Kisah Inspiratif; Tentang Kebohongan

Kisah Inspiratif; Tentang Kebohongan

Suatu hari, ada dua kelas di sebuah SMA yang memiliki jadwal Ulangan Harian Bahasa Inggris. Sebelumnya, sang guru memberi aturan.

“Tidak ada ulangan susulan, kecuali karena sakit. Itu pun mesti dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter!”

Sayang duaributigabelas sayang, 2 dari kelas X dan 2 dari kelas Y tidak bisa mengikuti Ulangan Harian tersebut dengan alasan kesiangan. Karena menonton sebuah ajang pencarian bakat sampai larut malam, mereka pun kompak bangun kesiangan dan mendadak panic bagitu jarum jam telah berada di angka 8.

Mereka ber-empat pun mencari cara agar guru Bahasa Inggris tersebut memaafkan dan memberi kesempatan untuk mengikuti Ulangan Harian Susulan. Setelah bergala-galau ria disertai diskusi yang panjang, akhirnya mereka menemukan sebuah alasan yang (kata mereka) keren!

“Kita kan rumahnya satu arah…” Si A memulai sarannya.

“Teruuus?” Tanya Si B, C dan D penasaran.

“Gimana kalau kita kompakan bilang kalau ban angkot yang kita tumpangi itu bochor?”

“Bochor???” Wah, ide bagus tuh!” timpal Si B.

“Pasti guru kita bakal maafin kalau alasannya gitu mah. Mantep jaya abadi pokoknya mah!” Si C menambahkan.

“Inget, yah? Kalau ditanya alasan kita gak ikut Ulangan Harian Bahasa Inggris, jawabannya mesti sama!” Si D membuat kesepakatan.

Sementara teman-temannya yang lain hanya mengangguk-angguk bagai orang tengah menikmati lagu dangdut.

Tibalah mereka ber-empat menghadap guru Bahasa Inggris. Baik Si A, B, C dan D memohon agar mereka bisa mengikuti ulangan harian susulan. Ke-empatnya melakukan acting dengan sangat baik dan benar.

“Ciyus deh, Miss! Kemarin itu kita udah berangkat pagi-pagi. Iya kan, temong-temong? Eh, teman-teman?” Si A beraksi.

“Iya, Miss. Tapi apa daya dan upaya, ban angkotnya bochor!”

“Bener, Miss! Kan Miss sendiri yang bilang, life is full of surprises.”

“Nah, kemarin itu gak disangka banget kita bakal dapet musibah, Miss. Kasihanilah kami, please…” ratap Si D.

Setelah berpikir tiga jenak, guru Bahasa Inggris itupun menjawab,

“Baiklah. Kalian boleh ikut ulangan susulan Bahasa Inggris, tapi dengan beberapa syarat…”

“Apa itu, Miss?”

“Pertama, ulangan dilaksanakan setelah pulang sekolah. Kedua, Masing-masing dari kalian akan ditempatkan di kelas yang berbeda. Dan ketiga, satu kelas akan diisi satu pengawas. Bagaimana? Kalau tidak setuju, gak apa-apa. Nilai ulangan harian kalian e to the nol. Enol!”

Mereka saling lirik sebentar, lalu,

“Deal, Miss! Kami siap! Toh gak ada pilihan lain.” -_-‘

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, ke-empat siswa/i yang semalam sudah menghapal Bahasa Inggris, segera memasukki kelas masing-masing. Satu orang, satu kelas. Sambil menunggu guru Bahasa Inggris dan pengawas-pengawasnya, mereka memanfaatkan waktu untuk menghapal. Tentang rumus past perfect, introductory it, adjective clause, expressing surprising & disbelieving, dsb.

Tak lama kemudian, pengawas datang. Ke-empat siswa itu harap-harap cemas. Mereka tahu kalau guru itu sering memberi soal yang rumit, maka tak heran lutut mereka gempa, keringat bercucuran, dada berdetak cepat, jari-jari tangan begitu dingin (mulai lebay -_-‘), ya pokoknya mereka cukup grogi. Apalagi satu orang dalam satu kelas dengan satu pengawas. Wow!

Masing-masing dari mereka membuka lembar soal. Semua berpikir; O, asyiknya hanya ada 2 soal!

Begitu mengisi soal pertama, mereka hampir berjingkrak-jingkrak. Soalnya gampang sekali!

“Apa Bahasa Inggrisnya ‘aku atau saya’?”

Mereka segera menjawab, “I.”

Lalu begitu membaca soal nomor 2, mereka seperti gagap. Keringat dingin bercucuran lagi, jantung berdegup tanpa kendali, tulang-tulang mereka seolah lepas saking lemesnya dan mereka begitu pusing melebihi migren kronis. Hampir pingsan. Soal nomor 2 berbunyi:

“Sebutkan ban angkot bagian mana yang bocor? Ban kiri atau kanan? Ban depan atau belakang?” [#RD]

Kisah ini diambil dari sebuah sumber dengan sedikit modifikasi. Semoga kita bisa mencubit hikmahnya…. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *