Laki-laki Bisa Lebih Sensitif

Laki-laki Bisa Lebih Sensitif

 lelaki bisa lebih sensitif“Seperti piramida, semakin ‘tinggi’ seorang perempuan, semakin sedikit laki-laki yang bersedia untuk mendekatinya (baca: menikahinya).”

Perkataan dosen ilmu filsafatku semasa kuliah masih terngiang. Menurut beliau, namun mayoritas laki-laki akan minder mendekati perempuan yang “lebih tinggi”. Entah itu lebih tinggi pendapatannya, pendidikannya, status sosialnya, atau mungkin tinggi badannya. He he he. Karena itu, banyak suami yang merasa terbebani jika memiliki istri yang “lebih” darinya, walau sang istri sendiri tidak mempermasalahkannya.

Jika dipikir-pikir, hal tersebut memang lumrah. Bagaimanapun, laki-laki adalah makhluk yang identik dengan kekuatan, kekuasaan dan kemampuan “lebih” ketimbang perempuan. Karena itu, aku kerap dibikin was-was kalau-kalau ketika mengajar tak sengaja meng-under estimate murid laki-laki. Misalnya membandingkan kemampuan mereka dengan murid perempuan. #dooh

Entah adik didikku menyadarinya atau tidak, aku memiliki pola tersendiri ketika menghadapi murid laki-laki. Jika mereka keliru, aku memilih untuk mengoreksinya secara personal atau sambil bercanda. Hal tersebut kulakukan, sebab aku rasa laki-laki bisa lebih sensitif jika seseorang menguraikan kelemahannya.

Sebaliknya, jika mereka melakukan hal-hal baik atau berprestasi, aku bisa sedikit lebaymengapresiasinya. Sejatinya setiap orang memang senang jika dihargai, dianggap ada. Entah itu sesederhana pujian atau senyuman bangga. Terlebih lagi bagi seorang laki-laki.

Di kelas A, aku baru tahu kalau ada muridku yang menjalin hubungan melebihi teman. Yang perempuan, selain rajin juga cepat menyerap apa yang kuajarkan. Tak ayal, di mataku, dia menjelma jadi siswi pintar. Kontras dengan laki-lakinya. Sosok yang terlihat “dingin” itu sudah jarang masuk, skill mengoperasikan komputernya pun masih perlu bimbingan khusus. Sayangnya lagi, pertemuan kami yang belang-belang membuatku tak terlalu mendalami karakter dan motivasi belajarnya.

Maka, sekalinya dia datang, aku tak melewatkan momen untuk terus memfasilitasi belajarnya. Bahkan, aku bisa mencuekkan murid-murid perempuan atau sebagian kecil laki-laki yang sudah mahir. Toh, mereka sudah cukup “aman”.

Hubungan spesial mereka biasa saja, tak terlalu “dipertontonkan”, apalagi di kelas. Mungkin karena keduanya agak pendiam. Namun aku bisa melihat, betapa sang cowok terlihat tengsin ketika aku mesti mengoreksi hasil kerjanya.  Padahal materinya belum cukup sulit. Seketika, ekor mataku menangkap sang cewek yang terus memerhatikan. Ia tersenyum, atau mungkin mengarah pada menertawakan melihat cowok di depannya. 😀

Sempat terpikirkan olehku untuk “menggodanya” di hadapan sang cewek. Namun niat itu kuurungkan. Kembali lagi, aku takut si cowok akan minder dan enggan melanjutkan belajar. Terlebih menurutku, sang cowok terlihat sebagai sosok yang ingin terus menjaga image-nya. So, aku masih berjuang untuk menaklukannya. Doakan, ya. He he he

Di kelas B, kasusnya sedikit berbeda. Ada sepasang kekasih yang kentara sekali intimasinya. Kabar yang kudengar, keduanya begitu kompak “kurang rajin”. Memang sih, ketika aku mulai meng-handle mereka, keduanya itu kerap asal-asalan mengerjakan tugas, bikin risih dan selalu ingin cepat selesai atau pulang. Istilahnya, mereka itu jadi trouble maker untuk dirinya sendiri. -_-

Lambat-laun, aku tahu bahwa sebetulnya mereka itu cukup pintar. Buktinya mereka cukup cepat menangkap penjelasan sekaligus sigap mengerjakan latihannya. Materi mudah, dilahap dengan mudah juga. Karena itu, aku sering memberi umpan yang lebih banyak, yakni berupa soal-soal yang agak rumit. Sengaja kubuat mereka berkutat lebih lama dengan soal, berdiskusi satu sama lain, menghargai proses dan aku sebagai tutor. Mereka sudah pintar, tinggal disetir aja untuk lebih rajin.

“Udah, belum? Cepet save,” godaku pada pasangan itu, “Baru boleh pulang.”

“Nanti, Bu!”

“Iya masih penasaran sama soalnya.”

Sip! kata-kata yang kutunggu itu akhirnya meluncur dari mulut mereka. Syukurlah, akhirnya jiwa penasaran mereka untuk memecahkan masalah sendiri bisa tumbuh. Meski pada awal-awal, mereka sempat cepat menyerah dan segera mengadu padaku untuk membantunya.

Yang membuatku tidak terlalu kesulitan, sang cowok nampak lebih cepat pemahaman dan kinerjanya. Karena itu, aku kerap “memanfaatkannya” untuk menjadi tutor bagi sang cewek. Kuberi kepercayaan sekaligus kubangun rasa percaya dirinya. Terlihat sekali, ia begitu semangat dan termotivasi, seakan-akan tak ingin menunjukkan cela di hadapan pujaan hatinya.

Sementara di kelas C, semua muridnya itu laki-laki. Mereka itu anak didiknya Pak Ikbal, hanya saja aku memiliki kesempatan dua kali untuk meng-handle-nya.

“Gak ada murid perempuan, ya?” tanyaku ketika pertama kali menghadapi mereka.

“Ada juga kakak kelas, Bu,” kata salah seorang diantara mereka, belakangan kutahu namanya Ivan, “Cewek-cewek di kelas kami gak pada rajin,” katanya lagi yang didukung anggukan dari teman-temannya.

Pertama kali mengajar, hal yang kuperhatikan adalah kemampuan dasar mereka akan Microsoft Excel, semacam mengatur atau merapikan tabel. Ternyata belum setara. Ada yang sudah “fasih”, ada juga yang masih perlu didampingi.

Namun dasar laki-laki. Sensitif juga. Hampir semuanya begitu minder saat kudatangi dan kukoreksi di hadapan teman-temannya sendiri. Di satu sisi, aku berpikir “ini proses belajar, wajar ada koreksi”. Namun di sisi lain, “laki-laki, inget, mereka bisa lebih sensitif jika kekeliruannya dipertontonkan.”

Demi mensiasati hal itu, aku koreksi seluruh hasil kerjanya. Mau yang sudah benar apalagi yang masih keliru, aku kasih komentar seolah-olah ada yang perlu ditinjau ulang. Kok bisa? Bisa saja. 😀 Untuk yang sudah benar, aku cari celah untuk mengomentarinya. Misalnya membesarkan huruf, merapikan tabel, menebalkan border, memberi warna, dst. Dengan cara itu, mereka akhirnya bisa menganggap bahwa koreksi adalah hal wajar. Toh semuanya kena.

Untuk pendekatan sendiri, aku sengaja membuat soal yang “agak berbeda”. Aku memberi tema “sepak bola”. Bahkan aku pun memplesetkan beberapa nama. Sengaja kulakukan itu agar “lebih akrab” dengan dunia mereka. Syukur, cara itu cukup efektif sehingga kelas yang sempat senyap berubah hangat.

Jika pada pertemuan pertama mereka masih nampak kikuk, maka pada pertemuan selanjutnya mereka mulai berani tanya jawab, bahkan tentang hal-hal yang menyangkut diriku. Dan lama-lama, mereka sampai “curcol” masalah sendiri – tanpa kutanya, tanpa kuminta.

“Wah contoh-contohnya pake nama pemain Barca mulu,” komentar Yudi.

“He he he, kalau gak mau, boleh diganti, kok!”

“Iya ah,” kata Lizza yang segera mengganti nama-namanya jadi pemain Real Madrid.

“Kamu pemain apa, Ham?” Aku bertanya pada Ilham.

“Ah, Persib aja ah, Bu,” jawabnya senyam-senyum.

Aku bergantian menanyai mereka, sampai kemudian dahiku mengerut menatap pilihan namanya Ivan, “Itu nama-nama tim mana, Van? Ada Mintarsih segala..”

“Gak tahu, Bu,” Ivan tertawa diiringi teman-temannya, “Saya gak tahu bola.”

#yaelah

“Ibu orang mana?”

Aku menjawab, lalu gantian bertanya, “Kamu orang mana?”

“Aku orang Ckndg, Bu?”

“Ckndng?” Aku mengingat-ingat.

“Itu yang dekat Cngmbl.”

“Waduh, jauh dong!”

“Iya, Bu. Aku orang jauh. Jadi suka kesal kalau lagi jalan di motor sendirian,” curahan hati Ivan, yang baru kusadar mirip Ustadz Alhabsyi, “Pulang-pergi sendiri, sampai berat badanku turun. Tekanan darahku pun naik, jadi 90,…”

“90?” potongku, “Pasti lemes tuh, Van?”

“Kenapa, Bu? Emang normalnya berapa?”

Teman-temannya lain saling menimpali. Aku serasa tengah menghadapi anak-anak yang jauh lebih muda dari mereka. Ah ternyata laki-laki pun doyan curhat. Dan tak ada hal yang lebih baik, selain mendengarkan dan berusaha bersimpati padanya.

“100-110-an, kalau gak salah, Van,” kataku, “Kalo kamu orang mana?” tanyaku pada yang lainnya, “Kamu? Kamu?”

Tak terasa, usai waktu habis dan proses KBM selesai, kami malah mengobrol. Di tengah rintik-rintik hujan dan hari yang menua, kami saling mencairkan suasana. Sampai kemudian, sebelum berpisah, aku sempat menyembulkan pesan,

“Jaga kesehatan dan berkendara dengan aman. Musim lagi kurang bersahabat, sementara kalian harus tetap semangat sekolah.” [#RD]

*27 April 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *