Nasihat Dari Permainan Monopoli

Nasihat Dari Permainan Monopoli

permainan monopoli

Jelang siang, Itha mendatangi kios ibuku. Kebetulan aku pun tengah jaga, namun sendirian. Sebab, beliau tengah berbelanja. Jadi deh kami mengobrolnya hanya berdua saja. Kemana-mana topiknya. Sampai kemudian dia bercerita,

“Malam Minggu, Si X menelpon. Tapi gak aku angkat. Sekarang tuh, ngambek kali…”

“Kenapa juga gak diangkat?”

“Abis lagi asyik main monopoli sih sama adek-adek…”

“Hahaha dasar!”

Permainan monopoli… Itu memang salah-satu permainan masa dulu, yang memang, bikin lupa waktu. Kalau diantara pemainnya tak ada perjanjian mengenai durasi main, bisa-bisa semuanya lupa diri. Jadinya… walau mengasyikkan, tapi gak bijak juga kalau sampai melalaikan. Iya, ‘kan?

Singkatnya, kami menutup kios berdua. Kubiarkan ibu leluasa belanja sampai pulang duluan. Mungkin merasa tenang aku telah ditemani seseorang. Sebelum pulang ke rumah, Itha mengajak makan mie ayam.

“Duh, sebelum kamu dateng, aku baru saja melahap bakso, Tha…” demikian alasan penolakanku.

Akhirnya aku pun hanya mengantarkan Itha membeli mie ayam. Dibungkus. Lalu, kami jalan berdua menuju rumah masing-masing. Kebetulan kami memang bertetangga. Dan tepat sebelum kami menuju pintu rumah masing-masing, aku berseru,

“Main monopoli, yuk?!”

Itha berkedip-kedip lalu mengangguk-angguk.

Masih sedang memasak nasi, Itha telah datang lengkap dengan permainan monopoli dan semangkuk mie ayam. Aku memintanya menunggu. Mungkin agak lama, sebab aku mesti membersihkan bak mandi juga. Ia pun terlihat melahap mie ayam, menungguku. Mungkin karena terlalu lama, dia pun bilang,

“Aku sholat dzuhur dulu. Nanti ke sini lagi.”

“Iya maaf, ya. Jangan lupa ke sini lagi, yaaa!” kataku berseru, sebab memang tengah sibuk di kamar mandi. 😀

Aku percaya dia akan kembali, sebab kulihat permainan monopolinya tergeletak di ruang tempat kami menonton televisi. Benar saja. Sekitar pukul 14.30 dia kembali. Kami pun memulai permainan monopoli.

“Okelah, sepakat kita main sampai 17.30,” putus Itha.

Lama sekali aku tak melihat bahkan bermain monopoli. Tak ayal, aku serasa gagap monopoli. Apa-apa mesti bertanya terlebih dahulu pada Itha, ‘sang senior’. Meminta sarannya. 😀 Beruntung, dia adalah penunjuk yang baik dan sabar.

Awal-awal permainan, aku mesti menelan rasa sebal sebab aku sering tertimpa sial. Jarang sekali orang-orangan punyaku melintasi ‘start’. Alhasil, kerapkali aku tak berhak mendapatkan $200 dari bank. Terus lagi, aku kerap menapaki wilayahnya Itha dan berulang-kali masuk penjara atau mendapat denda. Jadinya pendapatanku berkurang dan pengeluaranku malah membludak. Uang-uang yang jadi modal dari bank perlahan menipis. Berbeda dengan Itha, pundi-pundinya makin tebal. Di manapun orang-orangannya menjejakkan kaki, diapun leluasa membeli.

Aku hampir bangkrut. Sampai kemudian… aku memutuskan manakala kupijak kompleks elit, perusahaan maupun bandara… aku mesti membelinya. Apapun yang terjadi, asal jangan hutang. Begitulah cara monopoli menuturkan nasihat; uang itu simpan dalam benda berharga, jangan dibuang-buang begitu saja.

Sedikit keberuntungan, aku mendapat kartu bebas penjara dari kartu kesempatan dan dana umum. Sehingga ketika uangku habis sama-sekali demi membeli kompleks Brazil dkk, Roma dkk, perusahaan listrik, Narita Airport, John F Kennedy Airport, Jakarta dan Ottawa… aku mesti menjual kartu bebas penjara dan beberapa negara kecil yang harga menginapnya juga kecil.

Hasil dari usahaku mulai menampakkan diri. Perlahan Itha mulai menyetor uang pijakannya pada beberapa aset yang kubeli. Kulihat dia membeli satu rumah, dua rumah, tiga rumah sampai hotel untuk beberapa negara kecilnya. Aku meniru gayanya. Namun aku hanya mentok sampai membeli tiga rumah. Sebab harga hotel untuk kompleks Brazil dan Roma sangatlah mahal tak terkira. Namun untungnya, Itha sering terjebak menapakkan diri di kompleks-ku. Gelontoran uang pun mulai kuraup.

Wah gak usah diceritakan dengan detail deh mengenai jumlah hartaku dan dia. Intinya aku mulai menukarkan uang menjadi $500-an, sering menginjak parkir bebas, dapet setoran dari mana-mana dengan jumlah membengkak, mulai sombong dan bikin Itha muak. 😀

“Nanti kalau aku dapet parkir bebas lagi, aku bakal nginjek perusahaan air-mu deh supaya bayar $300, itung-itung nyumbang…”

“Duh, uangnya udah banyak banget. Mesti dituker semua sama $500 nih supaya simple…”

“Oh kamu, Itha, udah lewat start saja… tinggal nyampe ke kompleks Brazil sama Roma deh. Hm.. uang lagi, nih!”

Begitulah celotehanku yang berkali-kali bikin Itha menggeram. Begitu jam menuding angka tepat 17.30, Itha menyudahi semuanya dan mengakui akulah (ehm) yang menang. 😀

Permainan usai, harta-harta kembali ke pemiliknya. Euphoria-ku atas kekayaan yang aku kumpulkan dari bawah sampai puncak ternyata hanya sementara saja. -_-‘ So… permainan monopoli menuturkan nasihat bahwa;

  • Demi mencapai puncak, kita mesti mau dan rela bersusah payah untuk mendakinya.
  • Meski sudah ‘ada yang ngatur’, tapi tetap saja kita butuh strategi.
  • Sukses karena perjuangan yang keras dan murni memang mendatangkan sensasi senang yang luar biasa.
  • Menjadi kaya setelah merasakan miskin bikin kita memiliki rasa simpati.
  • Tapi, harta bisa bikin orang berubah.

Tak lupa pula, usai hartanya kita raup… mesti diingat bahwa semua itu tidaklah abadi. Semuanya akan kembali, sebab sejatinya mereka bukanlah milik kita. [#RD]

*03 September 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *