Kisah Nyata: Aku (Tidak) Lulus UN!

Kisah Nyata: Aku (Tidak) Lulus UN!

“Maafkan aku, Mamaaah! Bapaaak!”

“Kenapa aku? Kenapa bukan anak cowok aja yang gak lulus, Bu Guru!”

Begitulah jeritan histeris dari salah-satu siswi SMK Negeri. Jumat (23 Mei 2013) yang menjadi waktu paling ditunggu siswa/i kelas XII SMA/sederajat, ternyata malah menjadi hari yang tak kan terlupakan oleh siswi tersebut.

***

Kita yang bukan termasuk anak kelas XII SMA/sederajat pun, kadang ikut penasaran akan keputusan pelulusan ya, Sob? Apalagi aku. Sebagai kakak dari seorang siswa SMK kelas XII, aku tertular grogi menunggu pengumuman kelulusan. Tak heran ketika adikku (biasa kupanggil Beben/Ubeng) bersiap berangkat sekolah dengan batiknya, aku mewanti-wanti,

“Langsung kabari Teteh ya, Ben? Apapun hasilnya.”

Adikku itu hanya mengangguk dengan raut harap-harap cemas, sementara kakakku yang laki-laki bilang,

“Tenang aja. Pasti lulus semua, kok.”

“Aamiin,” gumamku, “Eh, emang pake batik, ya?”

“Iya, Teh. Wajib. Tapi kenapa ya sekolah Beben mah disuruh ke sekolah jam delapan? Padahal SMA yang lain sih jam satu siang?”

“Banyak pengumuman dulu, mungkin. Eh, emang… Beben gak bawa seragam?” tanyaku ragu-ragu, secara pelulusan itu identik dengan aksi mencoret-coret seragam.

Tak disangka, adikku itu menggelang saja. Aku pun memang tidak melihat dia menyiapkan seragam SMK kesayangannya. Melihat keputusannya itu, aku hanya mengulum senyum. Bangga. Seketika ingatanku lari ke masa pelulusan zaman SMA-ku dulu. Waktu itu aku dkk pun sangat antusias menyambut pelulusan. Segalanya kami siapkan. Dari mulai mental sampai selebrasi meluapkan kebahagiaan.

Masih jelas dalam memoriku bagaimana aku mengordinir keuangan untuk membeli minuman mineral, spidol dan pilox . Usai pengumuman, kami bergerak ke sebuah lokasi tempat selebrasi. Sengaja kami tak memilih konvoi. Selain kondisinya sangat ramai, kami pun mewaspadai aparat yang berjaga. Toh jumlah kami yang cukup banyak masih bisa menyemarakkan suasana.

Sampai detik ini, baju lusuh yang penuh coretan itu masih tersimpan rapi. Lengkap dengan tanda tangan dan kata-kata bebas ala teman-teman. Entahlah apa dalam pikiran kami waktu itu. Mencoret-coret, terbahak, berpoto, saling lempar candaan, dst. Yang jelas, kalau diingat-ingat… luapan kebahagiaan ala jadul itu memang konyol. 😀

Oke. Pada Jumat itu, beranda fesbukku seolah bertemakan “pelulusan” SMA. Banyak yang update status ‘lulus’ dan banyak juga yang gamang menanti pengumuman. Yang membuatku gusar, sampai waktu ashar tiba, adikku belum memberi kabar apapun. Barulah ketika aku tengah menulis (sekitar pukul empat sore), adikku tiba-tiba ada di belakangku. Ia masih mengenakan batik. Senyuman manis tak lepas dari parasnya ketika ia menyerahkan secarik surat. Aku pun ikut tersenyum dan memahami maksudnya. Alhamdulillaah, dia lulus.

Sambil menonton televisi bersama, adikku bercerita dengan antusias perihal kelulusannya. Nampak sekali ronanya berbinar, memancarkan kelegaan.

“Beben beneran gak coret-coret baju?” tanyaku lagi dan dia menggeleng-geleng (lagi), “Emang kenapa?”

“Gak apa-apa… Eh, Teh! Kasian sekolah-sekolah lain yang tidak lulus 100% ya?”

“Hooh,” kujawab sambil mengangguk. Dalam hatiku… mungkin dalam pikiran Beben, coret-coret bahagia karena lulus itu tidak hanya sia-sia, namun juga tidak menunjukkan empati pada rekan-rekan seperjuangannya yang kebetulan belum lulus.

“Tadi ada drama di sekolah Beben mah, Teh!”

“Drama apa?”

Beben pun bercerita. Ketika pengumuman kelulusan tiba dan wali kelas (perempuan) telah menggenggam surat-surat kelulusannya, Beben dkk tak mampu menyembunyikan degup jantung yang makin tak karuan. Terlebih pas sang wali kelas bilang,

“Kalau yang gak kebagian surat, berarti maaf… dia harus bersabar.”

Tak disangka, yang kebagian surat paling pertama itu Beben. Kata adikku, dia udah cukup percaya diri pas maju. Apalagi pas ia robek amplopnya, ternyata kata “TIDAK LULUS” yang dicoret melintang. Alhamdulillaah. Meski demikian, Beben mengaku masih deg-degan, siapa tahu ada teman sekelas yang bernasib sebaliknya. Benar saja, pas surat terakhir, Ibu guru bilang dengan nada sedih,

“Suratnya habis. Jadi semuanya tahu, hanya A (cewek) yang tidak kebagian surat. Yang sabar ya, A…” kata beliau sambil menatap A, seorang siswi tomboy yang cukup ‘berkuasa’ dan ‘megang’ di sekolah.

Meski cewek itu terbilang ‘urakan’, namun ia tak mampu menghalangi naluri femininnya untuk menjerit histeris dan menangis.

“Maafkan aku, Mamaaah! Bapaaak!”

“Kenapa akuuu? Kenapa bukan anak cowok aja yang gak lulus, Bu Guruuu!”

Tak ada yang bisa kami semua lakukan (termasuk sang wali kelas) untuk ikut berduka. Dengan malu-malu, adikku mengaku bahwa ia sempat menitikkan airmata. Kebahagiaan yang ia rengkuh seolah kalah total dengan keputusan tidaklulusnya salah-satu teman. Bagaimanapun, dia adalah teman yang sama-sama berjuang untuk lulus dari masa 3 tahun belajar.

Selain menangis dan menjerit, ia sempat tergeletak lemas. Memang tidak pingsan, namun badannya terlihat sangat lunglai. Baru kali itu, tak hanya murid perempuan, murid laki-laki pun terdiam dan bahkan sesenggukan. Ketika itulah, datang seorang guru produktif 1,

“Maaf, Bu. Ini ada satu surat tertinggal,” kata beliau sambil menyerahkan sebuah amplop.

Baik A, Beben dan teman-teman yang lain sedikit memancarkan harap. Jelas sekali, amplop bertuliskan nama Si A. Ibu guru tak segera membukanya. Beliau memilih untuk menyerahkannya langsung pada A. Sungguh! kami harap-harap cemas begitu A terbangun dan berusaha merobek amplopnya. Dan betapa kagetnya Beben, A kembali menjerit. Lebih histeris dari sebelumnya. Lagi, ia tergeletak lemas. Malah, ia tiba-tiba terjaga. Beben kira mau apa, ternyata Si A muntah. Melihat itu, Beben refleks mencari pasir demi menutupi muntahannya itu. Kasian sekali. Kesedihan makin mendekap kami.

Tak berlangsung lama, guru produktif 2 datang,
“Maaf, Bu. Surat yang tadi palsu. Ini surat yang asli…” katanya lagi sembari menyodorkan amplop.

A yang tengah tergeletak lemas, segera bangun dan menyambar amplop tersebut. Ketika suratnya dibentangkan, jelas sekali di hadapan kami; kata “TIDAK LULUS” yang dicoret. Sontak saja kami semua bergemuruh dan bersorak gembira. Keputusan itu sangat melegakan, melebihi leganya kelulusan pribadi. Sungguh, kesedihan yang sempat mendera berubah menjadi kebahagiaan tiada tara. Sang wali kelas pun tersenyum dan meminta maaf atas sandiwara tersebut. Ternyata, hal serupa berlaku di tiap kelas. Sasarannya adalah siswa/i yang semacam Si A. 😀

Meski tak dijelaskan, namun Beben dkk paham apa maksud dibalik sandiwara tersebut. Dan semestinya mereka kembali melanjutkan euphoria kelulusan dengan konvoi atau coret-coret. Namun, lagi-lagi Beben merasa sisi rasanya tersentuh,

“Kasian, Teh. Meskipun pada lulus, tapi masih ada teman-teman Beben yang punya hutang ke sekolah. Mending kalo tinggal sedikit? Itu mah masih pada banyak jumlahnya, Teh!” Ia menjelaskan sambil tertunduk,

“Orang tuanya sampai bela-belain jual kayu, sawah, dsb. Padahal, Teh… motor aja punya, jaketnya bagus lagi! Cuma gitu sih, biaya sekolahnya dikesampingkan…”

Baiklah, Dik. Kelulusanmu ini akan menjadi awal dari segerombolan ujian lain yang lebih berat, lebih berat lagi daripada semua yang telah terlewati. [#RD]

*27 Mei 2013

2 Comments
  1. Janiarto Paradise
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *