses ‘move on’. Dalam hati ia bertekad akan menaklukan semua masalah dan pikiran-pikirannya yang udah kayak akar serabut itu. Dia udah punya senjata ampuhnya. Ya! Hati yang lapang!

“Thanks a lot, Pak Tua!” Dia buru-buru menyalami Pak Tua. Si bapak pun mengelus-elus pundak pemuda sambil menjawab,

“Don’t mention it!” 😀

[#RD]

Demikian ‘dongeng’ malam sekarang. Kisah ini diadaptasi dari buku “Menjadi Pembelajar Sejati”-Purnadina. Adapun kata-katanya sedikit dimodif, jadi lebih acak-acakkan. Hehe… tapi moga bermanfaat, ya?! ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *