Menyambut Kelas RAM, Menyambut Bayi Perempuan

Menyambut Kelas RAM, Menyambut Bayi Perempuan

bayi perempuan

Jumat, 16 Mei 2014

“Entah kerusuhan apa hari ini?” batinku sambil otewe ke LKP. Maklum, sekarang jadwal anak-anak, tipikal kelas yang ramainya kadang tak ketulungan. Walau begitu, hmmm, kusambut kalian dengan bismillaah.

Baru saja tiba di muka pintu, anak-anak RAM yang perempuan terdengar tertawa-tawa disertai jeritan. Begitu kulihat, mereka tengah ada yang menempelkan tangan pada jidat (seperti adegan capek deh), memonyongkan bibir, nyengir, dsb. Lagi selfie via kamera netbook, rupanya! :s

“Poto-poto dulu, Teh!” seru mereka.

“Sambil nunggu yang lain, Teh!” tambah mereka.

“Iya silakan aja,” kataku, namun segera kutulis dan gambar materi hari ini – fungsi Vlookup dan Hlookup. Maklum, aku lupa meng-print dan mempotokopi lembar kerjanya.

Tak lama kemudian, datang Ikhwan – Sahbudin – Ade Salman. Tapi hey, siapa dua orang di belakang mereka? O, rupanya Ivan dan Yudhi. Kemungkinan besar mereka akan ikut ke kelas RAM. Tapi… duh, bapak-bapak MD ‘kan mau les juga sekarang? Etdah!

“Ada makhluk asing!” seru Rilanti Cs, bikin Ivan dan Yudhi menjaga jarak dari kelas RAM.

“Kenapa di situ?” Aku heran Ivan sama Yudhi masuk ruangan Bahasa Inggris, namun gordennya memang terbuka, “Di situ biasanya dipake anak-anak Bahasa Inggris, loh!”

“O gitu ya, Bu? Iya deh,” kata mereka, menggusur kembali laptopnya masing-masing dan memposisikan diri di paling belakang anak-anak RAM.

“Kenapa ikut sekarang?” Aku ingin tahu alasan keduanya.

“Kemarin Selasanya hujan, Bu,” jawab Yudhi. Ah, cute. Mereka seolah-olah menyayangkan keadaan di mana tidak bisa les. Dan sekaranglah, mereka rasa bisa menebusnya.

“Iya, tapi materi kelas ini kayaknya susah,” tambah Ivan.

“Emang materi kalian sama Pak Ikbal udah sampai mana?” tanyaku, “Fungsi IF udah?”

“Udah, Bu.”

“Teh, ini apa sih, tabel mulu?” perempuan RAM ‘mulai’.

“Apa itu vlookup, hlookup?”

“Yang diisi pake rumusnya yang mana?”

“Yang kolom kosong, itu yang akan kita isi,” kataku, “Santai aja, nanti Teteh terangkan.”

“Teteh!” seru Randini, kembali memecah suasana tenang, “Ini si Rilanti ngamuk terus dari tadi!”

“Kok kamu nyubit sih!” kata Rilanti.

“Biarin!”

“Teteh!” giliran Ika yang menyeru, “Tabel aku ilang, gimana?”

“Asyik!” yang lain bersorak.

Kucoba memanfaatkan fasilitas undo dan tabel yang sudah susah payah dia kerjakan kembali muncul. Melihat itu, Ika tersenyum penuh kemenangan. Hadeuh…

“Udah semua, Teh!” Ikhwan memberi info.

“Bagus, Ikhwan. Ihk pinter banget, kamu!”

“Huuu Si Ikhwan mah mau dipuji tuh!” cemooh Randini.

“Aku juga udah, nggak ngomong-ngomong tuh!” kata Ade Salman.

“Ihk Randini pinter banget!” Cindy meniruku.

“Ihk, apa kamu? Ogah, ya!” Randini kesal.

gambar anak anak lucu, selamat datang anak-anakKupegang kendali kelas. Aku menerangkan fungsi vlookup dan hlookup via white board. Dari mulai formulanya, urutan isiannya dan menerangkan dari mana asal ini, asal itu. Ketika menerangkan itu, kulirik Teh Heni yang sama-sama tengah menjelaskan, namun Bahasa Inggris. Terbersit sesuatu dalam hatiku. Aku berniat ingin menanyakan kabar Bu Yeli, yang sudah mengandung tua. Beliau sudah melahirkan apa belum, ya? Mau sms atau telpon, gak punya nomor ponselnya.

Sementara itu, anak-anak langsung menerapkan apa yang aku jelaskan. Ada yang berhasil, ada pula yang belum mulus misinya.

“Ulangi lagi memblok tabelnya, terus tekan F4,” instruksiku setelah memerhatikan salah satu anak yang belum berhasil mengisi isiannya.

“Kalau yang ini,” dahiku mengernyit sejenak, “Coba cek lagi tulisan fungsinya, vlookup apa vlooksup?”

Kubiarkan mereka mencoba mengisi sisa isiannya sendiri. Lagi-lagi, ada yang lancar dan ada pula yang mesti melalui beberapa kendala. Namun tak apa, hal itu bisa membuat mereka lebih teliti.

“Yang Hlookup gimana, Teh? Sama aja?” tanya Cindy.

“Iya, tinggal ganti jadi fungsi Hlookup,” jelasku, “Urutan formulanya sama, hanya saja hlookup itu menghitung baris ke-, bukan kolom ke-.”

“Oh iya, ya!” seru yang murid laki-laki.

“Wah, Sahbudin emang pandai, udah mengisi hampir semuanya!” Aku menengok hasil kerja anak rajin itu.

“Huuuu!” koor yang perempuan.

Sambil menjawab pertanyaan, keluhan dan canda mereka, aku keliling. Hinggap dari meja ke meja. Tak lupa juga menengok Yudhi dan Ivan, yang nampak khusyuk, seolah penasaran dengan materi – yang sebenarnya – baru akan mereka pelajari nanti.

“Nah, gimana? Walau tabelnya agak banyak, tapi materinya enggak susah, ‘kan?” tanyaku.

“Biasa aja tuh!” jawab Randini dan Cindy, uh! sentimen banget, sih! -_-

Kulihat isian mereka hampir sempurna. Tinggal dirapikan saja. Sebagian besar sudah mulai mereka-reka tabel masing-masing, sebagian beristirahat dengan meregangkan otot.

“Ah, kita mah gak usah diwarnai gitu lah,” kata Ika pada Cindy, “Seadanya aja.”

Cindy nampak diam saja, mungkin tengah khusyuk pada kerjaannya. Sementara Randini, Sahbudin, Ikhwan dkk mulai menerapkan selera ‘dekorasi’ tabelnya secara bebas. Ada yang memanfaatkan efek gradien, style conditional formating ala Sahbudin, padu-padan warna, dst.

“Wah punya Sahbudin lucu banget!” seruku, memang selalu memandang manis pada hasil kerjanya itu.

“Huuuuu!” -___-‘

Beberapa menit kemudian, datang bapak-bapak dari MD. Mereka menempati ruang Bahasa Inggris, yang masih menempel dengan ruang anak-anak RAM. Alhasil, aku mesti membagi diri. Ke kelas RAM juga ke bapak-bapak MD.

Aku memberi materi seputar equation. Kuberi contoh berupa fraction sederhana dulu, lalu lanjut pada script, radical dan integral. Sengaja tak kuberi soal ke formula selanjutnya, sebab semua itu akan jarang atau mungkin tidak akan pernah beliau hadapi. Heuheu.

Tadinya aku takut beliau akan kesulitan memahaminya. Namun ternyata tidak. Baik Pak A dan Pak D bisa melewati semua itu. Aku pun jadi tak cemas meninggalkan keduanya untuk kembali ke kelas RAM. Kurasa, sudah saatnya pertemuanku dengan mereka selesai. Setelah kupungkas belajarnya dengan mereka, aku kembali fokus pada bapak-bapak dari MD.

“Teteh!” seru seorang anak RAM, nampaknya Rilanti dan Randini.

“Ada apa?”

“Pengin salam dulu,” kata mereka, sweet.

Anak-anak RAM sudah pergi dan suasana begitu sepi. Kini aku hanya bersama dua bapak-bapak. Sementara Teh Heni terlihat duduk-duduk di ruang anak-anak RAM. Tumben beliau belum pulang?

“Belum pulang, Teh? Mau nungguin?” tanyaku.

“Heheh ini mau ngajak ke Bu Yeli, kita barengan aja,” jawabnya, “Dia udah melahirkan loh!”

“Masak sih, Teh?” Aku terkejut juga, “Barusan Dian mau tanya, gimana kabar Bu Yeli?!”

“Wah nyetrum tuh! Hehehe.”

“Hehehe.”

Setelah rapat mendadak dengan Pak Yudhi, Pak Iwan dan Pak Andi, kami akan mengunjungi Bu Yeli dan Si Buah Hatinya sore ini. Namun mereka akan setia menungguiku dulu bersama para bapak-bapak. Hehehe. Dan, tanpa kami sangka, lampunya mati!

“Yah…” keluh si bapak-bapak, sebab kebetulan laptop yang tengah mereka charge mendadak gelap. Otomatis, acara les kali ini ‘diselesaikan’ oleh keadaan. Hohoho.

Di bawah guyuran cahaya senja, aku dan kawan-kawan dari lembaga kursus menuju ke rumah Bu Yeli. Beliau tengah bersama puteri mungilnya yang tertidur. Kami duduk mengelilingi si mungil, seolah menyambutnya yang baru membuka mata. Selamat datang di dunia, Nak. Mudah-mudahan kamu tumbuh jadi puteri sholehah. Aamiin. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *