Obrolan Inspiratif dengan Ibunda Rabilla

Obrolan Inspiratif dengan Ibunda Rabilla

Obrolan inspiratif

Aku belum ke menanggalkan kerudung pas sampai rumah, bahkan masuk kamar. Hari sudah senja ketika aku pulang dari bepergian. Namun ketika aku hendak melucuti pelindung mahkota itu, kakakku bilang,

“Liat De Rabila dulu, yuk?”

“Belum mandi, belum sholat. Nanti aja.”

“Nanti keburu sore banget, malah mumpung masih dikerudung?”

Melihatnya antusiasnya, aku mengalah. Aku juga memang berniat menyampaikan amanah seorang sahabat. Dia menitipkan amplop khusus De Rabila, minta didoakan dan titip salam juga. Kebetulan sahabatku yang baik itu tengah dilanda sakit, sehingga tidak bisa datang langsung.

Sekitar jam lima sore, kami berjalan menuju rumah De Rabilla. Tempatnya hanya terpaut satu rumah, jadi tak sampai lama, kami sudah sampai.

Ketika aku masuk, nampak ada seorang tamu. Aku dan kakak langsung gabung. Dari obrolan yang bergulir, kutahu beliau adalah temannya si bunda Rabila. Laki-laki itu adalah PR (Public Relation) sebuah provider ternama dan berniat membuat proposal demi membantu Si Dede.

“Saya sih malu sudah merepotkan orang banyak, tapi mau bagaimana lagi, saya memang berpacu dengan waktu,” tutur Sang Bunda, sementara De Rabila nampak nyaman di atas pangkuannya. Gadis mungil itu bahkan kerap menolak ajakan bibinya, agar sang bibi menggendongnya. Ia tetap melekat di tangan bundanya.

“Iya, Teh. Lagipula Teteh ‘kan udah berusaha habis-habisan, gak tinggal diam,” kataku.

“Iya. Sudah kurang lebih dua ratusan juta kami kerahkan demi Rabila. Kini keuangan kami benar-benar menipis. Ada kesempatan, mesti ke India. Mana harus tersedia limaratusjuta?” katanya lagi, namun tak terdengar seperti keluhan, “Ini juga kami tak henti berterima kasih, masih ada orang yang tiba-tiba percaya dan mengirim bantuan.”

Aku dan kakak tak banyak bicara atau menyela penuturan Bunda Rabila. Kakakku hanya bilang,

“Mau bagaimana lagi. Semua ini adalah ujian dan kita tak pernah mengharapkan kedatangannya.”

Rabila bocah penderita retinoblastoma, retinoblastoma pdf, makalah retinoblastoma, penyakit retinoblastoma, askep retinoblastoma, retinoblastoma ppt, askep retinoblastoma pada anak, retinoblastoma scribd, penyebab retinoblastoma

“Dokter sampai bilang, ‘ibu jangan harap punya anak kedua, ketiga, keempat dst setelah Rabila. Kalau memang pingin punya anak, maka ibu dan suami mesti melalui serangkaian pemeriksaan’,” Sang Bunda memaparkan, “Makanya Teteh mau mempertahankan Rabila sampai batas kemampuan. Dia ini adalah amanah, rezeki. Mau menghadirkannya saja mesti mempertaruhkan nyawa!” katanya lagi sambil menciumi Rabila yang matanya memerah.

“Teh, emang Dede Bila suka mengeluh gimana? Matanya sakit? Pusing? atau gimana?” Aku penasaran.

Sang Bunda menggelengkan kepala, “Dia gak pernah mengeluh, paling mengerjap-ngerjapkan mata. Sudah. Kalau ditanya sama bibi-bibinya, ‘De Bila sakit?’, Si Dede menggeleng. Pas ditanya lagi, Si Dede jawab ‘engga!’. Kalau pertanyaannya diulang-ulang, jawaban ‘engga-nya’ Si Dede bakal lebih keras, bahkan Si Dede bisa sampai nimpuk orang yang nanya.”

Ada sesuatu yang tiba-tiba menggelincir dalam dadaku. Betapa bocah seperti dirinya sudah dihadapkan pada rasa sakit, derita dan berusaha bersikap ikhlas, menerima keadaan juga pantang mengeluh.

Obrolan kami menusuk ke sana-sini, termasuk pada respon pemerintah. Selama ini memang kurang memuaskan. Aku ingin menegaskan kekecewaan Bunda Rabila, bahwa kini dia tidak sedang perlu kata-kata yang normatif, melainkan dana, doa dan cara mengajukan bantuan. Pada siapa dan bagaimana prosedurnya. Tidak lagi kata-kata semacam ‘kasian sekali…’, ‘asal sembuh lagi aja’, ‘sabar, ya’. Tidak sebatas itu.

“Iya Teteh ucapkan terima kasih sama yang sudah mendoakan, tapi yang terpenting sekarang adalah bergerak. Teteh benar-benar sedang berlomba dengan waktu, mengumpulkan dana pengobatan untuk Rabilla.”

Aku melihat ada bara di balik matanya. Meski nominal uang yang masuk ke rekeningnya belum menyentuh angka limapuluhjuta saja, dia masih terus berusaha dan membumbungkan asa. Seolah tak ada hal lain yang ia pedulikan selain mempertahankan satu-satunya sang buah cinta.

obrolan inspiratif, inspirasi, inspiratif

“Teteh juga hobi nulis, ya nulis diary, bikin cerpen, novel, tapi sebatas menyalurkan apa yang di pendam hati gitu,” katanya lagi, bikin dahiku mengernyit, “Terima kasih sudah menulis tentang kami dan mempublikasikannya,” ucapnya, sedikit menohok. Aku malu untuk menulis bagian ini, sebenarnya. Aku sudah berbuat apa? cuma bisa membagikan sepenggal kisahnya. Tapi begitulah yang dia ucapkan dan aku berharap, banyak uluran tangan yang lebih berpengaruh untuk kesembuhan De Rabila, ketimbang tulisanku.

“Dokternya sampai keheranan, kok bisa-bisanya Rabilla masih melihat, padahal keadaan matanya sudah begini,” tambahnya lagi, sementara aku terlalu rapuh untuk menatap Rabilla lama-lama. Lebih lagi adik sang bunda, alias pamannya Rabilla, juga tengah terkapar karena sakit yang juga cukup parah.

Kebersamaan kami sangat singkat. Hari sudah sangat temaram dan aku khawatir, belum menegakkan kewajiban sholat ashar. Kamipun menyerahkan uang patungan yang tak seberapa, sekaligus kuhaturkan titipan sahabatku. Tak lupa kusampaikan salam dan permohonan doanya, agar memeroleh kesehatan, kelancaran bisnis dan kebahagiaan.

“Aamiin, aamiin,” Sang Bunda meng-aamiin-kan beberapa kali.

“Ya Allah…”

Aku menyaksikan dan mengakui betapa tangguhnya Rabila dan Sang Bunda. Mudah-mudahan Allah Swt memberi kemudahan dan keberkahan pada usaha penyembuhan bocah malang itu. Aamiin. [#RD]

*29 Juni 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *