Kisah Inspiratif; Sang Raja Budiman & Seorang Anak Miskin yang Galau

Kisah Inspiratif; Sang Raja Budiman & Seorang Anak Miskin yang Galau

Bagi para calon pemimpin… entah itu tingkat RT/RW, Kades, Camat, Bupati, Gubernur, bahkan presiden, ada baiknya membaca cerita/kisah inspiratif ini, ya… ^_^

Awal kisah, ada seorang raja yang baik hati bernama Raja Mahmud. Suatu hari Sang Raja terpisah dengan bala-tentaranya. Ketika tengah mengendarai kudanya kencang-kencang, beliau melihat seorang anak lelaki berada di tepi sungai. Anak itu terlihat tengah menebarkan jalanya. Namun rona wajahnya menyiratkan kegalauan dan kemurungan. Raja pun menepi dan menghampiri sang anak laki-laki,

“Anakku,” Raja menyapa dengan lembut, “Kenapa kamu murung begitu? Tak pernah aku lihat orang segalau kamu…”

“Hamba ini salah-satu dari tujuh bersaudara yang udah gak punya ayah. Kami hidup bersama ibu. Melarat dan tidak mendapat bantuan dari siapapun. Hamba datang kemari (sungai) setiap hari, terus memasang jala demi mendapatkan ikan dan dijadikan lauk tiap malam. Kalau gak dapet, ya malamnya kami tak punya apa-apa…” Sang anak menuturkan curahan hatinya.

“Anakku,” kata Sang Raja lagi, “Bolehkah aku membantumu?”

Anak laki-laki tersebut membolehkan. Tanpa menunggu lama, Raja pun melemparkan jala. Karena sentuhan kewibaannya, jala Sang Raja mampu meraup seratus ekor ikan. Melihat ikan hasil tangkapannya melimpah, sang anak sontak saja merasa gembira. Dia juga membayangkan betapa riangnya sang ibu yang tengah menanti di rumah.

Melihat rona wajah sang anak telah berangsur bahagia, Raja pun pamit dan berlalu dari hadapannya. Beliau kembali melanjutkan perjalanan dan mencari pasukannya yang terpisah.

Well, kisah tersebut sangat singkat dan sederhana. Namun jika dikupas, ada saja sesuatu yang bisa kita petik. Apa itu? Masing-masing orang memiliki pandangan yang berbeda. Beberapa diantaranya yaitu:

– Ketulusan Raja Mahmud untuk menepi dan menghibur seorang anak yang ditemuinya di tengah perjalanan. Padahal Beliau sendiri mungkin tengah gusar mencari pasukannya. Lagipula, gak ada orang atau media massa yang bisa ‘menyaksikan’ dan menebar luas kebaikannya. Beda dengan calon pemimpin kebanyakan yang menonjolkan citera positif jelang pemilihan. Pasang spanduk or iklan yang tengah bersama anak yatim-piatu lah, lansia lah, rakyat biasa lah, tengah blusukan lah, dst. Tapi ya mudah-mudahan setelah menjabat, tidak lupa deh… ^_^

– Kesederhanaan Raja Mahmud yang tidak memposisikan dirinya sebagai raja dan anak tersebut sebagai rakyat jelata. Raja sama-sekali tidak menunjukkan kedudukannya baik secara eksplisit maupun implicit. Beliau malah menepi, menghampiri, menjadi pendengar bahkan turun tangan membantu sang anak.

– Meluangkan waktu mendengar curahan hati rakyatnya. Ya sudah menjadi resiko para pemimpin untuk membuka mata, telinga dan hati lebar-lebar menerima segala protes, keluh-kesah dan kritik tajam dari semua rakyatnya. Bagaimanapun, penderitaan rakyat dibawah kepemimpinan seorang pemimpin dzalim itu jauh lebih perih daripada kritikan tajam yang mereka lontarkan. Iya, ‘kan? Hehehe

– Bertindak nyata membantu kesusahan sang anak. Hum, kebanyakan dari kita memang telah jengah mendengar dan membaca deretan janji para pemimpin, ya? Tak jarang setelah merengkuh jabatan yang diincarnya, mereka mendadak amnesia. Pokoknya zaman sekarang itu… apalah janji tanpa realisasi. Hidup rakyat! 😀

Terus, apa bisa pemimpin-pemimpin zaman sekarang berlaku se-budiman itu? Kalau zaman dulu saja ada, kenapa tidak? Bukankah kebaikan orang-orang terdahulu itu memang bertujuan untuk kita tiru? ^_^ [*]

Referensi: batararayamedia.com
Gambar: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *