Langka; Muda-Mudi Rajin Mengaji

Langka; Muda-Mudi Rajin Mengaji

anak-anak mengaji

11 Juli 2014

Heran. Sudah sore begini, bahkan sampai aku leluasa menunaikan sholat ashar, tapi Aji dan Anisa belum datang. Sementara itu, teman-temannya sudah stand by dari tadi. Hummm apa ini refleksi dari ulahku dulu, yang gak suka on time?

“Jadwal kita dari jam 15.25 sampai jam 17.05,” Aku memberi pengarahan khusus pada keempat kelas yang kuajar, khususnya pada yang sering terlambat (Aji, Anisa, Dea Irawan, Imron, Ditha dan Siva), “Kalau datangnya jam 16.30 sekalipun, selesainya tetap 17.05,” tegasku, saking sebalnya.

Aku jadi kepikiran untuk memajukan jam mengajar mereka. Jam pertama yang biasanya masuk pada 14.00, akan kuubah jadi pukul 13.00. Sementara jam keduanya bisa jadi maju ke 14.25. Kurasa ideku itu akan efektif menekan kebiasaan telat mereka. Tapi apa yang terjadi?

Ketika aku mensosialisasikan terobosan itu, berikut jawaban adik-adikku, yang bikin aku malu dan termangu:

“Dea mah justeru pengin lebih seru, soalnya pengin mengaji dulu, Teh,” tutur cowok yang rajin hadir, walau kerap telat itu. Sementara sahabatnya, Imron, hanya mengangguk-angguk sepakat.

“Jam setengah tiga mah Ajinya masih di pengajian, Teh. Bubarnya jam setengah empatan,” Aji menjawab.

“Nis suka ngajar sekaligus mengaji dulu sampai ashar,” begitu ujaran Anisa, gadis yang pernah bikin pengakuan kalau ia akan selalu berusaha hadir walau tengah sakit sekalipun! 🙂

“Kalau bisa, kami pengin pindah jadwal aja. Soalnya masih di pesantren,” terang Ditha dan Siva, yang memang ‘mondok’ di salah satu pesantren.

Pantes, ketika aku tanya nomor ponsel mereka, keduanya malah menjawab, ‘Kami mondok, Teh!’. Awalnya aku tak paham, ternyata memang sudah aturan pesantren, melarang santri-santriahnya memegang alat komunikasi itu selama menimba ilmu agama. Subhanallah! Perkataan orang bahwa ‘zaman sekarang orang tak bisa hidup tanpa gadget’ patah sudah.

“Nur bisa izin les selama dua kali seminggu, Teh. Jadi ini juga mengajinya izin dulu,” Nur, anak kelas lain yang ternyata jam mengaji dan lesnya bentrok.

“Emang gak apa-apa?” Aku meyakinkan.

“Untungnya gak apa-apa,” terangnya polos.

Emosiku memuai seketika. Awalnya kukira mereka itu; menyepelekan jadwal, tak menghargai waktu dan tentu tak menghormatiki. Ternyata mereka memang memiliki alasan amat penting. Bisa-bisa aku menanggung dosa kalau menghalang-halangi kesadaran mereka untuk mengaji. Bukankah menimba ilmu (khususnya ilmu agama Islam) itu sesuatu yang sangat dianjurkan? Bahkan Allah Swt menjanjikan derajat yang tinggi untuk mereka?

Sedikit beruntungnya, aku tidak buru-buru ‘melabrak’ mereka, melainkan menanyakan terlebih dahulu alasan keterlambatan mereka. Entah apa jadinya kalau aku langsung memarahi atau menghukum mereka, ck ck ck pasti malu aku.

Subhanallaah… Kalau tidak karena tengsin, ingin kuraih tangan mereka dan menciumnya.

Aku masih ingat penuturan guru mengajiku (mudah-mudahan Allah Swt memberkahi hidup beliau. Aamiin). Beliau bilang, “Kalau orang tua yang beribadah itu hasan, alias baik. Tapi kalau anak muda yang beribadah itu ahsan, alias lebih baik. Betapa tidak, orang yang sudah tua tentu sudah sadar kalau waktu hidupnya mulai berkurang. Makanya dia memanfaatkan sisa usia untuk beribadah. Lain lagi dengan anak muda, yang merasa masih memiliki waktu panjang. Makanya hebat bagi seorang anak muda, yang mengisi waktu-waktu emasnya dengan ibadah, bukan dengan main-main.”

Apalagi di zaman sekarang, para muda-mudi sudah harus menghadapi godaan amat berat, seberat sosial media, nongkrong, ‘ngabuburit negatif’ (macam balapan, dua-duaan dengan yang bukan mahrim, ngegosip, menghambur-hamburkan uang, dst), dst. Kalau saja ada lembaga survey, bisa diteliti deh kalau banyak anak muda yang ‘pensiun dini’ dari mengaji. Termasuk aku, yang ketika awal kuliah sudah menanggalkan kebiasaan mengaji rutin bersama kawan-kawan. 🙁

Kali ini aku dihadapkan pada adik-adik didik yang begitu antusias dan merasa sayang kalau meninggalkan pengajian. Mereka bahkan memilih menelan resiko telat datang ke tempat les, ketimbang bolos menimba ilmu agama. Jadinya ilmu agama dapat, ilmu duniawi juga dilahap.

Wuih… rasa kecewaku berubah bangga. Aku beruntung dan besar hati bisa jadi instruktur mereka. Kalau aku hanya mampu segini-gini saja, setidaknya aku bisa berharap lebih banyak pada mereka. Di tangannya lah, peradaban agama dan bangsa akan diestafetkan.

Seorang penceramah pernah berseloroh, “Di mana-mana, di bangsa manapun… kita menggantungkan harapan itu di punggung para pemuda-pemudi. Belum ada ceritanya, sebuah bangsa menggantungkan harapan di punggung kakek-nenek…”

Ya, tak berlebihan kalau kita titipkan harapan pada generasi muda yang punya skill, tak hanya hard skill macam kepintaran akademis, melainkan juga soft skill yang meliputi keluhuran moral dan pengamalan agama yang baik. Sepakat, ya? [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *