Ngomong Soal Kerjaan

Ngomong Soal Kerjaan

bicara soal kerjaan

Keduanya boleh jadi sering kita lakukan ya, Bro-Sist. Kebetulan sekali, usai acara Agustusan kemarin … seseorang bertamu ke rumahku. Kedua kalinya dia menemuiku secara pribadi. Pertama kali datang, aku tak terlalu menanggapi. Sekarang yang kedua kali, perhatianku sedikit tergamit. Dengan nada (masih) memohon, dia bilang,

“Sambil nunggu kerjaan yang lain, saya mohon bantu saya…”

“Hmm…”

“Kamu kerja di warnet kakak saya. Beliau bilang, kamu kayaknya terbiasa mengoperasikan computer, jadi udah gak perlu training lagi…”

“Saya udah bekerja di kios ibu, Teh.. Gak bakal sempat kalo mesti kerja dari jam enam pagi sampai jelang maghrib mah,” alasanku, menegaskan ‘rasa tak setujuku’ untuk mempekerjakan orang dengan jam kerja ‘horror’ namun gaji kurang mengesankan.

“Errr… ya udah, tolong kamu carikan orang…”

“Lho, kok sama saya, Teh?”

“Soalnya kamu kayaknya banyak teman, pasti bisa cari yang kira-kira jujur, anaknya baik dan kalau perempuan… ya berjilbab gitulah..”

“Iya deh nanti saya hubungi teman, tapi gak janji ya, Teh..” kataku lagi, ragu.

Bukannya tidak mau menyebarluaskan info kerja ini, namun ada beberapa hal yang membuatku ‘tak tega’. Jam kerja, gaji, ketatnya aturan, dst membuatku berpikir beberapa kali. Jadi deh, aku galau antara menawarkannya pada teman atau pura-pura tidak mendapat orang yang cocok saja.

Akhirnya, why not, aku tawarkan pada seorang teman yang tengah membutuhkan pekerjaan usai ‘re-sign’ dari pekerjaan lamanya. Aku rasa, aku menemukan cadangan cara dari kemungkinan buruknya. Tanya-jawab aku lakukan dengan sahabatku, I. Sebisa mungkin aku tak terlalu mendorongnya untuk mau. Aku hanya menjelaskan deskripsi pekerjaannya saja.

“Ya sudah besok aku kasih jawabannya,” jawabnya, menutup diskusi via sms kami.

Esoknya, tepat jam 07.30 I bilang akan ke rumahku sekitar pukul 09.00. Aku mengiyakan saja. Tiba pukul Sembilan, dia sms telah berada di beranda rumah. Cepat-cepat aku berjalan dari kios menuju rumah. Meski cepat, tetap saja terasa telat. -_-‘

“Aku hanya nawarin. Kalau merasa keberatan atau gak betah, jangan lihat aku ini sahabatmu. Keluar saja gak perlu ragu. Dan ini hanya perusahaan warnet, gak perlu ada surat-menyurat juga kalau mau keluar. Gak ada kontrak juga. Azas kekeluargaan,” cerocosku, hanya dibalas gumaman ‘iya iya’ dari I.

Tak lama kami segera menemui Teteh pemilik warnet. Di sana, kami disambut pula oleh kakak dan ibunda beliau. Aku seperti penengah antara I dan Si Teteh. Obrolan kami seputar computer, kejujuran dalam bekerja, profesionalisme, dst. Aku tak terlalu memperhatikan, seringkali hanya mengangguk-angguk dan berdehem atau bilang ‘Iya… iya…’. Asal cepat.

“Ya udah sekarang silakan ke warnet saja. Ada seorang karyawan senior di sana. Nanti kamu bisa belajar cara operasinya kayak gimana,” Si Teteh menginstruksikan I.

I segera memboncengku, memintaku untuk berangkat ke warnet yang dimaksud berdua. Namun di tengah jalan, dia menanyakan sahabat SD kami yang lain (E).

“E ada di rumah, kok.. Ke sana, yuk?!” jawab sekaligus ajakku.

“Ke rumah E? Warnet gimana?”

“Woles lah, nanti aku sms orang yang jaganya. Dia adik kelas kita, kok..”

“Yakin?”

“Iya!”

Kami pun melintasi warnet begitu saja dan terus lurus menuju rumah E. Rasanya memang telah lama juga kami tak berkumpul bersama. Begitu kami sampai, aku dan I menuju pintu dapur dan mengetuk-ngetuk rumahnya. E yang melihat kami langsung kaget,

“Kalian?! Ihk gak ngasih tau dulu..”

Aku dan I hanya saling menatap. Khusus aku, sambil terbatuk-batuk. Ternyata E tengah membuat sambal goreng.

“Eh ada tamu.. Duh udah lama banget gak ke sini?” Ibunya E yang menyambut kami.

“Sini ke dalam. Jangan di dapur, ah. Ayo sini, ke depan!” giliran ayahnya E yang mengajak kami ke ruang tamu.

“Silakan nih cuma ala-kadarnya,” Ibunya E membuka toples-toples kue dan menyodorkan minuman.

Kami mengangguk lembut. Aku, I, ibu dan ayahnya E bercengkrama sebentar. Seputar menanyakan kabar dan berbasa-basi. Kangen sekali dengan mereka. Kalau semasa SD, hampir tiap hari kami saling mengunjungi rumah masing-masing. Tak heran, masing-masing orang tua langsung saling mengenal dan akrab. Tak lama, E datang dari belakang dan bergantian… ibu-ayah E ke belakang.

“Mana yang manis-manis, ya… hm… nih, silakan cicipi…” kata E, sambil menunjuk-nunjuk toples-toplesnya. Rupanya dia masih tahu, aku suka yang manis-manis. 😀

“Udah… udah, ke sini cuma bentar kok. Kita udah mau pulang lagi,” kataku sambil berdiri.

“Hah?” E asli melongo.

I sudah ketawa dari tadi. Tentu saja aku becanda. Sambil duduk dan minum, aku menjelaskan latar-belakang kedatangan kami yang sama-sekali tak sengaja. E yang memang pendengar baik memperhatikan detail penjelasanku dibantu I. Dia lalu tertarik mengintrogasi I yang memutuskan re-sign dari pekerjaannya di salah-satu RS di Jakarta. Dia pun mencecar I agar menceritakan pengalamannya bekerja di RS tersebut. Aku yang sudah tahu merasa bosan, menguap dan hanya menikmati hidangan saja.

“Gimana nih warnet?” setelah agak lama, I bertanya lagi.

“Ya udah yuk, pamit…” aku asli berdiri dan hendak pamit.

“Ihk bentar banget. Bukannya sengaja luangkan waktu ke sini tuh, biar lama. Seharian. Ini sih cuma mampir doang. Tiap ke sini, mesti aku yang ke tempat kamu. Gak pernah sebaliknya,” E kambuh cerewetnya.

“Iya nanti lagi. Kita pamit..”

“Sekalian aku juga pamit. Besok mau ke Bogor,” kata E lagi.

Kami bertiga berpelukan lalu pamitan ke ibu-ayahnya E. Mereka cukup kaget, kami datang hanya sebentar. Kami bilang saja ada kesibukan lain. He he he.

Aku dan I langsung menuju warnet, berdiskusi dengan seorang karyawan seniornya (Ep). Ep mempersilakan I untuk mengoperasikan computer ‘server’-nya. Dia memberi keleluasaan bagi I untuk pencet ini-itu, memperkenalkan apa itu billing, bagaimana meng-print, berapa harga jasanya, dst.

Kebetulan sekali Ep menuju toko sebelah (potokopian dan toko alat tulis, masih milik Si Teteh). Lalu, ada dua pengguna warnet yang memanggil. I terlihat cukup panic. Mengoperasikan computer memang bukan ha lasing. Dia sudah tahu. Tetapi menanggapi pelanggan dan menyelesaikan keluhan mereka menjadi hal sangat baru. Demi menenangkannya, aku yang menghampiri dua pelanggan tersebut.

“Teteh, colokan USB-nya kok gak ada?” tanya penanya 1, masih gadis. Mungkin SMP-an.

Aku melihat CPU-nya, “Ini, Neng. Di pinggir…” jawabku, lalu dia tertawa geli karena tak menyadari ada colokan USB di sana. -_-‘

“Teteh?” penanya 2, perempuan muda. Mungkin anak lulusan SMA.

“Iya, Neng?!” Aku lagi yang mendatanginya, sementara I hanya cekikikan di kursi server.

“Tulisan di blog… udah di-copy, kok gak muncul di word-nya?”

Aku memahami ‘trouble’-nya. Mungkin hal tersebut menjadi salah-satu trik sang blogger, entah untuk apa. Yang jelas, unsur ‘mengerjai’-nya itu sangat kental. Haha 😀

“Udah di-copas?” tanyaku meyakinkan.

“Udah..”

“Pasti di word?”

“Udah…”

Aku mengambil alih ‘mouse’-nya. Ku-blok semua tulisannya, lalu kuganti warna hurufnya menjadi normal. Begitu di-klik, tulisan yang ia maksud langsung muncul. Sama seperti penanya 1, ia pun tertawa.

“Duh gak tahu…”

-_-

“Nah, kalau aku yang kayak gitu, gimana? Aku gak bakal paham…” I terbata-bata mengeluh.

“Namanya juga proses. ‘Kan masih didampingi sama Ep..”

Tak lama, seorang laki-laki membayar pemakaian warnet-nya. I melihat billing menunjukkan angka seribu,

“Tadi masuknya dua kali, Teh. Pertama seribu lima ratus, terakhir seribu. Lihat di history coba, Teh. Ini…” katanya sambil menyerahkan uang Rp 5000.

“Kembaliannya jadi…” lama sekali I mengorek-orek uang kembalian, padahal jelas sekali banyak pecahan dua ribu – seribu dan gopek, “Rp. 2500.”

Setelah sang laki-laki pergi, I bilang lagi,
“Untung cowok itu bilang masuknya dua kali. Coba kalau nggak, aku gak bakal tahu. Apa lagi tuh history.. Takut, ah. Penuh resiko kerja di sini..”

Aku maklum. Sebagai orang awam, aku pun tak tahu pengoperasian billing secara utuh, termasuk mengetahui history dari penggunaan komputernya. Tak lama, Ep datang. Segera saja kujelaskan apa yang baru saja terjadi. Ep langsung mengecek computer server,

“Dia masuk tiga kali, Teh,” kata Ep cukup mengejutkan, “Bayarnya Cuma buat dua kali pake, ya? Ya udah gak apa-apa.”

“Kalau yang kayak gini, gimana?” tanya I.

“Yaaa kita yang nombokkin.”

“Tuh, ‘kan? Enggak mau ah..”

“Tenang, Teteh. Ini tanggung jawab Ep, kok. Kan Teteh belum tahu, tapi nanti mah emang mesti jeli juga sih..”

I tak membalas lagi. Namun sebagai sahabat, aku bisa melihat sorot kekhawatiran dalam matanya. Kulihat angka jam telah menuding setengah 12. Aku mohon pamit, meninggalkan I benar-benar bekerja secara mandiri. 😀

Aku ke kios sebentar. Lega ada adik, aku pergi menuju rumah kakak. Hendak membatu menjaga warung dan anak beliau. Hitung-hitung meringankan kerepotan beliau mengurus bayinya. Sambil menunggu warung beliau, aku menonton televisi. Menyaksikan Mr. Bean versi kartun memang selalu biki waktu serasa sangat cepat berlalu. 😀

HP-ku bergetar. Begitu kubuka isi sms-nya, perasaanku antara kaget, gak percaya sekaligus lucu. Pesan itu datang dari I. Tegas sekali ia memberitahu:

“Aku gak bisa lanjut kerja di sana. Ibu gak setuju, gak ada uang makan dan susah libur.”

Pencetak rekor nih anak. Tapi ya sudah, mumpung masih awal. Lagipula, aku sudah mewanti-wanti gaji yang memang kurang bisa diukurkan dengan jam kerja yang ‘wow’. Perasaanku, entah kenapa, ikut lega. Setidaknya ia telah memutuskan dengan tegas. Hitam ya hitam, putih ya putih. Gak abu-abu, gak ragu-ragu.

Beberapa setelah itu, aku menceritakannya pada N (sahabat lain).

“Wajar, sih. Sebelum kerja di sini (kios kerudung), tempat kerjaku lumayan jauh. Kerjanya sih ringan, tapi ya bête aja. Terus kalau diperhitungkan, ya mending yang sekarang ini…”

“Iya, mungkin I emang gak ‘nyaman’ juga buat kerja di sana…”

“Kerjaan itu sama kayak komitmen dan hidup buat selanjutnya. Wajar kalau I banyak pertimbangan. Kalau bisa sih kerja itu yang cocok minatnya sama kita, cocok gajinya, bikin nyaman, kalau bisa sih gak jauh dari rumah dan waktunya itu bijak lah…” begitulah dia memungkas diskusi kami tentang pekerjaan. [#RD]

*30 Agustus 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *