Menyelamatkan Orang yang Hampir Tenggelam

Menyelamatkan Orang yang Hampir Tenggelam

menyelamatkan anak tenggelam

Konsentrasiku masih tertuju pada dua murid baru dan dua bapak-bapak yang hampir ujian. Dua kubu ini sangat menyedot perhatian. Yang satu memang layak kusimak, sebab hari ini adalah pertemuan perdana kami. Aku perlu pendekatan intim untuk tahu, cara dan sikap yang bagaimana yang cocok menghadapi mereka.

Sedang kubu yang satunya lagi akan ‘kulepas’. Dan hari ini akan menjadi hari KBM terakhir kami, sebelum besok uji kompetensi. Karenanya aku perlu menakar, sejauh mana ‘hasil jerih payahku’. Kami betul-betul fokus.

“Toloooong! Tolong ni ada anak tenggelam, toloooong!” suara Si Mimih pemilik rumah.

Pekikan pertama menjadi alasan kuat bagi kakiku untuk melesat. Kebetulan ruangan kami belajar berada di belakang, dekat dengan ruang televisi, dapur, kamar mandi, sebuah kolam. Di dekat kolam itu ada kursi tempat bersantai dan deretan jemuran.

Kadang-kadang, ketika ingin melepas jenuh karena melihat murid dan pekerjaannya, ekor mataku mengarah pada kolam. Hadeuh… Walau harus kuakui, aku sedikit ‘gentar’ melihat air. Baik itu yang riak maupun yang diam. Apalagi yang diam. Aku selalu berburuk sangka, kalau dibelakang air yang kelam itu ada sesuatu yang bisa menarik tubuhmu. Hiiiy!

Kini di hadapanku seorang bocah cantik menggelinjang-gelinjangkan tubuhnya. Tangannya menggapai-gapai sementara mulut dan dadanya menggambarkan derita. Pasti rasanya begitu sesak. Entah memang air yang membuatnya berkecamuk, atau justeru dirinya sendiri yang membuat air seperti mengamuk. Yang jelas pemandangan ini amat sangat mengerikan!

Dia terus meronta. Dan ketika pandangannya mengarah padaku, aku segera membungkukkan badan. Tak peduli celanaku akan basah atau bagaimana. Sedikit beruntung, posisinya ada di sisi kolam. Segera saja kutarik tubuhnya. Aku tak mampu. Sampai kemudian ada tangan lain yang membuat pekerjaan tanganku berubah ringan. Rupanya Pak A, ‘murid’ bapak-bapakku yang telah siaga.

Ketika kami berhasil mengangkat si anak, bibirnya yang membiru terlihat gemetar. Tubuhnya pun tak kalah gemetar. Dia duduk lunglai. Aku jadi ikut gemetar.

“Ambilkan minum, ambilkan minum!” instruksi Pak Iwan segera dilaksanakan Bu Pipin. Anak gadis itu menyedot air kemasan dengan terburu-buru.

Aku menenangkan diri dengan membasuh kaki-tangan ke kamar mandi. Sementara kuhindari juga kontak dengan si bocah yang gemetaran. Kurasa aku begitu trauma melihat ekspresinya ketika timbul-tenggelam di air, menggapai-gapai dan mencari ‘lahan’ oksigen di sela-sela dadanya yang terlihat pengap. Sementara anak-anak les komputer, Bahasa Inggris dan instrukturnya terlihat mengurut dada dan berkomentar senada; ‘uh kaget, beneran!’

Jadi ingat pesan Nabi Muhammad Saw. Betapa manusia mulia itu sudah jauh-jauh hari ‘menginstruksikan’ kita agar belajar berkuda,memanah dan berenang. Ketiganya terbukti memiliki dampak menakjubkan.

Berkuda, rupanya olahraga ini bisa membuat kita terhindar dari segala masalah sakit punggung dan juga bisa mencerahkan mata. Alasannya? Gerakan ‘galopping’ (gerakan ketika kuda melompat dan berlari menyebabkan pergerakan vertebrata tulang belakang kita bersentuhan satu sama lain, seolah-olah tengah diurut). Juga, gerakan itu memicu rangsangan terhadap syaraf kranial.

Sedangkan memanah memang menjadi hobi yang hebat. Betapa seorang pemanah tidak hanya bertugas menarik busur dan melepaskannya. Lebih dari itu. Menjadi pemanah berarti belajar fokus untuk mencapai ‘target’, belajar ‘seimbang’, konsen, kalem, mengendalikan emosi dan pokoknya bisa menguasai diri. Jadi kebayang, seorang pemarah, yang kerap grasa-grusu, panikan, hewir alias ‘riweh’ binti rempong, tentu akan super kesulitan menjadi pemanah ulung.

Adapun berenang, nyatanya menjadi olahraga yang keren. Pantesan adik bungsuku yang sedang menekuni kuliah jurusan olahraga pernah berkomentar, “Mending main voli atau lari keliling lapangan gitu daripada ngikutin mata kuliah renang. Capek dan bikin dehidrasi!”. Memang, olahraga ini mengerahkan kekuatan fisik, mental, segala otot dan tulang rangka untuk menciptakan gerakan terkoordinasi antara tangan dan kaki. Olahraga air ini juga melatih pelakunya untuk lebih berani. Sebab, selain segala hal bisa terjadi di air, suasana dan kedalaman air itu memang menakutkan.

Phew! Sampai ke rumah, hendak tidur bahkan ketika tidur pun… aku jadi menyesal, tidak pernah belajar berenang. Dan, jika suatu saat nanti diamanahi memiliki anak, maka berenang akan jadi salah satu hal yang prioritas. [#RD]

*06 Juli 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *