Minggu, Belajar – Mengajar?

Minggu, Belajar – Mengajar?

minggu KBM

Minggu, 18 Mei 2014

“Hari ini jadwalnya di LKP 2 ya, Teh.”

Demikian sms dari Teh Pipin, istri Pak Iwan. Kebetulan keluarga kecil beliau menempati sekretariat cabang tersebut. Letaknya sedikit lebih dekat dari sekretariat satu.

“Iya, Teh. Insya Allah.”

Jam delapan. Aku yang sedang di pasar pun pulang dengan tergesa. Tak elok juga rasanya, hari perdana mengajar sudah telat. Selain memberi citera negatif, juga menyumbang teladan yang kurang baik. Heuheu

Berat amat berat. Betapa Minggu biasanya menjadi jadwal rehat, kini mesti kumanfaatkan untuk kegiatan belajar – mengajar. Namun bagaimana lagi, semua ini sudah jadi konsekuensi. Pihak LKP sudah memberi kepercayaan dan aku sudah menyanggupi. Phew! Tetesi kekuatan padaku, Tuhan.

Di waktu yang sudah ditentukan, jam setengah sembilan, aku sudah stand by di LKP 2. Lokasinya strategis sekali, di pinggir jalan. Aku tak mesti susah-payah menyeberang atau berjalan agak jauh dulu. Sayang, anak-anak belum datang. Karenanya aku melihat-lihat lokasi sejenak. Rumah yang kami sewa cukup besar. Meja admin menyambut di depan. Di sebelah kiri ada kamar, tentu menjadi tempat istirahatnya Pak Iwan – Bu Pipin. Masuk lagi, di sisi kiri ada ruangan Bahasa Inggris. Sementara di kamar kanan merupakan kelas komputer. Semakin masuk ke dalam, ruangan terbagi dua lagi. Di sisi kiri nampak akan jadi ruangan belajar lagi. Di sisi kanannya merupakan ruang televisi. Di depannya dapur dan kamar mandi. Airnya besar dan mengalir. Nampaknya akan menyenangkan!

Aku kembali lagi ke depan. Lalu duduk di kursi admin, melihat jadwal – absensi – mengobrol dengan Bu Pipin. Ketika itu, pandanganku terarah ke jalan raya. Kebetulan pintu LKP-nya terbuka dan langsung tembus ke jalan.

“Di luar rame banget, Teh?”

“Iya, ada yang meninggal,” jawabnya, lalu aku melihat memang ada bendera kuning yang melambai, “Yang dulu kecelakaan, koma, terus sekarang sampai meninggal.”

Aku masih menatap jalan raya. Apalagi, ada seorang anak laki-laki bermotor yang terus menatap ke LKP 2. Tatapannya hampir tegak lurus denganku. Sampai kemudian,

“Aaaaa!!!” jerit ibu-ibu, yang nampaknya tengah melayat.

Spontan, aku dan Bu Pipin keluar. Ada pengendara yang jatuh, rupanya. Lho, anak laki-laki itu! Ngapain juga naik motor sambil liatin LKP? -_-

“Iid! Kamu kenapa?” Bu Pipin berjalan tergopoh-gopoh ke arah anak itu.

pengalaman hari minggu belajar mengajar, bosen belajarAku tidak mengikutinya. Kulihat saja mereka dari jauh. Apalagi setelah kuyakinkan kalau si anak itu tidak apa-apa. Dia nampak bangkit dari jatuh, lalu orang-orang yang berdatangan – berkerumun, perlahan bubar. Posisi mereka diganti oleh beberapa anak laki-laki dan perempuan yang nampak sebaya dengan si pengendara. Mungkin itu teman-temannya. Aku balik kanan begitu mereka berjalan ke arah LKP.

“Dikira aku lesnya di deket SMAN Darma itu?!” kata si pengendara, yang belakangan kutahu bernama Iid.

“Enggak, Id. Kalau Minggu di sini, ” Bu Pipin yang menjawab.

“Mereka?” Aku menunjuk ke arah anak-anak yang menyalamiku satu per satu pada Bu Pipin.

“Iya, ini anak-anak les,” kata beliau, “Tapi aku cuma tahu Si Iid, kebetulan di saudara Si Bapak, yang lainnya belum kenal juga.”

“Ya sudah, ayo masuk aja!” titahku, “Kelas Bahasa Inggris di sana, komputer di sini.”

Anak-anak yang entah berapa jumlah pastinya itu terbagi. Sebagian besar memenuhi ruang Bahasa Inggris, sedangkan yang masuk ke ruanganku hanya sedikit. -_-

“Izin tiga orang, Bu, lagi rajaban,” seorang anak memberi tahu padaku.

“Oke, enggak apa-apa.”

Sebelum masuk materi, aku berkenalan dahulu. Aku juga langsung ‘memarahi’ mereka karena keterlambatan di hari pertama. Hehehe, belum juga ngajar langsung emosian, ya?

Sebenarnya hal itu nekad aku lakukan. Dengan sok bijak, aku katakan pada mereka kalau kita mesti menghargai waktu. Meski orang bilang, jam di Indonesia itu ngaret, ya kita jangan termasuk. Semua itu juga demi kebaikan bersama, sebab setelah mereka masih ada tigas kelas lainnya. Nasihat perdanaku itu, tak pelak, menjadi tamparan tersendiri. Berat juga nih, aku mesti menjadi contoh!

“Neng itu dari mana?” tanya Si Ibu pemilik rumah, yang nampaknya aku kenal.

“Dari Darma,” lalu aku menjawab secara detail, sekalian mengingatkan beliau tentang siapa aku ini.

“Ya Allah! Ini mah saudara!” pekiknya setelah ngeh tentang aku, “Pantesan dari tadi ibu liatin terus, perasaan kenal sama nih anak. Makanya nanya alamat, takut salah.”

Memang tak aku sangka, ternyata pemilik rumah itu masih ada kaitan kekeluargaan denganku. Aku pernah bertemu beliau ketika belanja dengan Mimih. Saat itulah, aku tahu kami ini masih saudara.

“Maklum ya, Mih, jarang bertemu, jadi seperti ini deh.”

“Saudaraan gimana sih?” raut Bu Pipin menyiratkan keanehan.

“Sepupuan,” jawab si ibu, yang sekarang kusebut Mimih.

Minggu perdana aku mengajar, semuanya amat mendukung. Lokasi, rekan kerja, orang sekitar dan tentu anak-anaknya, sangat nyaman dan bersahabat. Mudah-mudahan terus seperti ini. Aamiin. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *