Merasakan Kenikmatan Kerja

Merasakan Kenikmatan Kerja

menikmati pekerjaan

Sebulan sudah aku memanfaatkan hari Minggu untuk mengajar les komputer di LKP SEA 2. Sebal? Humm… hari libur dipakai untuk aktivitas agak serius, ya kebayang lah bagaimana perasaannya. Capek? Tentu. Tapi aku percaya juga, bahwa tak ‘pekerjaan ni’mat’, yang ada adalah… bagaimana kita meni’mati pekerjaan itu.

Bosan? Bete? Jenuh? Ini yang aneh. Jawabannya, tidak selalu. Sebab, mengajar itu tidak diam. Aku bergelut dengan materi juga sejumlah manusia yang berbeda. Karenanya, ada saat-saat yang mengejutkan, di mana Allah Swt mengantarkan penyemangat dengan tiba-tiba. Baik berupa orang, kejadian bahkan celetukan-celetukan.

Sejauh ini sudah ‘nampak’, mana anak yang les serius dan mana pula yang hanya jadi ‘follower’ rekan-rekannya. Dari empat kelas, aku bisa menyimpulkan begini; kelas pertama, yang sejak awal memiliki beberapa murid perempuan yang antusias, kini malah mereka yang mem-pause les. Alhasil, sampai sekarang muridnya laki-laki semua. Ada sembilan orang. Mereka rajin, cepat nyerap (walau kadang cepat amnesia juga :p), suka berdiskusi seputar musik dan bola, suka datang telat, tapi agak ‘ngambek’ kalau aku men-stop kegiatan les mereka sesuai waktu. Mereka bilang, ‘serasa baru belajar sebentar’. Tapi aku sengaja tegas seperti itu, supaya mereka tahu, betapa berharganya detak waktu.

Kelas kedua, merupakan kebalikan dari kelas pertama. Ya, karena kelas ini dihuni oleh sembilan gadis belia. Rasa-rasanya kelas inilah yang tingkat absensinya konsisten bagus. Mereka itu on time, kompak (walau berasal dari kelas berbeda di sekolahnya), masih mengaji, beberapa suka menulis penjelasanku, kerap terlibat dalam ‘iri positif’ (selalu penasaran dan ingin tahu kala seseorang diantara mereka lebih kreatif), walau masih ada yang terjebak kepanikan ketika mengerjakan tugas.

Kelas ketiga, kelas campuran. Baik itu antara laki-laki dan perempuan, antara kelas X dan XI, antara yang sudah mahir maupun masih ‘merangkak’ serta antara yang rajin banget sampai yang sedikit malas. Sialnya, aku mengajar mereka tepat ketika kondisi tubuhku sudah terkuras karena mengajar dua kelas sebelumnya. Karena itu, aku kerap memanfaatkan waktu dzuhur. Selain untuk menegakkan sholat, juga untuk ‘cari angin’ dulu ke luar dan mengisi hak perutku yang tarlingan. Heu.

Betapa tidak, hal paling menyulitkan di kelas ini adalah; kemampuan mereka tidak merata. Sehingga yang sudah bisa terlihat jenuh menanggapi teman-temannya yang belum se-level skillnya, juga yang belum bisa terus bertanya-tanya dan terkesan tak sabaran kalau hasil kerjanya belum seperti yang lain. Ini masih mending. Kalau ada yang mulai mengembuskan keluhan atau provokasi untuk menyerah, ini bisa jadi tragedi dalam kelas. Parah.

Yang terakhir. Kelas ini berjumlah delapan orang. Mereka juga campuran antara laki-laki dan perempuan, antara kelas X dan XI. Namun seperti di kelas pertama. Seorang anak yang dari awal aku ‘prediksi’ akan rajin, nyatanya pergi entah ke mana. Walau demikian, langsung ada penggantinya. Tiga pemuda tanggung sekaligus!

Ketiganya sempat ‘merengek’, memintaku untuk ‘melunasi’ dua pertemuan awal ketika mereka belum bisa hadir. Namun mengingat kemampuan dasar dan tingkat kehadiran mereka yang bagus, aku menolaknya. Kurasa kalau konsisten rajin dan ‘penasaran’ seperti itu, mereka bisa menyusul, bahkan melampaui anak-anak les terdahulu.

Di kelas terakhir ini juga ada beberapa pencatat ulung. Selain ‘mengabadikan’ pelajaran lewat pena dan kertasnya, mereka bahkan menggambar simbol-simbol yang ada. Jika semua itu terus dilakukan sampai les ini usai, mereka itu begitu hebat. Sungguh!

merasakan nikmatnya pekerjaan2, nikmat kerja, bekerja, senyum

Begitulah, dinamika les di LKP cabang ini mulai terlihat. Aku bisa maklum, sensasi semangat memang terasa begitu besar ketika di awal-awal. Makin lama, makin lunglai. Ya… aku juga ‘kan pernah berada di posisi sebagai pelajar. Memang hanya beberapa saja yang terhebat, yang tertangguh, yang lolos dan yang bersukacita atas sikapnya.

Sebagai pengajar, akupun merasa demikian. Lama-lama capek juga, bete juga. Sebab, seorang pengajar itu sejatinya merangkap pelajar juga. Ternyata seorang pengajar, selain mengajar materi, juga mempelajari hal-hal non-material. Sederhananya semacam gini; belajar untuk tidak menunjukkan pada anak-anak kalau pada saat mengajar itu sebenarnya hati kita sedang lebam, tubuh kita sedang letih atau pikiran kita sedang lecek.

Namun penyemangat terbesar ketika down mengajar itu tak melulu berasal dari pembayaran honor tepat waktu atau jumlahnya yang membengkak saja. Kadang, hal yang terkesan sepele seperti ucapan terima kasih seorang siswa, kedatangan/keberadaannya, pertanyaannya, usahanya mengikat ilmu dari kita dengan mencatat, kemampuan kita untuk membantu keluarga walau sedikit, memberi ‘angpau’ pada keponakan, dst, bisa membuat senyum ini mekar.

Kalau sudah begini, duh Allah… kuatkan aku agar bisa mensyukuri pekerjaan dan tidak menciderai kepercayaan rekan-rekan kerja, keluarga dan adik-adik didikku. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *