Mereka yang Sukses Besar di Tengah Keterbatasan

Mereka yang Sukses Besar di Tengah Keterbatasan

berjuang di tengah keterbatasan

Kita ini kurang apa? Punya fisik sempurna. Kalau pun tidak, kita masih memiliki otak dan akal. Kalaupun tidak, kita masih memiliki hati nurani. Hummm, kurang apa kita? Jangan-jangan, seperti kata Aa Gym, kita ini tak kurang apa-apa, kecuali; kurang… ajar! :O

Kisah Abdurrahman Bin Auf

Selain seorang sahabat Nabi Muhammad Saw, Abdurrahman Bin Auf dikenal sebagai sosok pecinta pecinta fisabilillaah. Hidup matinya dipertaruhkan demi Allah Swt. Bahkan, ia merelakan harta dan nyawanya ketika berjuang di jalan Allah Swt. Peperangan demi peperangan dilaluinya, sampai memahat luka-luka dalam tubuhnya.

Pahatan luka itu telah membuat kakinya pincang dan bicaranya mengalami ketidaksempurnaan. Alhasil, beliau bertransformasi. Dari seorang pemuda tampan menjadi pemuda yang cacat sepanjang hidupnya. Namun siapa sangka, Abdurrahman Bin Auf justeru mampu menjadi konglomerat muslim yang populer, tidak hanya karena kekayaannya, melainkan karena kedermawannya juga.

Beliau berhasil menghidupkan pasar Islami dan memiliki banyak karyawan. Bahkan suatu hari, Kota Madinah digemparkan oleh derap ratusan kuda miliknya, membawa 700 kendaraan berisi kebutuhan pokok. Semua kebutuhan itu malah dibagi-bagikan pada para penduduk Madinah yang membutuhkan. Begitulah seorang Abdurrahman Bin Auf; dalam kepapaan fisiknya, ia menjelma jadi satu dari sedikit orang yang rela melimpahkan hartanya di jalan Allah Swt.

Kisah Mimin (dikutip dari buku Pelangi Nurani – Helvy Tiana Rosa)

Mimin adalah sosok yang memiliki keterbatasan secara fisik. Kemanapun ia melangkah, kruk selalu setia menemaninya. Bahkan ketika ia menimba ilmu di kampus, rekan-rekannya kerap bergantian membantu Mimin menaiki tangga demi memasuki ruang kuliah. Ajaibnya, beliau tidak mengeluh, bahkan bersyukur.

“Saya justeru bersyukur. Saya berharap setiap kali orang menatap saya, mereka menyebut asma Allah Swt,” katanya.

Dengan segenap ketakwaan, semangat dan rasa syukurnya pada Allah Swt, Mimin berhasil meraih gelar sarjana, menikah dan memiliki anak-anak yang sempurna. Bahkan, kini ia menjadi psikologi dan kerap diundang untuk menjadi pembicara di berbagai seminar! Wuih…

jangan menyerah

Kisah Malcolm (dikutip dari buku The Aladdin Factor)

Setelah berjuang menyelamatkan kawannya dari amuka srigala di hutan, Malcolm menjadi pria cacat seumur hidup. Tak hanya secara fisik, namun juga mental. Meskipun sudah menjalani pengobatan selama delapan tahun, hasilnya tetap sama, tak bisa mengubahnya jadi Malcolm yang semula. Saking menderitanya, Malcolm hampir bertekad untuk bunuh diri. Ia ingin mengakhiri hidup dengan menjatuhkan diri dari lantai sepuluh sebuah gedung. Beruntung, ayahnya datang dan nasihatnya bisa membuat Malcolm bertahan.

Pasca kejadian itu, Malcolm mulai belajar dua hal vital. Pertama, ia belajar menerima keadaannya sekarang. Kedua, ia belajar untuk memperbaiki hubungan sosial yang selama ini ia hindari. Malcolm tidak hanya ingin hidup normal, melainkan juga bangkit untuk melakukan sesuatu yang bermakna di sisa usianya. Ia banyak mendengar kaset-kaset motivasi, mencubit pelajaran dari orang-orang sukses dan akhirnya memutuskan menjadi penjual jasa asuransi.

Malcolm tahu diri, bahwa menjual jasa asuransi adalah pekerjaan menantang dan bahkan bisa dihadapkan dengan berbagai penolakan. Perlu nyali tinggi dan mental baja. Namun ia meneguhkan hati. Ia lawan rasa takutnya sendiri. Bahkan Malcolm menjadikan cacat fisiknya sebagai modal. Ia pasang potonya pada kartu bisnis.

“Saya buruk rupa di luar, tapi tampan di dalam, jika saja anda punya kesempatan untuk mengenal saya,” kata Malcolm kepada orang-orang ketika ia memberikan kartunya.

Atas usaha dan ‘kebandelan’ mentalnya, setahun kemudian Malcol menjadi agen asuransi nomor wahid di Vancouver – Amerika Serikat!

Demikianlah sekelumit kisah dari tiga inspirator, yang bisa bangkit dan sukses di tengah keterbatasannya. Kita sendiri, bagaimana? [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *