Merdeka Itu… Apa?

Merdeka Itu… Apa?

merdeka itu... apa

“Kemungkinan… #merdeka itu ada saat kita bahagia, tak dijajah oleh amibisi pribadi. Tak juga diperbudak oleh dunia dan segala isi fananya.”

Klik. Kutekan bagi-kan di dinding fesbuk. Isi status itu mengalir begitu saja begitu aku masuk dalam gegap-gempitanya orang menyambut HUT kemerdekaan NKRI. Rata-rata akun fesbuk yang berteman dengan menyerukan kata ‘merdeka’. Aku bertanya-tanya… sebenarnya ‘merdeka’ itu apa?

Jika memang telah merdeka, kenapa masih banyak pemimpin yang menjajah rakyat dengan kekuasaannya? kenapa masih ada pelayan-pelayan rakyat dan menjajah rakyat dengan mempersulitnya? kenapa masih ada sebagian saudara sebangsa-senegara yang terjajah oleh kemajuan negeri sendiri? kenapa masih banyak nafsu dan ambisi yang menjajah diri sendiri untuk berubah ‘kejam’, rakus dan tak berprikemanusiaan?

Ah… yang aku tahu sekarang adalah menyiapkan acara 17 Agustusan di blok tempat tinggalku. Kebetulan aku dan para pemuda/i menyiapkan macam-macam lomba khas Agustusan. Mulai dari lomba adzan, balap kelereng, balap karung, memukul air, memasukkan paku ke dalam botol, joget balon sampai tinju air dan ‘Indonesia Pintar’ (mengadaptasi dari acaranya Uya Kuya).

Antusiasme anak-anak, ibu-ibu, masyarakat dan para donatur menyuntikkan semangat tersendiri. Uang yang terkumpul dari masyarakat dan donatur (pemuda/i yang cukup sukses) tak kami nikmati sendiri, melainkan kami alirkan untuk bendera, perlengkapan lomba dan tambahan hadiah. Hal itu memberi kepuasan tersendiri. Perlengkapan lomba pun tak payah dicari. Semuanya seolah serba mudah. Para pemuda mempersiapkan ‘lapangan’, sementara aku dan teman-teman pemudi membungkus hadiah di rumahku. Sambil poto-poto dan mengobrol ria, pekerjaan itu selesai juga. 😀

Esoknya, aku tak mengikuti jalannya lomba dari awal. Ketika tengah-tengah lomba balap karung, barulah aku menampakkan muka. Repot sekali rasanya aku ikut berkecimpung bersama rekan pemuda sambil mengasuh keponakan. Namun keramaian dan tawa anak-anak menghapus keluh itu. O, beginilah rasanya ‘merdeka’. Bahagia. Mirip seperti yang dikatakan motivator yang tak bertangan-tak berkaki, Nick (Australia), “Freedom is happiness”.

Matahari tepat berada di tengah-tengah. Bukannya menyurutkan mood, kami dan para peserta malah semakin terbakar semangatnya. Begitupun ketika matahari mulai menenggelamkan diri, semangat kami masih kuat berdiri. Derai tawa makin terasa, masyarakat makin berdesakan, panitia makin sigap dan kompak lalu peserta makin menggebu-gebu.

Ajang ini tak hanya sebatas mengumpulkan uang, mengadakan lomba lalu membagikan hadiah. Ada beberapa hal yang bisa kami petik:

– Menumbuhkan nasionalisme dini. Merayakan betapa bahagianya Indonesia menjadi Negara merdeka, bendera merah-putih berkibar-kibar, lagu kebangsaan menggema dan lepas dari penjajahan Negara lain.

– Kekeluargaan kami makin terasa. Bahu-membahu kami merencanakan, mempersiapkan, mengadakan dan mengevaluasi acara ini.

– Melatih sportivitas dan skill para peserta yang sebagian besar memang masih kanak-kanak. Mereka merasakan jatuh-bangun atas usaha diri sendiri. Berusaha menerima kekalahan dan mensyukuri kemenangan.

– Membangun kerja-sama dalam permainan/perlombaan yang membutuhkan sinergi. Ketika joget balon, para pemenang adalah pasangan yang berusaha seirama dan seapik mungkin menjaga balon mereka tidak jatuh sembari terus bergoyang menghibur para penonton. 😀

Dirgahayu, bangsaku. Mudah-mudahn kita merdeka seutuhnya…. [#RD]

*17 Agustus 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *