O, Gini Rasanya Detik-detik Jelang Sidang Skripsi?!

O, Gini Rasanya Detik-detik Jelang Sidang Skripsi?!

(Bonus Tips Supaya Tenang dan Gak Gugup)

Sabtu, 20 Juli 2013
Ibaratnya, hari ini adalah UN-nya sebagian mahasiswa/i di kampusku. Hanya saja selain tulisan, aspek lain yang bakal dipertimbangkan yaitu oral.

“Mau berangkat jamber (jam berapa)?” Seorang teman bertanya.

“Berangkat awal aja, jam 8-an,” kataku yang nomor urutnya 12.

Nyatanya, jam 8 aku baru saja selesai mandi. Kutengok ponsel, ada pesan dari F. Aneh. Padahal dia itu kebagian jadwal hari Minggu, namun isi smsnya begini:

“Lha, yang mau sidangnya mana? Aku udah di kampus nih…”

Singkat saja kujawab, “Masih di rumah.”

Setelah yakin segala sesuatunya siap, aku pun berangkat. Tak lupa kupinta doa orang tua, utamanya ibu. Sungguh, ada kelegaan luar biasa manakala aku berangkat dengan diiringi doa dari beliau. Ketika masih di jalan itu, teman-temanku memberi kabar:

“Masih di mana? Udah mau pembukaan…”

“Di jalan,” jawabku yang memang masih setengah perjalanan.

“Pembukaannya di aula, ya…”

Aku mengernyitkan dahi, tak tahu ada pembukaan segala. Ups! -_-‘ Ini contoh kurang baik, tak baik ditiru melainkan diambil pelajarannya. Heheh

Apa daya, transportasi yang kutumpangi malah ngetem. Sebal sekali. Namun lama-lama rasa sebalku reda, sebab se-marah apapun aku, toh ngetem adalah hak sang sopir. Mungkin dia ingin istirahat sejenak (dapipada maksain nyetir dalam keadaan capek? bisa lebih beresiko bagi dirinya maupun penumpang sepertiku, ‘kan?) atau… mungkin dia menghindari posisi ‘rapat’ antar sesama angkutan umum. Maklumlah, toh hal tersebut memang lumrah dijadikan strategi menjaring rezeki. Soal telat ikut pembukaan, aku pasrah. Ketidaktahuan dan santainya aku memang mutlak kesalahan pribadi. Aku mesti bersiap saja menerima konsekwensi. Phew!

Tap!

Aku sampai di kampus. Di depan gerbang, aku sempat berpapasan dengan seorang teman dan staff prodi,

“Lagi pembukaan, Neng. Di aula…”

“Oh iya, Pak…”

Aku segera ke aula. Nampak Bu Dekan tengah memberi pengarahan. Hal yang sempat kutangkap dari prakata beliau adalah…

“Kayaknya meskipun ngasih nasihat atau tips, kalian gak bakal konsen dengerin, sebab udah terlanjur tegang menghadapi sidang. Hehe… baiklah, sidang skripsi gelombang 1 FKIP prodi Bahasa Inggris resmi saya buka!”

Begitu terdengar suara ‘tok tok tok’, hadirin yang memakai jas yang sama denganku bertepuk tangan. Aku ikut-ikutan saja bertepuk tangan di kursi belakang bersama seorang teman. Rasanya aku baru saja duduk, namun pembawa acara telah menutup acaranya. Aku pun ikut bubar dari aula bersama yang lain. Hadeuh…

Kami, peserta sidang, berbondong-bondong mendekati TKP (Tempat Kejadian Perkara). Hehe… Sambil menunggu, kami mengobrol, bercanda dan sharing. Semuanya seperti saling mengalirkan semangat dan rasa optimis. Bagaimanapun, selain motivasi dari dalam diri sendiri, motivasi dari luar pun cukup mampu mengokohkan kepercayaan diri.

“Mana flash disk-nya?” tiba-tiba saja temanku, U, berdiri di sampingku sambil menenteng sebuah netbook.

“Nih, file-nya di luar, kok…” mungkin masih pagi, tanpa lola aku langsung ‘ngeh’ kalau dia meminta file slide skripsi untuk dipresentasikan saat sidang. 1 netbook untuk semua. Heu

Kebetulan urutan pertama yang hendak tampil sidang adalah Dewi, rekanku di The Deixis Team. Aku, Dewi dan Teh Pera berunding. Kami saling sharing mengenai hal-hal apa yang kira-kira bakal penguji tanyakan. Cukup lama kami saling lempar tanya dan jawaban sekaligu memberi dukungan mental. Terlebih untuk Dewi yang tak lama lagi bakal mengukir sejarah tak terlupakan dalam proses pendidikannya. Hehe

“Momen gak terlupakan, bernomor urut 1 sidang skripsi gelombang 1 FKIP prodi PBI angkatan 2009,” begitu kata Dewi. 😀

Cukup lama kami menanti para dosen penguji, melengkapi administrasi, peralatan dan penyesuaian tempat. Ketika masih asyik mengobrol, Fini lalu bilang begitu aku hendak melihat ke arah gerbang,

“Jangan nengok!”

Aku memaksakan untuk menengok. Ternyata di depan telah nampak tiga orang dosen pengujinya. Phew! Kami makin mempersiapkan fisik dan mental. Heu. Ketika itu, kebetulan aku bertemu Teh W (kakak tingkat). Segera saja kutemui beliau. Setelah salam-sapa, aku bertanya,

“Bentar lagi kebagian sidang. Ada saran buatku gak, Teh?”

Beliau segera menyebutkan 2 tips utama menghadapi sidang skripsi. Aku hanya manggut-manggut dan sangat mempertimbangkan tips tersebut. Hanya sebentar mengobrol, Teh W melanjutkan urusannya dengan Kepala Prodi. Tak lama setelah beliau berlalu, Dewi menghampiri.

“Apa kata Si Teteh yang tadi?”

“Tips buat sidang. Yang paling pertama itu tenang dan kedua, jangan terlalu banyak menerangkan teori, D.”

Singkatnya, Dewi langsung dipanggil. Aku dan Teh Pera yang malah harap-harap cemas. Kami menunggu layaknya keluarga seorang pasien yang tengah terbaring di meja operasi. Mondar-mandir ingin segera mengetahui hasil. Dan demi mengisi waktu menunggu, kami pun duduk di tepi-tepi kelas lalu kembali membaca-baca skripsi masing-masing disertai canda-tawa. Mungkin saking asyiknya bercanda, Teh Pera sampai berkomentar,

“Udah ah ketawa melulu, capek. ‘Kan energy-nya buat sidang!”

“Iya, ya… astaghfirullaahal’ adziim…” Aku seakan dapet peringatan. Siapa tahu sekarang asyik ketawa-ketiwi, tak tahunya di depan ada hal yang bikin sial. Naudzubillaaah… :0

Namun sekitar 18 menitan, dia telah keluar. Senyumnya menyiratkan rasa lega yang amat sangat. Aku senang melihat ekspresinya, setidaknya menjadi gambaran bagi kami bahwa sidang skripsi itu tidaklah menyeramkan. Hehehe

Sesuai dugaan, saat Dewi keluar dan yang nomor 2 masuk, kami berbondong-bondong mengerubutinya. Mirip para wartawan hendak mewawancara tokoh paling dibicarakan orang. 😀

“O, gini ya rasanya sidang? gak seseram yang aku duga…” berkali-kali Dewi bilang seperti itu. “Santai saja, kok!” katanya lagi.

Beruntung sekali dia. Usai presentasi di hadapan para penguji, katanya dia hanya mendapat sedikit komentar dan saran, tanpa dicecar pertanyaan yang bikin kita mematung dan hampir pingsan. Hehe…

Ngomong-ngomong, yang nomor 2 sudah hampir setengah jam ada di dalam ruang sidang. Kami pun terprovokasi untuk kembali mendengungkan ketegangan. Khusus saat pemandangan seperti ini… teman kami, R (laki-laki), nyeletuk,

“Tuh lihat dia (nunjuk ke arah Dewi yang tampil pertama)! Apa dia berlumuran darah? Nggak, ‘kan? Udah deh tenang aja, keluar dari ruang sidang juga gak bakal kurang suatu apapun…” kami tergelak dan memang sangat terhibur. 😀

Jelang sidang skripsi, memang ada beberapa tips yang bisa kita pertimbangkan agar bisa tenang dan mengurangi rasa gugup. Apa aja? Jom kita bahas! ^_^

1. Persiapan-persiapan
Persiapan itu hukumnya wajib. Sebab, kalau sampai gak persiapan, rasa gugup dijamin kan datang dengan tampang menyeramkan. Hoho

Persiapkan fisik. Jaga pola makan, istirahat dan tidak terlalu memeras diri demi sidang skripsi. Bagaimanapun, proses sidang skripsi itu butuh energy dan kesegaran jasmani kita. Tak mau rasanya jika sudah sangat susah-payah persiapan, pas hari H-nya malah tepar. -_-‘

Persiapkan pakaian, celana, flash disk, netbook atau laptop (kalau perlu) dan segala hal yang hendak dibawa ketika sidang skripsi. Persiapan ini baiknya jangan dilakukan dalam keadaan mepet. Sebab kalau-kalau ada yang lupa, tentu ada kesempatan untuk segera mempersiapkannya.

Persiapkan slide skripsi dan materi yang hendak disampaikan. Kalau skripsinya buatan sendiri, tentu tak akan banyak menemui kesulitan berarti. Namun sangat direkomendasikan untuk kembali memperdalam isi skripsinya, metodenya, desainnya, teorinya, rumusan masalahnya, cara menjawab dan menginterpretasikannya, pengumpulan datanya, hasilnya, dst. Siapkan pula point-point mana yang hendak disampaikan terlebih dahulu. Yang paling vital sih latar belakangnya, rumusan masalahnya, cara menjawabnya dan hasil analisisnya. Bisa kita susun bagaimana saat membuka presentasi, memaparkan intinya dan menutupnya.

Persiapan mental. Libatkan Allah Swt dan dukungan orang-orang terkasih, terutama orang tua. Lebih utamanya lagi, ibu. Percayalah… kalau sudah mengantongi doa dari beliau, seketika akan kita peroleh rasa lega dan ketenangan luar biasa. Motivasi dan kekuatan psikis itu… bagaimanapun, tak bisa kita sepelekan, bukan?

2. Tenang
Sesuai saran Teh W, tenang adalah suatu hal utama demi mengatasi kegugupan ketika sidang skripsi. Tarik napas panjang dan beraturan sesering mungki. Jika lemas untuk berdiri, bisa dengan duduk dan kaki terlentang lagi rileks.

3. Diam di Masa Sekarang
Salah-satu hal yang paling bikin jantung berdetak kencang adalah ‘kecurigaan negatif’ akan akan suatu hal yang bahkan belum terjadi sama-sekali. Pra-sidang, wajar adanya kita berpikir bahwa sidangnya akan ‘horror’, pengujinya akan sangar, skripsinya akan dilempar, kita akan diam sejuta bahasa, bahkan kita akan pingsan dst.

Hey… mari kembali pada masa sekarang. Lihat sekitar, berbaur dengan rekan-rekan seperjuangan, nikmati suara alam, lihat langit biru dan nikmati udara gratis sepuasnya. Sebelum pandangan buruk itu terjadi, kita masih punya banyak kesempatan untuk TIDAK mewujudkannya. Lagi-lagi, persiapan. Setidaknya, persiapan bisa membuat proses sidang kita maksimal. Dan ketenangan akan menolong supaya apa yang ada di pikiran tidak buyar.

4. Latihan
Tak ada salahnya jika kita membuat simulasi sidang skripsi. Kalau ingin fokus dan merasa tak nyaman bersama orang lain, tentu kita bisa menggunakan cermin. Toh syah-syah aja kita berbicara di depan cermin, seakan kita tengah mempresentasikan hasil dalam skripsi. Bagusnya, kita bisa juga berlatih bersama teman. Masing-masing bergiliran menjadi peserta dan penguji sidang. Keuntungannya kalau bersama teman, bisa saling memberi masukan.

5. You are not alone
Tentu saja, peserta sidang itu tak hanya kita seorang. Ada sangat banyak calon sarjana yang sama mendegupkan jantung demi menghadapi sidang skripsi. Belum teman seangkatan, kampus tetangga, kampus se-provinsi, kampus nasional dst. Ya, perhatian dunia tak terfokus pada kita saja. Heheh. Sangat dianjurkan deh kalau saling mendukung, saling menjadi bahu sandaran, saling menyemangati dan saling mensugestikan hal-hal positif.

6. Sharing Dengan Kakak Tingkat
Jelang sidang skripsi, tak ada salahnya kita berbincang dengan kakak tingkat. Mereka tentu telah berpengalaman menunaikan tugas akhir berupa sidang. Biasanya mereka akan memberi bocoran mengenai kebiasaan dosen yang biasa menguji beserta masukan untuk menghadapi mereka. Selain itu, kita juga jadi bisa tahu gambaran mengenai bagaimana itu sidang skripsi si kampus sendiri.

7. Berdoa
Inilah yang terpenting. Doa menjadi ‘kekuatan lain’ yang menyokong suatu usaha. Doa menjadi bukti bahwa kita ini kerdil di hadapan Allah Swt. Dan doa pula yang bisa membuat kita disayang pencipta. Jadi apapun hasilnya, kalau sudah berdoa, entahlah… serasa ada yang memeluk dan menguatkan. Membikin tegar.

Kalau persiapan fisik dan materi ditambah pula dengan keadaan bathin yang utuh, mantep banget tuh! ^_^

Nah… mudah-mudahan Allah Swt menjernihkan hati, menerangkan pikiran dan melancarkan proses sidang skripsi para mahasiswa/i, dimanapun berada. Aamiin…. [#RD]

Gambar: Google Image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *