Melupakan Teman – Teman Lama

Melupakan Teman – Teman Lama

Seseorang bercerita padaku. Suatu hari, ketika ia masih SMA, ia dan kawan-kawan semasa SD-nya hendak mengadakan reuni. Dan di suatu perjalanan secara kebetulan ia bertemu salah seorang teman SD-nya. Sebut saja Suzuka.

“Hei, Suzuka. Mau ikut reuni SD kita, ‘kan?”

“Tunggu dulu, emang kamu ini siapa ya?” tanyanya dengan raut heran.

“Oh… gak jadi!” singkat saja orang tersebut menjawab, lalu melengos.

Ia bahkan batal datang dalam acara reuni SD-nya, meski Suzuka telah meminta maaf atas sikapnya itu. Menurutnya, “aksi lupa” Suzuka sungguh keterlaluan. Baru saja dipisahkan masa SMP, sudah lupa begitu saja. Ia saja yang sudah memiliki teman dan sahabat baru di sekolah menengah atasnya masih bisa mengingat kalau Suzuka itu teman SD-nya.

Aku sangat maklum menghadapi kekecewaannya. Memang, teman itu gak sama. Rupa-rupa wajah dan karakternya. Ada yang masih “mengakui” teman, ada pula yang seolah “membuang” pertemanan itu. Aku sendiri mesti introspeksi, barangkali banyak teman yang merasa terlupakan bahkan terabaikan.

~~~

Beberapa waktu yang lalu, aku seolah “didekatkan” lagi pada teman-teman lamaku. Entah itu teman semasa SD maupun Mts (setingkat SMP). Ada yang dari sosmed, via ponsel dan ada pula yang bertemu langsung. Ada rasa senang tersendiri saat mereka masih meluangkan waktu untuk sekadar mengirim pesan singkat, menyapa dan menanyakan kabarku.

Dan suatu hari ketika aku menjaga kios dengan adik, seseorang berbelanja. Layaknya jual-beli, kami saling negosiasi harga. Sampai kemudian kami menyepakati angka tertentu. Orang tersebut lalu bertanya,

“Ini Dian, bukan?”

“Iya. Eh maaf, ini teh siapa?” tanyaku agak kelabakan sambil segera menyalaminya. Bisa-bisanya aku lupa.

“Aku T. Kita seangkatan waktu Mts, tapi gak pernah sekelas sih!”

“Oh, T…” Aku masih menyalaminya dan berusaha mengingat-ingat sambil menyusun alasan, “Pantes aku lupa, T, soalnya kamu terlihat pangling,” kataku lagi begitu menyadari dia tak lagi berhijab.

Kami pun sedikit menguak cerita-cerita semasa Mts. Sambung-menyambung kami me-refresh ingatan masing-masing. Hingga perlahan aku pun bisa mengurai ingatanku tentangnya. Ternyata ia adalah teman sekelas dari beberapa sahabatku. Dan demi “menebus dosa”, aku pun memotong harga barang yang ia beli. Hehehe 😀

Teman-teman lama itu… kalau kata seorang penulis, Tere Liye, ibarat barang antik. Semakin lama, semakin berharga. Heuheu. Dan teman-teman lama itu… (semestinya) jangan terlupa ya, Bro-Sist. *jitakin diri sendiri -_-‘ [#RD]

*07 Oktober 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *