Menghadapi Si Cerewet VS Tukang Ngeluh

Menghadapi Si Cerewet VS Tukang Ngeluh

si cerewet dan tukang ngeluh

Gimana rasanya menghadapinya orang cerewet? Nyaman atau justeru ingin kabur?

Kecerewetan orang tentu memiliki beberapa motif. Ada orang yang cerewet bicara ini-itu. Segala tema dilontarkan. Dia memonopoli obrolan dan kita didesak untuk jadi pendengar saja. Ada pula yang cerewet menasehatkan ini-itu. Harus inilah, jangan itulah. Seolah-olah kita adalah objek yang patut disembur masukan-masukan.

Atau, cerewet karena bertanya ini-itu. Dia penasaran ini untuk apa, itu gimana cara kerjanya, apa fungsinya, dst. Hummm… jadi paham, kenapa kecerewetan orang kadang memicu salah paham. Maksudnya baik ingin menasehati, eh diklaim ingin tahu urusan orang. Maksudnya mulia ingin menggali ilmu, eh sering dianggap merepotkan atau bikin risih. Huft!

Tapi… menghadapi orang cerewet tidak lebih parah daripada menghadapi orang yang terus mengeluh, menggerutu bahkan memprovokasi untuk pesimis alias menyerah pada keadaan. Dampak dari kecerewetan orang tak jauh dari panasnya telinga, risih sih iya dan gregetan (atau mungkin ada lagi?). Meski demikian, banyak cara punya untuk menanggulanginya. Kita bisa pakaiearphone, tak menanggapi kata-katanya, pura-pura ada keperluan, dst.

tukang ngeluh alias negative people, tips menghadapi si cerewet, cara agar bisa disenangi orang

Tapi orang yang tukang mengeluh memberi efek berbeda. Orang sejenis ini begitu negatif dan berbahaya. Betapa tidak, sikap pesimistis seperti itu memang bisa menjalar pada orang sekitar.

Nah ketika mengajar les, aku menghadapi beberapa ‘jenis murid’. Termasuk yang cerewet karena bertanya-tanya dan yang kerap mengeluh karena belum bisa. Ternyata tingkat kerisihannya agak mencolok.

Di LKP 2 ini, aku menandai seorang murid laki-laki. Dia masih kelas X. Anaknya rajin, baik, selalu merasa ‘rugi’ kalau apa yang kuajarkan belum dia kuasai dan inilah ciri khasnya; dia banyak bertanya dan selalu ingin cepat ‘dilayani’. Dia juga kerap melempar pujian padaku, kala aku bisa membantu ‘memuluskan’ usahanya mengerjakan latihan. Deu… sombongnya daku! -_-

Awalnya aku menganggap dia itu egois. Tak pandang aku tengah membimbing siapa, dia kerap memintaku untuk berbalik mendampingi dan memberi pengarahan padanya. Belakang kutahu, rasa penasarannya memang tinggi. Sampai kemudian tercetus tekadnya yang sampai kini ia terapkan,

“Saya harus mencatat semua materinya!”

Seruannya itu membuat sesuatu dalam hatiku tercekat. Aku seperti tertantang untuk menjelaskan materi lebih gamblang lagi, lebih berkualitas lagi, bersikap lebih sabar/ikhlas lagi, belajar ‘mencintai’ tipikal murid penanya dan belajar untuk tak patah arang seperti dirinya.

Berbeda lagi dengan seorang murid perempuan. Tiap kali kami latihan, dia selalu cepat menyemburkan keluhan. Entah itu berupa decakan, mengatakan ‘duh’/’yah’ atau gesture tubuhnya yang tak nyaman menerima soal. Tapi aku menghormati absensinya yang nyaris tanpa jeda. Kulayani saja dia.

Tak dipungkiri, lelah juga menghadapi anak semacam ini. Dia tidak saja membuatku berpikir keras, bagaimana supaya dia bisa mengerjakan latihan secara mandiri, melainkan juga menularkan sikap ingin mengeluh juga. Sampai kadang, aku frustasi. Ternyata pelayanan dan penjelasanku tak mengubah apa-apa dari dirinya. Aku juga sempat was-was, kalau sikap mudah menyerahnya itu mewabah pada yang lain. Huhu.

Kontradiksi ini memang menarik. Yang satu menularkan optimisme dan gairah. Yang satunya lagi mewabahkan pesimisme dan kelesuan. Di sinilah aku harus bersikap ajeg; be positive! [#RD]

2 Comments
  1. devina putri
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *